Posted on

Lembaga Sosial: Pengertian, Contoh, Bentuk dan Fungsi

pengertian lembaga sosial

Masyarakat mampu bertahan hidup dengan norma, adat dan tatanan yang tercipta. Norma, adat dan tatanan yang disepakati dalam kehidupan bermasyarakat ini tercipta karena adanya saling keterkaitan.

Masyarakat bisa saling berhubungan dan menjaga keterikatan yang dimiliki karena adanya kesadaran dan selama ada dukungan. Dukungan itu bisa didapatkan dari adanya sebuah lembaga sosial.

Ya, lembaga sosial sosial dapat didefinisikan sebagai sistem organisasi yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sosial dasar dengan menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk menghubungkan semua lapisan masyarakat.

Pengertian Lembaga Sosial

Lembaga sosial merupakan sekumpulan norma, adat atau tata cara yang mempunyai tujuan untuk mengatur tindak tanduk seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Sekumpulan norma yang tercipta ini dibentuk sendiri atas kesepakatan masyarakat dan saling dijaga dan dilaksanakan.

Tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa norma harus paten. Norma-norma ini bisa diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat itu sendiri. Sekumpulan norma disusun agar bisa mempengaruhi semua golongan masyarakat agar tetap menjaga harmonisasi kehidupan bermasyarakat.

Nah, hadirnya lembaga sosial di tengah masyarakat ini berupaya untuk mengatur seperti apa dan bagaimana cara yang harus dilakukan oleh seseorang dalam hidup bermasyarakat. Baik itu mengenai perilaku, sopan santun atau kegiatannya sehari-hari, semua diatur dalam lembaga sosial.

Namun lembaga sosial tidak harus diartikan sebagai sebuah organisasi atau institusi ya! Lembaga sosial adalah seperangkat atau sekumpulan norma yang diakui oleh masyarakat dan menjadi pedoman berperilaku.

Kata lembaga sendiri lebih merujuk kepada proses pembentukan norma yang didasarkan pada perilaku aktivitas masyarakat sebagaimana mestinya yang kemudian menjadi pedoman hidup masyarakat itu sendiri.

Lembaga sosial menentukan “aturan main” yang mengatur kehidupan sosial dan memfasilitasi berfungsinya sistem sosial.

Baca juga: Jenis Lembaga Sosial

Contoh Lembaga Sosial

Ada banyak sekali beberapa contoh lembaga sosial. Misal, adanya lembaga kesehatan Indonesia. Lembaga kesehatan ini tentunya mempunyai visi dan misi untuk mengatur anggotanya.

Lembaga kesehatan berusaha untuk memperkuat sistem perawatan kesehatan, menyebarluaskan informasi kesehatan dengan menyelenggarakan lokakarya, seminar dan konferensi tingkat nasional.

Untuk merealisasikan tujuan, umumnya semua lembaga kesehatan akan bergerak untuk mendukung visinya seperti mengembangkan kebijakan, peraturan, pedoman dan program untuk meningkatkan sistem kerja dan mengembangkan tenaga kesehatan yang kompeten.

Selain lembaga kesehatan, ada juga lembaga sosial di bidang pendidikan. Ada banyak sekali yayasan pendidikan di Indonesia yang membangun sekolah-sekolah di berbagai daerah sebagai upaya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Yayasan yang mendirikan sekolah pasti selalu mempunyai visi dan misi untuk dilaksanakan dan dipatuhi.

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial

Lembaga sosial sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk, di antaranya adalah:

1.     Lembaga Keluarga

Keluarga adalah lembaga sosial yang paling fundamental dan menjadi pijakan dasar orang untuk berperilaku dalam masyarakat. Proses pelembagaan ini dimulai dari pernikahan yang kemudian melahirkan keluarga kecil. Setidaknya ada 3 fungsi utama lembaga keluarga dalam sebuah masyarakat, di antaranya adalah:

  • Reproduksi

Reproduksi adalah proses biologis di mana suatu organisme menghasilkan keturunan yang secara biologis mirip dengan organisme. Reproduksi menjamin kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi dan itu adalah ciri utama kehidupan di bumi.

  • Afeksi

Afeksi biasanya diidentikkan dengan emosi, tetapi sebenarnya afeksi adalah sebuah proses saling mengasihi masing-masing anggota keluarga satu sama lain.

  • Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses seumur hidup seseorang mempelajari nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat tertentu.

Baca juga: Pengendalian Sosial

2.     Lembaga Politik

Lembaga politik mempunyai wewenang secara khusus untuk melaksanakan otoritasnya pada suatu daerah. Pemerintah adalah salah satu contoh dari alat lembaga politik yang mempunyai wewenang untuk mengatur masyarakat.

Tujuan dari adanya lembaga politik adalah berusaha untuk memberikan pelayanaan sosial yang memuaskan bagi masyarakat, membantu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menjaga keharmonisan semua lapisan masyarakat.

3.     Lembaga Pendidikan

Mendapatkan pendidikan yang layak sebenarnya adalah hak oleh semua warga negara. Adanya pendidikan bisa memberikan anak-anak ilmu dan pengetahuan yang sangat bermanfaat untuk ia melangsungkan kehidupannya.

Lembaga pendidikan adalah contoh dari upaya untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan kepada semua anak di berbagai penjuru Indonesia. Ada dua lembaga pendidikan yang terbagi dalam 2 jenis, yakni dengan fungsinya yang dirasakan secara langsung (manifes) dan lembaga pendidikan dengan fungsi yang tidak dirasakan secara langsung atau tersembunyi (laten).

4.     Lembaga Agama

Agama adalah sebuah bentuk kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat dan mempunyai beberapa praktik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga agama hadir untuk menjembatani masyarakat yang merasa kesulitan dalam menjalankan praktik agamanya.

Lembaga agama juga mengatur bagaimana seharusnya masyarakat menjalin hubungan kepada sesamanya, Tuhan dan juga lingkungan ia tinggal.

5.     Lembaga hukum

Lembaga hukum hadir sebagai media untuk menjaga interaksi semua lapisan masyarakat agar selalu rukun dan terjaga. Lembaga hukum juga berfungsi untuk mengatur pola hidup masyarakat untuk taat pada setiap peraturan atau undang-undang yang berlaku di daerah.

Salah satu contoh lembaga hukum adalah polisi. Sebagai lembaga hukum, sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga dan menertibkan masyarakat.

6.     Lembaga Ekonomi

Terakhir, ada lembaga ekonomi yang berupaya untuk mengelola kebutuhan setiap manusia mulai dari proses produksi, pendistribusian dan konsumsi. Hadirnya lembaga ekonomi sangatlah penting dalam kehidupan masyarakat karena tanpa adanya lembaga ini, maka kebutuhan pokok manusia akan sulit dipenuhi.

Fungsi Lembaga Sosial

Lalu apa sih sebenarnya fungsi dari adanya lembaga sosial itu sendiri? Setidaknya, kehadiran lembaga sosial mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut:

1.     Sebagai Pedoman Masyarakat untuk Bertindak

Lembaga sosial hadir untuk menjadi pedoman antar individu atau kelompok dalam sebuah masyarakat agar bertindak sebagaimana norma yang berlaku. Setiap orang dalam masyarakat harus mematuhi semua peraturan yang telah disepakati bersama dan lembaga sosial ini berupaya menjadi pedoman yang dipegang oleh semua anggota masyarakat.

2.     Menjaga Keharmonisan

Sebuah hubungan antar kelompok dalam masyarakat bisa tercipta selama lembaga sosial hadir untuk menjaga kepentingan dan tujuan bersama. Saat masyarakat mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama, maka rasa persatuan akan terjalin.

Lembaga sosial sangat berperan menjaga keharmonisan semua golongan masyarakat. Apapun yang membawa perpecahan dan pertikaian, adanya lembaga sosial hadir sebagai media untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,

3.     Menjadi Kendali atas Tindak Laku Masyarakat

Lembaga sosial juga mempunyai peran penting sebagai kendali dalam kehidupan masyarakat yang tidak memenuhi norma yang berlaku. Lembaga sosial memberikan sanksi atau hukuman kepada siapapun warga yang mungkin melanggar norma yang telah disepakati.

4.     Stabilisator

Sebuah kehidupan masyarakat tidak akan berjalan harmonis tanpa adanya penyeimbang atau stabilisator. Nah, fungsi dari lembaga sosial adalah menjadi stabilisator dalam masyarakat. Sehingga jika ada masalah apapun yang terjadi dalam masyarakat, maka lembaga sosial adalah penyeimbang untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Masih ada banyak lagi fungsi-fungsi dari adanya lembaga sosial di masyarakat. Namun yang jelas, tanpa adanya lembaga sosial, maka bisa jadi keutuhan bangsa Indonesia akan sulit sekali diwujudkan.

Posted on

5 Jenis Lembaga Sosial

jenis lembaga sosial

Manusia merupakan makhluk hidup sosial yang membutuhkan manusia lainnya untuk hidup. Oleh karena itu, keberadaan lembaga sosial masyarakat memiliki peran yang sangat penting untuk manusia. Tanpa disadari bahwa sejak lahir semua orang sudah masuk ke dalam suatu lembaga sosial yaitu keluarga.

Untuk menjadi bagian dari lembaga sosial setiap orang tidak perlu mendaftarkan diri secara resmi. Anggota resmi dari lembaga merupakan seseorang yang memiliki peranan langsung dalam melakukan kerja lembaga sosial. Salah satu contoh yang paling mudah adalah keluarga dan sekolah.

5 Jenis Lembaga Sosial Masyarakat

Di Indonesia terdapat beberapa jenis lembaga sosial yang memiliki peran masing-masing. Setiap lembaga sosial memiliki tugas dan aturan yang berbeda. Berikut merupakan 5 jenis lembaga sosial masyarakat, yaitu:

1. Lembaga Keluarga

Lembaga keluarga adalah lembaga paling dasar yang terdiri dari anggota inti keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak-anak. Ayah memiliki peran sebagai kepala rumah tangga dari lembaga keluarga tersebut. Sementara itu, ibu memiliki tugas sebagai wakil kepala, sekretaris, dan bendahara. Anak-anak merupakan anggota dari lembaga keluarga.

Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dimasuki setiap orang. Suksesnya seseorang juga bisa dilihat dari lembaga keluarganya. Keluarga dikatakan sebagai sebuah lembaga, karena di dalam keluarga terdapat aturan yang perlu dipatuhi oleh setiap anggota. Contohnya, aturan pulang malam untuk anak-anak atau aturan lainnya.

Lembaga keluarga memiliki fungsi yang cukup banyak dalam kehidupan. Berikut merupakan beberapa fungsi dari lembaga keluarga, yaitu:

Fungsi Reproduksi

Pembentukan keluarga didasari dengan keinginan untuk memperoleh keturunan yang bisa menjadi penerus keluarga. Di dalam lembaga keluarga, individu memiliki sebuah ikatan yang ada pada sebuah himpunan yang diakui oleh sosial dan menjadikan individu tersebut menjadi karakter dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada pelaksanaannya, bukan kebutuhan seksual yang mendasari pembentukan lembaga keluarga. Namun, suatu hubungan timbal balik yang menguntungkan individu tersebut, secara sosial maupun psikologis.

Baca juga: Nilai Sosial

Fungsi Ekonomi

Berada dalam keluarga akan memberikan jaminan mengenai aspek ekonomi. Seseorang bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarga. Adanya anggota keluarga yang lain akan memunculkan motivasi untuk bekerja membuat keluarga menjadi bahagia.

Fungsi Proteksi

Lembaga keluarga memiliki peran untuk menyediakan perlindungan untuk setiap anggota keluarga yang ada di dalamnya. Individu yang bersangkutan juga memiliki hak serta keleluasaan. Oleh karena itu, individu lainnya tidak bisa mengatur kehidupan anggota keluarga dengan seenaknya, kecuali terjalin sebuah komunikasi dan kompromi yang disepakati.

Fungsi Sosialisasi

Manusia mulai belajar untuk melakukan sosialisasi dalam lingkungan keluarga, sehingga manusia dapat tumbuh dan melakukan sosialisasi di lingkungan yang lebih luas.

Fungsi Afeksi

Sebuah kehangatan diharapkan dapat tercipta di dalam keluarga. Perasaan nyaman yang diperoleh dalam keluarga akan memberikan hal yang positif untuk setiap anggota.

Baca juga: Pengendalian Sosial

Fungsi Pengawasan Sosial

Lembaga sosial keluarga memiliki kontribusi dalam mengawasi setiap anggota keluarga.

Fungsi Aktualisasi Diri

Salah satu peran penting keluarga adalah mendukung perkembangan anggota agar terbentuk sebuah jati diri yang baik dalam individu.

2. Lembaga Ekonomi

Lembaga ekonomi merupakan sebuah lembaga yang terdapat dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kaitan dengan ekonomi. Tujuan dari adanya lembaga ekonomi adalah agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan ekonomi dengan baik. Lembaga ekonomi hadir sebagai pedoman dan jawaban agar kehidupan perekonomian masyarakat bisa berlangsung secara stabil.

Kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam lembaga ekonomi, seperti kegiatan transaksi jual beli, perdagangan, dan ketenagakerjaan. Contoh lembaga ekonomi yang ada di Indonesia yaitu bank, perusahaan, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Swasta, dan lembaga lainnya.

Lembaga ekonomi memiliki peran dalam mengatur hubungan masyarakat dengan bisnis. Prinsip yang dijalankan yaitu cara pengoptimalan hasil dengan modal yang tersedia, bukan memperoleh laba dengan modal yang kecil. Karena, pada dasarnya keuntungan yang besar bisa diperoleh dengan modal yang besar juga.

Beberapa fungsi lembaga ekonomi, yaitu:

  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai ketenagakerjaan.
  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai cara memperoleh bahan baku atau barang.
  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai harga jual di pasar.
  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai pertukaran barang.

3. Lembaga Agama

Lembaga agama merupakan sebuah lembaga yang berhubungan dengan sebuah agama tertentu dan setiap anggota percaya dengan agama yang sama. Anggota yang tergabung dalam lembaga agama bisa melakukan banyak kegiatan bermanfaat atas nama agama. Tujuan dari keberadaan lembaga agama yaitu untuk mempererat hubungan dan persatuan umat beragama.

Lembaga agama adalah sistem keyakinan serta praktik keagamaan yang berada dalam kehidupan bermasyarakat. Agama diartikan sebagai suatu sistem atau ajaran yang mengatur mengenai keimanan serta ibadah kepada Tuhan dan hubungan dengan manusia.

Keberadaan lembaga agama memiliki berbagai fungsi. Berikut merupakan fungsi dari lembaga agama, yaitu:

  1. Memberikan identitas kepada masyarakat sebagai bagian dari suatu agama. Misalnya, umat Islam, Hindu, Kristen, Buddha, dan Khong Hu Chu.
  2. Pedoman hidup yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok.
  3. Pedoman perasaan keyakinan. Siapa saja yang berbuat baik maka akan memperoleh pahala dari Tuhan.
  4. Tuntunan sebuah prinsip benar atau salah untuk menjauhi berbagai perilaku buruk, seperti mencuri atau membunuh.
  5. Pedoman keberadaan yaitu keberadaan alam semesta beserta segala isinya merupakan hal yang harus diterima dengan baik dan penuh syukur.
  6. Pengungkapan keindahan yang dapat diwujudkan dengan pembuatan rumah ibadah yang indah dan megah.

Baca juga: Interaksi Sosial

4. Lembaga Politik

Lembaga politik merupakan lembaga sosial yang keberadaannya berhubungan dengan penanganan masalah mengenai aturan, tata tertib, atau administrasi. Lembaga politik membantu masyarakat dalam berbagai aspek serta menjadi wadah untuk berkumpul individu-individu yang memiliki tujuan serupa dalam hal politik.

Contoh lembaga politik di Indonesia misalnya DPR yang memiliki peran sebagai wakil rakyat yang berada di pemerintahan pusat. Fungsi dari keberadaan lembaga politik, yaitu:

  1. Sebagai pengontrol jika ada konflik yang terjadi.
  2. Menyelenggarakan sebuah pelayanan untuk masyarakat.
  3. Mengatur berbagai norma mengenai kekuasaan menggunakan undang-undang.

Pada dasarnya politik merupakan sebuah cara dan tempat untuk orang yang berhubungan dengan kekuasaan.

5. Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan merupakan sebuah lembaga yang memiliki fokus terhadap pendidikan. Lembaga ini menjadi sarana dan tempat belajar mengajar yang anggotanya dididik untuk menjadi seorang individu yang lebih baik. Interaksi antar anggota yang terjadi dalam lembaga pendidikan membuat lembaga tersebut berperan secara baik.

Hadirnya lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk bisa bertanggung jawab mengenai terselenggaranya suatu pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap anggota perlu memelihara lembaga pendidikan dengan baik, karena fungsinya yang penting untuk kemajuan masyarakat. Beberapa fungsi lembaga pendidikan, yaitu:

  1. Mengembangkan potensi yang ada pada anggota agar bisa tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik.
  2. Memberikan pendidikan berupa ilmu pengetahuan serta keterampilan.
  3. Sebagai sarana untuk melestarikan budaya yang dimiliki dengan cara mengajarkan kebudayaan tersebut kepada anggota.
  4. Menumbuhkan cara berpikir yang rasional.

Kehadiran lembaga sosial masyarakat dalam kehidupan memiliki tujuan untuk membentuk manusia sebagai suatu individu atau bagian dari kelompok yang utuh. Setiap anggota lembaga sosial perlu melakukan tugas dengan baik agar peran lembaga sosial bisa berlangsung secara baik untuk setiap masyarakat.

Posted on

Mobilitas Sosial: Pengertian, Dampak, Contoh dan Faktor Pendorong

contoh mobilitas sosial

Kesenjangan sosial adalah keadaan yang nyata pada kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya, pada realita kehidupan terdapat hierarki sosial yang digambarkan sebagai suatu tangga. Ada kelompok masyarakat yang berada di tangga bawah, tengah, dan atas. Ada mobilitas sosial yang dikenal sebagai mobilitas sosial antargenerasi atau intragenerasi.

Individu-individu yang sedang berusaha untuk mengubah posisi sosialnya bisa dikatakan sebagai mobilitas sosial. Tidak hanya berubah ke tingkat yang lebih tinggi, mobilitas sosial bisa berubah ke tingkat yang lebih rendah atau pindah posisi pada strata yang sama.

Pengertian Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial atau social mobility merupakan gerak perpindahan individu atau kelompok masyarakat dari satu lapisan ke lapisan lainnya atau gerak pindah dari satu kelas sosial ke kelas lainnya. Perpindahan yang terjadi bisa berupa peningkatan atau penurunan status sosial, meliputi pekerjaan atau penghasilan.

Baca juga: Stratifikasi Sosial

Dampak Mobilitas Sosial

Terjadinya mobilitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat memiliki beberapa dampak. Dampak mobilitas sosial yang terjadi bisa berupa dampak yang berpengaruh baik (positif) atau berpengaruh buruk (negatif). Berikut adalah dampak yang ditimbulkan akibat mobilitas sosial, yaitu:

Dampak Positif

  • Perubahan sosial masyarakat agar menjadi lebih maju dan berkembang berlangsung lebih cepat.
  • Mendorong terjadinya integrasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
  • Timbulnya keinginan pada individu untuk memperbaiki kehidupannya saat ini.

Dampak Negatif

  • Ikatan sosial dan solidaritas di antara kelompok masyarakat menjadi berkurang.
  • Adanya kompetisi yang tidak sesuai atau timpang.
  • Timbul konflik sosial antar individu dengan kelas yang berbeda atau antar kelompok dengan latar belakang yang berbeda. Seperti, perbedaan etnis, ras, suku, agama, bahkan generasi.
  • Adanya kecemasan dan ketakutan yang timbul sebagai bentuk gejala psikologis.

Jenis Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yang berbeda, mobilitas sosial vertikal dan mobilitas sosial horizontal. Berikut adalah penjelasan masing-masing jenis mobilitas sosial, yaitu:

Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial vertikal merupakan perpindahan yang terjadi pada individu atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang memiliki derajat berbeda. Perpindahan tersebut bisa ke strata yang lebih tinggi (social climbing) atau ke strata yang lebih rendah (social sinking).

Kedudukan sosial yang dimiliki seseorang tidak selamanya tetap dan bisa mengalami perubahan. Misalnya, karyawan yang tidak ingin menjadi bawahan seterusnya akan berusaha untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.

Terdapat ciri-ciri mobilitas sosial vertikal, yaitu:

  • Setiap warga masyarakat pada suatu negara memiliki kedudukan hukum yang sama.
  • Masyarakat yang bersangkutan merupakan masyarakat yang terbuka. Artinya, setiap kelas sosial yang ada pada kehidupan masyarakat tidak menutup kemungkinan terjadinya kenaikan atau penurunan kedudukan individu dalam masyarakat.
  • Perpindahan naik ke lapisan kedudukan yang lebih tinggi membutuhkan kemampuan individu dalam mengatasi proses pemilihan yang semakin susah.

Mobilitas sosial vertikal bisa terjadi pada orang yang sama atau keturunannya. Mobilitas vertikal intragenerasi adalah mobilitas sosial yang dilakukan oleh orang atau kelompok yang sama. Sementara itu, mobilitas sosial antargenerasi (intergenerasi) adalah mobilitas sosial yang dilakukan oleh keturunan, seperti anak atau cucu.

Baca juga: Kesenjangan Sosial

Mobilitas Sosial Horizontal

Mobilitas sosial horizontal terjadi ketika adanya perubahan kedudukan pada strata yang sama. Kedudukan individu bisa berubah naik atau turun pada strata yang sama. Perubahan terjadi tanpa adanya perubahan kedudukan individu tersebut, namun peran yang dipegang individu tersebut bisa berubah.

Apabila dihubungkan dengan gaji seseorang, maka mobilitas sosial horizontal tidak memengaruhi gaji. Walaupun pergeseran yang terjadi tidak menaikkan atau menurunkan posisi individu tersebut, namun bisa saja individu menghadapi beberapa kesulitan dalam melaksanakan tugas yang baru.

Misalnya, individu tersebut harus mempelajari beberapa hal dari awal atau melakukan penyesuaian dengan kelompok baru. Perubahan yang terjadi pada orang yang sama dikenal juga sebagai mobilitas sosial horizontal intragenerasi.

Selain intragenerasi, mobilitas sosial horizontal antargenerasi atau intergenerasi juga dapat terjadi. Jika orang tua dan anak memiliki pekerjaan yang berbeda dengan kedudukan sosial yang sama. Artinya, suatu generasi tidak menurunkan segalanya pada generasi selanjutnya.

Contoh Mobilitas Sosial Intragenerasi dan Mobilitas Sosial Antargenerasi

Banyak contoh kejadian mobilitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut merupakan beberapa contoh mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat, yaitu:

Mobilitas Sosial Vertikal Intragenerasi

  • Seorang guru fisika di SMA X telah bekerja cukup lama dan memiliki prestasi dan pangkat yang memenuhi, akhirnya memperoleh promosi jabatan menjadi kepala sekolah.
  • Seorang lurah yang memperoleh dukungan dari masyarakat, kemudian terpilih menjadi seorang bupati setelah mencalonkan diri.

Mobilitas Sosial Vertikal Antargenerasi

  • Seorang bapak memiliki usaha yang sukses di sebuah kota, namun anaknya memilih untuk menjadi seorang guru honorer.
  • Seorang ibu yang merupakan pedagang sayur keliling menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Anaknya bekerja di suatu perusahaan di kota besar.

Mobilitas Sosial Horizontal Intragenerasi

  • Seseorang yang bekerja sebagai manajer operasional dipindahkan menjadi manajer keuangan. Orang tersebut tetap memiliki gaji yang sama, walaupun melakukan tugas yang berbeda.
  • Seorang pegawai bank di kota X dipindahkan ke kota Y. Pegawai bank tersebut tidak mengalami perubahan jabatan, namun hanya berubah tempat kerja.

Mobilitas Sosial Horizontal Antargenerasi

  • Seorang ibu memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri di kantor pemerintah dan anaknya merupakan guru tetap di SMA negeri. Ibu dan anak tersebut memiliki kedudukan atau tingkat yang sama, namun peran yang dijalankannya berbeda.
  • Seorang ayah bekerja sebagai petani dengan lahan yang luas dan termasuk ke dalam golongan kelas menengah di masyarakatnya. Sementara itu, anaknya memilih menjadi seorang pedagang sukses di pasar. Ayah dan anak tersebut berada pada kelas sosial menengah di masyarakat.

Faktor Pendorong

Mobilitas sosial dapat terjadi dengan adanya beberapa faktor pendorong. Faktor pendorong tersebut akan memudahkan individu atau kelompok untuk melakukan mobilitas sosial.

Status Sosial

Individu yang berada pada status sosial rendah cenderung merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini. Hal tersebut menjadi faktor pendorong untuk melakukan mobilitas sosial untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi.

Keadaan Ekonomi

Situasi ekonomi yang positif akan mendorong seseorang untuk melakukan mobilitas sosial. Misalnya, menjalankan bisnis baru.

Kondisi Sosial Budaya

Situasi sosial budaya yang terdapat pada suatu wilayah bisa dilihat dari karakteristik penduduk wilayah tersebut. Jika karakteristik penduduk cenderung terbuka pada perubahan, artinya penduduk pada wilayah tersebut lebih mudah melakukan kegiatan mobilitas sosial.

Kondisi Politik

Situasi politik yang baik akan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial. Contohnya, pada negara demokrasi setiap individu diberikan kebebasan dalam menentukan kehidupannya.

Kondisi Geografis

Jika dilihat dari keadaan geografis, wilayah perkotaan cenderung menarik banyak individu untuk melakukan mobilitas sosial. Hal tersebut disebabkan adanya anggapan kota besar menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.

Latar Belakang Etnis

Beberapa etnis tertentu mengharuskan anak-anaknya merantau ke luar wilayah agar bisa melakukan mobilitas sosial.

Selain memiliki dampak yang positif, mobilitas sosial juga menimbulkan beberapa dampak negatif. Keinginan seseorang saja tidak cukup untuk melakukan mobilitas sosial, terdapat beberapa faktor penghambat yang mengakibatkan individu sulit melakukan perpindahan tingkatan.

Posted on

10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

faktor penghambat perubahan sosial

Terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat diakibatkan adanya faktor pendukung untuk mewujudkannya. Namun, selain itu perubahan sosial juga bisa sulit terjadi karena adanya faktor penghambat perubahan sosial dalam masyarakat. Walaupun saat ini zaman sudah modern, namun masih banyak masyarakat yang menolak untuk mengikuti hal tersebut.

Pemikiran masyarakat yang sulit berubah akan menghambat terjadinya perubahan sosial. Hal tersebut terjadi karena sebagian masyarakat merasa bahwa perubahan sosial yang terjadi akan memiliki dampak yang buruk. Sehingga, masyarakat menolak sebuah perubahan sosial dalam masyarakat.

10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Saat ini terjadi banyak perubahan yang dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih maju. Namun, keinginan tersebut dapat terhambat dengan adanya faktor-faktor yang menghambat perubahan sosial. Berikut merupakan faktor penghambat perubahan sosial, yaitu:

Adat dan Kebiasaan

Setiap masyarakat dalam sebuah negara memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda, termasuk Indonesia. Adat serta kebiasaan adalah perilaku anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adat dan kebiasaan yang terdapat dalam sebuah masyarakat sulit atau tidak berubah ketika timbul krisis adat dan kebiasaan.

Saat ini, adat istiadat dan kebiasaan bisa dikatakan kurang efektif untuk dipakai dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat, adat dan kebiasaan yang sudah biasa digunakan akan sangat sulit untuk diubah. Hal tersebut menjadi faktor penghambat untuk melakukan perubahan sosial.

Baca juga: Faktor Penyebab Gejala Sosial

Timbul Rasa Khawatir terhadap Integrasi Masyarakat

Beberapa orang dalam kelompok masyarakat merasa khawatir bahkan takut dengan adanya perubahan di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena masyarakat memiliki anggapan bahwa perubahan bisa membuat integrasi masyarakat menjadi goyah.

Perubahan yang terjadi pada lapisan masyarakat juga dianggap bisa mengganggu tatanan sosial yang sudah berlangsung hingga saat ini. Contoh dari faktor ini adalah pemakaian traktor untuk mengolah lahan pertanian.

Awalnya, petani yang berada di desa menolak penggunaan traktor, karena dianggap bisa menghilangkan budaya gotong royong yang ada di antara petani. Tetapi, semakin berjalannya waktu, penggunaan traktor menjadi hal yang biasa dan banyak dilakukan sampai saat ini.

Hambatan Ideologis

Perubahan sosial di dalam masyarakat akan sulit terjadi jika berbeda dengan suatu paham atau ideologi yang terdapat pada suatu kelompok masyarakat. Hal tersebut timbul karena setiap perubahan yang berhubungan dengan keyakinan akan ditolak. Penolakan dari masyarakat hadir karena anggapan yang bertentangan dengan ideologi yang ada.

Contoh hambatan ideologis yang terjadi, seperti sebelum pembangunan jalan besar dilakukan di suatu daerah, masyarakat perlu melakukan ritual terlebih dahulu. Tetapi, ada juga pembangunan yang tidak perlu dilalui dengan ritual terlebih dahulu. Bagi penganut paham tertentu, pembangunan jalan tersebut bisa ditolak karena dianggap bertentangan dengan ideologi yang diyakini.

Sikap Tertutup

Salah satu faktor penghambat perubahan sosial yang masih banyak ditemukan adalah sikap tertutup yang dimiliki oleh masyarakat. Sikap tertutup atau yang dikenal sebagai sikap konservatif adalah rasa takut untuk melakukan perubahan untuk menuju sebuah kemajuan.

Masyarakat yang memiliki sikap tertutup berpikiran apabila setiap unsur atau elemen yang datang dari luar merupakan ancaman bagi diri dan lingkungannya. Sikap tertutup biasanya dirasakan oleh masyarakat yang pernah merasakan penjajahan oleh bangsa lain.

Masyarakat yang pernah dijajah akan menganggap bahwa hal-hal yang datang dari negara penjajah adalah suatu hal yang buruk dan negatif. Apabila masyarakat ingin melakukan dan mencapai sebuah perubahan sosial, artinya sikap konservatif harus dihindari.

Kepentingan yang Tertanam

Nilai-nilai yang telah ada di masyarakat dalam waktu yang lama akan memunculkan kepentingan-kepentingan kolektif. Hal tersebut tentu dapat menghambat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Hakikatnya setiap perubahan yang terjadi akan meninggalkan nilai-nilai tradisional yang telah ada.

Hadirnya perubahan memiliki tujuan untuk memunculkan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Masyarakat tidak ingin nilai-nilai yang sudah ada menjadi hilang digantikan dengan nilai baru. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa menghilangkan berbagai kepentingan untuk bisa mewujudkan perubahan sosial.

Prasangka terhadap suatu Hal yang Baru

Sebuah prasangka buruk yang muncul terhadap hal baru dalam masyarakat bisa menjadi faktor penghambat perubahan sosial. Saat ada hal baru yang datang, timbul rasa khawatir dari sebagian masyarakat. Apabila merasakan prasangka buruk, sebagian orang dalam masyarakat tersebut akan memengaruhi anggota lainnya untuk menolak terjadinya perubahan tersebut.

Umumnya, masyarakat merasa asing dan tidak terbiasa dengan hal-hal yang baru. Sehingga, timbul stigma negatif di pikiran masyarakat bahkan sebelum perubahan dilakukan. Anggota masyarakat akan berusaha untuk menolak dan melakukan tradisi yang sudah ada.

Hakikat Hidup

Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan orang-orang yang percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan diatur oleh Tuhan, tanpa ada usaha apa-apa yang dilakukan orang tersebut. Dorongan untuk melakukan perubahan atau penghambat perubahan sosial juga akan selalu hadir dalam masyarakat.

Pendorong maupun penghambat perubahan akan bergantung pada kekuatan masyarakat untuk menanggapi hal tersebut. Apabila dorongan lebih besar daripada hambatan, maka perubahan sosial bisa saja terjadi. Namun, apabila hambatan lebih besar, maka perubahan sosial akan sulit terwujud.

Sikap Tradisional Masyarakat

Banyak anggota masyarakat yang masih berpegang pada sikap tradisional, karena dianggap memberikan banyak kemudahan. Tradisi yang sudah hadir dalam waktu yang lama dijadikan sebuah warisan yang harus dilestarikan dan tidak bisa diubah.

Pola pikir masyarakat yang tradisional akan menghambat terjadinya perubahan sosial. Masyarakat yang tertutup dan ingin bertahan dengan kepemimpinan masyarakat cenderung lebih sulit untuk berubah.

Hubungan Antar Masyarakat Lain yang Minim

Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan kehadiran orang lain untuk melakukan interaksi. Oleh karena itu, masyarakat yang jarang berinteraksi atau berhubungan dengan masyarakat lainnya akan merasakan perubahan yang lebih lambat.

Masyarakat tidak memiliki pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat lain, yang nantinya tidak akan memperkaya kebudayaan yang dimiliki. Individu akan terisolasi dengan budaya yang dimiliki serta pemikiran tradisional tanpa bisa berkembang. Hal tersebut akan sangat menghambat adanya perubahan sosial.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Lambat

Perkembangan ilmu yang lambat dapat terjadi akibat terbatasnya pergaulan masyarakat. Individu yang tidak memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu lebih banyak akan memengaruhi perubahan sosial. Pola pikir individu menjadi terbelakang dan bisa menimbulkan pandangan yang negatif terhadap orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.

Ilmu pengetahuan juga termasuk teknologi-teknologi yang semakin berkembang. Orang-orang yang tidak terbiasa dan sulit menerima perkembangan teknologi akan memiliki pemikiran yang lebih sempit. Akhirnya, masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang tertinggal, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lambat.

Ilmu adalah salah satu hal yang penting untuk mendukung terjadinya sebuah perubahan. Tanpa adanya ilmu, masyarakat tidak akan menyadari bahwa banyak hal positif yang dapat diperoleh dengan adanya perubahan sosial. Masyarakat akan mencoba menolak, karena pola pikirnya yang tidak memandang jauh dan cenderung sempit.

Faktor-faktor yang bisa menghambat perubahan sosial biasanya ditemukan dalam kehidupan masyarakat desa atau masyarakat yang teguh dengan adat. Hal tersebut memang sulit untuk diubah dan membutuhkan pendekatan yang baik apabila perubahan ingin dilakukan di tempat tersebut.

Posted on

Stratifikasi Sosial: Pengertian, Contoh, Dampak Fungsi dan Jenis

stratifikasi sosial

Stratifikasi Sosial – Pada kenyataannya, ternyata tingkatan masyarakat adalah hal yang terjadi. Hal tersebut menjadikan banyak orang semena-mena dengan orang yang dianggap memiliki tingkat lebih rendah dibandingkan dengan dirinya. Hal tersebut dikenal dengan stratifikasi sosial, yang menurut sifatnya dibagi menjadi stratifikasi sosial terbuka dan stratifikasi sosial tertutup.

Sebenarnya, keberadaan tingkatan-tingkatan masyarakat sudah ada sejak lama. Keberadaan lapisan masyarakat tersebut bisa menimbulkan berbagai hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat diperlukan untuk tidak memanfaatkan keberadaan tingkatan masyarakat untuk hal yang buruk.

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial adalah sebuah pembeda yang mengategorikan masyarakat menjadi beberapa kelas secara vertikal yang diwujudkan dalam bentuk tingkatan masyarakat paling tinggi sampai paling rendah. Stratifikasi sosial terbentuk dari kebiasaan individu dalam berhubungan dengan individu lainnya yang teratur dan tersusun.

Dalam kehidupan masyarakat yang memiliki taraf kebudayaan sederhana, lapisan yang terbentuk masih sedikit. Sedangkan dalam kehidupan masyarakat modern lapisan masyarakat yang terbentuk menjadi lebih tajam dan kompleks. Secara mudah, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai suatu pembeda yang menggolongkan masyarakat ke dalam suatu lapisan hierarki.

Baca juga: Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Contoh Stratifikasi Sosial

Terdapat banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang memperlihatkan bahwa stratifikasi sosial adalah nyata. Beberapa contoh stratifikasi sosial yang terjadi, yaitu:

  • Seseorang yang memiliki tingkat ekonomi yang baik bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang tinggi dibandingkan dengan orang dengan perekonomian rendah.
  • Walaupun memiliki pekerjaan yang sama tetapi petani dapat digolongkan menjadi petani dengan lahan sendiri, petani penggarap dan penyewa, dan buruh tani.
  • Orang yang memiliki banyak uang bisa berobat ke rumah sakit dengan kualitas yang bagus, berbeda dengan orang miskin yang hanya bisa berobat ke rumah sakit yang menerima pengajuan bantuan untuk orang miskin.
  • Di Bali, seseorang bisa memperoleh sebuah posisi dan nama berdasarkan kastanya sejak dilahirkan. Oleh karena itu, seseorang akan sulit untuk berpindah ke kasta lainnya. Orang yang berada dalam kasta tinggi akan sulit berubah menjadi kasta yang lebih rendah, kecuali seseorang melakukan sebuah kesalahan yang berat. Hal ini termasuk ke dalam stratifikasi sosial tertutup.

Dampak Stratifikasi Sosial

Keberadaan stratifikasi sosial di masyarakat memiliki banyak dampak, baik itu dampak positif atau negatif. Beberapa dampak stratifikasi sosial yang terjadi, yaitu:

Dampak Positif Stratifikasi Sosial

  • Pemerataan pembangunan di setiap daerah yang semakin meningkat sebagai upaya untuk menghilangkankan adanya kesenjangan sosial.
  • Muncul sebuah kemauan dari individu dalam masyarakat untuk bersaing berpindah ke tingkatan yang lebih tinggi, sehingga individu lebih bekerja keras untuk menghasilkan sebuah prestasi.

Dampak Negatif Stratifikasi Sosial

  • Konflik di antara Kelas

Di masyarakat terdapat sebuah tingkatan sosial berdasarkan pendidikan, kekuasaan, dan kekayaan. Kelompok-kelompok tersebut dikenal sebagai kelas sosial. Jika terdapat sebuah perbedaan kepentingan di antara kelas sosial maka konflik antar kelas akan muncul. Misalnya, demonstrasi yang dilakukan buruh untuk menuntut kewajiban dari perusahaan.

  • Konflik di antara Kelompok Sosial

Masyarakat yang majemuk dan beragam bisa menjadi latar belakang munculnya kelompok sosial. Beberapa kelompok sosial terbentuk berdasarkan agama, ras, suku, ideologi, atau profesi. Hal tersebut bisa memunculkan keinginan untuk menguasai kelompok sosial lainnya yang dilakukan dengan cara pemaksaan yang mengakibatkan konflik kelompok sosial.

  • Konflik Antargenerasi

Konflik ini bisa terjadi apabila generasi tua yang berusaha untuk mempertahankan adat serta nilai yang sudah lama berlaku dengan generasi muda yang ingin melakukan perubahan yang dilakukan secara modern. Misalnya, hilangnya sopan santun atau tidak digunakannya musyawarah sebagai cara untuk mengambil keputusan.

Baca juga: Gejala Sosial: Bentuk dan Dampak

Fungsi Stratifikasi Sosial

Keberadaan stratifikasi sosial memiliki banyak fungsi. Berikut adalah beberapa fungsi stratifikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu:

  • Stratifikasi sosial berfungsi untuk mengatur, menyusun, serta mengawasi hubungan antar anggota masyarakat. Stratifikasi sosial akan mengatur partisipasi individu dalam kehidupan secara menyeluruh. Terlepas dari adanya tingkatan strata yang dimiliki oleh individu, peran stratifikasi sosial adalah untuk mengatur partisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat.
  • Stratifikasi sosial merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tugas utama. Setiap strata akan ditandai dengan simbol yang menunjukkan standar atau ranking dalam kehidupan. Semuanya diatur untuk melakukan perannya masing-masing. Penghargaan masyarakat untuk orang-orang yang melakukan tugasnya dilihat sebagai sebuah insentif agar bisa melakukan pekerjaan lebih baik.
  • Distribusi hak-hak istimewa secara obyektif untuk berbagai kepentingan. Misalnya, penentuan tingkat kekayaan, penghasilan, wewenang, serta keselamatan pada kedudukan seseorang.
  • Alat solidaritas yang ada antara orang-orang atau kelompok yang berada dalam kelas sosial yang sama.
  • Sebagai penentu simbol status, misalnya cara berpakaian, bentuk rumah, atau tingkah laku.

Jenis Stratifikasi Sosial

Terdapat beberapa jenis stratifikasi sosial yang ada di dalam masyarakat. Beberapa jenis stratifikasi sosial, yaitu:

Hierarki Kelas (Class Hierarchies)

Hierarki kelas merupakan jenis stratifikasi sosial yang didasarkan pada penguasaan barang atau jasa. Misalnya, di Indonesia masyarakat dikelompokkan menjadi masyarakat kaya, menengah, dan miskin. Pengelompokan tersebut terjadi dengan melihat kriteria yang sudah ditetapkan oleh BPS atau Biro Pusat Statistik.

Setiap tahun BPS akan mengeluarkan batasan perbedaan pendapatan per kapita per tahun yang dibedakan berdasarkan wilayahnya. Berdasarkan BPS, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi standar tertentu yang merupakan kebutuhan dasar.

Hierarki Status (Status Hierarchies)

Hierarki status merupakan stratifikasi sosial yang dibuat berdasarkan pembagian status sosial. Jenis stratifikasi ini menggolongkan masyarakat ke dalam dua golongan, golongan masyarakat biasa dan golongan masyarakat yang disegani. Golongan masyarakat yang disegani biasa memiliki gaya hidup yang mewah serta eksklusif.

Stratifikasi sosial ini diwujudkan sebagai bentuk pembatasan terhadap pergaulan dengan orang yang berada dalam golongan yang lebih rendah. Misalnya, di dalam lingkungan kerajaan menganggap bahwa anggota kerajaan yang menikah dengan masyarakat yang bukan berasal dari golongannya adalah hal yang menyimpang.

Hierarki Kekuasaan (Power Hierarchies)

Hierarki kekuasaan merupakan stratifikasi sosial yang dibuat berdasarkan kekuasaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Kekuasaan merupakan kemampuan yang dimiliki untuk memengaruhi masyarakat dan memengaruhi pembuatan sebuah keputusan. Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat dua kelas masyarakat, yaitu kelas yang berkuasa dan yang dikuasai.

Kelas yang berkuasa memiliki jumlah yang lebih kecil dan berperan dalam melakukan fungsi politik serta menikmati berbagai keuntungan dari kekuasaan tersebut. Sementara itu, kelas yang dikuasai berjumlah lebih besar dan dikendalikan oleh kelas yang berkuasa.

Perbedaan Stratifikasi Sosial Terbuka dan Tertutup

Jika dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi stratifikasi sosial terbuka dan stratifikasi sosial tertutup. Stratifikasi sosial yang bersifat terbuka bersifat dinamis dan anggota strata yang berada di dalamnya bisa melakukan mobilitas. Misalnya, orang yang miskin dengan keinginan dan kerja keras dapat menjadi orang yang kaya.

Stratifikasi sosial tertutup merupakan tingkatan masyarakat yang anggotanya sulit melakukan mobilitas vertikal. Misalnya, keberadaan sistem kasta, feodal, atau rasialis. Namun, selain sifat terbuka dan tertutup ada juga yang dikenal sebagai stratifikasi sosial campuran.

Misalnya, orang yang memiliki kedudukan terhormat di Bali, saat ia pindah dari Bali, ia bekerja sebagai pekerja kasar dan tidak dianggap memiliki kedudukan terhormat. Ia harus berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku.

Walaupun keberadaan stratifikasi sosial sulit dihilangkan, namun hal-hal yang menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat dapat dikurangi. Perasaan saling menghargai antar sesama akan membuat orang merasa dihargai dan tidak akan menimbulkan konflik karena perbedaan kepentingan.

Posted on

Kesenjangan Sosial: Faktor, Dampak, Contoh dan Cara Mengatasinya

pengertian-dan-cara-mengatasi-kesenjangan-sosial

Ekonomi termasuk sebagai hal yang paling penting bagi masyarakat maupun negara. Namun, tidak semua individu memiliki kondisi ekonomi yang baik. Ada masyarakat dengan tingkat ekonomi yang tinggi, namun ada yang digolongkan dengan kategori rendah. Perbedaan yang ada di masyarakat merupakan kesenjangan sosial ekonomi yang nyata.

Kesenjangan sosial bisa menimbulkan berbagai masalah yang lainnya. Apabila tidak bisa dikendalikan atau diatasi, permasalahan yang terjadi akan semakin besar. Kondisi muncul akibat berbagai macam faktor dan sebagai pemegang kepentingan pemerintah perlu melakukan sebuah tindakan.

Pengertian Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial adalah keadaan yang timpang di dalam kehidupan masyarakat atau adanya ketidakseimbangan. Ketimpangan tersebut bisa dialami oleh individu atau kelompok masyarakat akibat adanya ketidaksetaraan distribusi hal-hal penting. Kesenjangan sosial sering dihubungkan dengan perbedaan pada tingkat ekonomi masyarakat, seperti kepemilikan harta, barang, dan sebagainya.

Kesenjangan sosial yang terjadi dapat dilihat dengan adanya peluang yang tidak sama untuk posisi tingkatan sosial yang berbeda.

Baca juga: Nilai Sosial

Faktor Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial tidak terjadi dengan sendirinya. Walaupun ada banyak contoh kesenjangan sosial yang terjadi, namun masih banyak orang yang belum memahami mengenai kesenjangan sosial dan penyebab terjadi masalah tersebut. Berikut merupakan beberapa faktor penyebab kesenjangan sosial di masyarakat, yaitu:

Perbedaan Sumber Daya Alam

Perekonomian daerah sangat dipengaruhi oleh SDA yang ada di daerah tersebut. Apabila SDA dikelola dengan sungguh-sungguh, maka tingkat perekonomian juga akan meningkat. Daerah dengan jumlah SDA yang menurun atau bahkan kekurangan akan mempengaruhi perekonomian daerahnya sendiri.

Pengaruh Globalisasi

Globalisasi memiliki banyak dampak bagi kehidupan, salah satunya membuat kehidupan menjadi lebih maju. Tetapi, keberadaan globalisasi juga memicu timbulnya kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini 3dapat terjadi jika masyarakat tidak mampu beradaptasi dan tidak dapat memanfaatkan kemajuan yang ada dengan baik.

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah dapat menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan timbulnya kesenjangan sosial. Misalnya, program transmigrasi. Masyarakat pendatang biasanya lebih cepat berkembang dan sukses dibandingkan masyarakat asli daerah tersebut. Peluang besar yang diberikan pada pendatang membuat masyarakat dapat berkembang secara cepat.

Hal tersebut memicu kesenjangan sosial antar kelompok masyarakat yang tinggal di daerah yang sama.

Letak dan Kondisi Geografis

Pembangunan pada suatu daerah akan dipengaruhi oleh letak serta kondisi geografis. Masyarakat yang hidup pada dataran tinggi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan infrastruktur dibandingkan masyarakat yang ada di dataran rendah. Hal tersebut menjadikan masyarakat yang tinggal di dataran tinggi lebih lambat berkembang daripada masyarakat dataran rendah.

Faktor letak dan kondisi geografis tersebut akhirnya menjadi pemicu kesenjangan sosial antar masyarakat.

Baca juga: Pengendalian Sosial

Kondisi Demografis

Pertumbuhan masyarakat, kesehatan, pekerjaan, pendidikan, serta struktur kependudukan akan memperlihatkan kondisi demografis pada suatu daerah. Keadaan demografis di suatu daerah yang berbeda dengan daerah lain akan menimbulkan kesenjangan sosial. Karena produktivitas kerja di suatu daerah tidak sama dengan daerah lainnya.

Dampak Kesenjangan Sosial Ekonomi

Dampak yang timbul akibat kesenjangan sosial cenderung negatif. Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh kesenjangan sosial dalam masyarakat, yaitu:

Pengangguran dan Kemiskinan

Kesenjangan sosial ekonomi bisa dilihat jelas dengan angka pengangguran dan kemiskinan yang meningkat. Apabila masyarakat tanpa pekerjaan dan dikategorikan miskin menjadi mayoritas dalam suatu negara, maka pendapatan yang diperoleh oleh orang-orang tersebut juga rendah.

Pendapatan yang rendah dan tidak pasti membuat daya beli masyarakat terhadap barang-barang sekunder akan menurun. Hal tersebut dapat menimbulkan keuntungan yang tidak optimal pada perusahaan.

Munculnya Tindak Kejahatan

Jika melihat berita, setiap hari pasti ada kasus kejahatan yang terjadi. Tingginya tindak kejahatan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat muncul akibat adanya masalah keuangan yang mengakibatkan kesenjangan sosial. Hingga detik ini, ekonomi merupakan faktor yang paling besar dalam menyebabkan individu atau kelompok berbuat tindakan kejahatan.

Susah Mencari Tenaga Kerja yang Berkualitas

Walaupun jumlah pengangguran di Indonesia cukup banyak, tetapi masih banyak perusahaan atau tempat kerja yang sulit memperoleh tenaga kerja dengan kualifikasi yang bagus. Kesenjangan sosial menjadi sebab kualitas dan tingkat pendidikan masyarakat rendah dan di bawah rata-rata.

Walaupun banyak masyarakat dengan gelar sarjana, tetapi pada realita keahlian tersebut belum dibutuhkan atau bahkan belum dimiliki oleh individu tersebut.

Target Pasar yang Tidak Jelas

Ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat membuat target pasar yang dibuat oleh perusahaan menjadi tidak jelas. Apabila perusahaan memiliki target pasar untuk kalangan masyarakat tingkat menengah ke bawah, maka hal tersebut bisa merugikan perusahaan akibat daya beli yang tidak stabil.

Namun, jika perusahaan menetapkan masyarakat kelas menengah ke atas sebagai target pasar juga belum tentu menjamin perusahaan mendapatkan keuntungan. Kejadian tersebut bisa saja terjadi jika kecenderungan masyarakat menengah ke atas banyak membeli produk luar negeri.

Baca juga: Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Contoh Kesenjangan Sosial

Ada banyak contoh kesenjangan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh kesenjangan sosial, yaitu:

  1. Pemberian hukuman kepada koruptor selama 2 tahun penjara, sementara itu pencuri buah ditetapkan hukuman 3 tahun penjara.
  2. Perlakukan istimewa terhadap anak guru atau anak petinggi sekolah.
  3. Ketidakadilan bagi buruh perempuan yang diberi upah lebih sedikit daripada buruh laki-laki.
  4. Perhatian pemerintah yang masih minim dalam penyediaan fasilitas umum untuk penyandang disabilitas.
  5. Bebas dari hukuman tilang bagi orang-orang yang memiliki akses dengan pihak kepolisian.
  6. Perlakuan yang berbeda antara konsumen dengan penampilan seperti orang kaya dan konsumen yang berpenampilan biasa di suatu tempat belanja.
  7. Murid yang pintar diperlakukan secara istimewa oleh guru dibandingkan dengan murid biasa.
  8. Pemberian fasilitas sekolah yang berbeda untuk si kaya dan si miskin.
  9. Pemberian layanan kesehatan di rumah sakit yang berbeda untuk pasien kaya dan pasien miskin yang menggunakan kartu bantuan pemerintah.

Cara Mengatasi Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial merupakan sebuah masalah yang nyata dan memerlukan solusi untuk mengatasinya. Solusi ini diperlukan pemerintah agar bisa memberantas masalah kesenjangan sosial yang sudah lama terjadi. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesenjangan sosial, yaitu:

  1. Masalah pendidikan harus diutamakan dan diperhatikan agar setiap anak memiliki akses yang mudah untuk memperoleh pendidikan.
  2. Meningkatkan sistem keadilan serta melakukan pengawasan terhadap mafia hukum.
  3. Membuka banyak lapangan pekerjaan untuk mengurangi masalah pengangguran.
  4. Meminimalisir KKN yang terjadi di Indonesia.
  5. Memberantas masalah korupsi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.
  6. Akses kesehatan, informasi, dan pendidikan gratis untuk mempercepat pembangunan di desa atau daerah yang tertinggal.
  7. Pemberian modal bagi masyarakat yang memerlukan untuk mendirikan usaha sebagai alternatif mata pencaharian.
  8. Penekanan kebijakan pemerintah dalam hal perbaikan serta peningkatan infrastruktur desa.

Masalah ekonomi bisa dikatakan sebagai masalah utama yang menciptakan adanya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat. Ketimpangan yang nyata antara individu satu dengan individu lainnya merupakan salah satu contoh nyata dari kesenjangan sosial. Pemerintah dan masyarakat harus bisa bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah ini agar tidak menjadi semakin besar.

Posted on

Gejala Sosial: Pengertian, Bentuk, Dampak, Faktor Penyebab

pengertian-dan-dampak-gejala-sosial

Setiap hari masyarakat pasti merasakan resah dengan timbulnya masalah. Masalah tersebut diawali dengan timbulnya gejala sosial di masyarakat. Sebelum berkembang menjadi sebuah masalah yang besar dan sulit teratasi, suatu gejala sosial perlu ditangani dengan baik.

Orang yang memiliki pengetahuan dan mampu melakukan kontrol dalam dirinya akan berusaha untuk menjauhi hal-hal buruk. Namun, tanpa disadari keadaan tertentu mendorong seseorang melakukan hal-hal yang bisa menjadi fenomena sosial di masyarakat. Dalam hal ini setiap individu memiliki peran masing-masing dalam mencegah timbulnya masalah sosial.

Pengertian Gejala Sosial

Gejala sosial adalah sebuah fenomena yang muncul dan ditandai dengan adanya permasalahan sosial yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh individu dalam lingkungannya. Fenomena sosial tersebut bisa terjadi jika terdapat perubahan sosial dalam masyarakat.

Perubahan ini memiliki potensi menimbulkan berbagai dampak yang sulit dihindari. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengetahui dan mengantisipasi hal tersebut.

Baca juga: Pengendalian Sosial

Contoh Gejala Sosial di Masyarakat

Contoh gejala sosial dapat ditemukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh tersebut biasanya merupakan sebuah hal yang negatif dan berusaha untuk dihindari. Beberapa contoh gejala sosial di masyarakat, yaitu:

Tindak Kejahatan

Berbagai macam kejahatan yang muncul diawali dengan adanya peniruan, asosiasi yang berbeda, citra diri yang agresif, implementasi peran sosial, serta kekecewaan. Hal tersebut dapat dipicu dengan kepemilikan gaya hidup konsumsi yang tidak sesuai dengan penghasilan yang dimiliki.

Kemiskinan

Kemiskinan merupakan sebuah situasi keadaan seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dan tidak bisa mempertahankan standar hidup dalam kelompok. Kemiskinan dilihat sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak memiliki kondisi ekonomi yang cukup untuk bisa memenuhi standar hidup.

Masalah ini hadir karena adanya institusi sosial pada bidang ekonomi yang tidak bisa berjalan dengan semestinya.

Masalah Masyarakat Generasi Muda

Hal ini terjadi ditandai dengan adanya dua sifat yang saling berlawanan, yaitu sifat apatis dan ingin bertarung. Sikap apatis diwujudkan sebagai tindakan yang membabi buta yang disesuaikan dengan standar moral yang dimiliki oleh generasi yang lebih tua.

Sementara itu, keinginan untuk bertarung terwujud sebagai suatu sikap radikalisme yang sangat berbahaya.

Disorganisasi Keluarga

Bentuk disorganisasi keluarga yaitu keluarga yang tidak lengkap akibat dari perceraian, hubungan di luar nikah, krisis keluarga, komunikasi antar anggota keluarga yang buruk, gangguan mental, dan masalah keluarga lainnya. Anggota keluarga gagal untuk melakukan tanggung jawab sesuai perannya masing-masing.

Pelanggaran Standar Masyarakat

Saat ini banyak muncul pelanggaran yang tidak sesuai dengan nilai sosial dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya, gejala sosial alkoholisme, korupsi, kenakalan remaja, pelacuran, dan contoh lainnya.

Perang

Perang adalah bentuk dari suatu konflik yang terjadi di antara kelompok atau negara yang kemudian berakhir dengan penempatan.

Bentuk Gejala Sosial

Gejala sosial di masyarakat dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk atau jenis. Berikut merupakan beberapa bentuk gejala sosial, yaitu:

Gejala Sosial Budaya

Indonesia merupakan negara dengan keberagaman budaya yang sangat kaya, oleh karena itu setiap masyarakat harus bisa menghormati kebudayaan masing-masing. Seseorang tidak boleh melanggar batas-batas jika masuk ke dalam suatu budaya yang berbeda.

Hal tersebut tidak hanya berlaku di Indonesia, namun masyarakat juga harus bisa menghargai kebudayaan yang dimiliki oleh negara lain. Budaya yang beragam dapat menimbulkan gejala sosial, misalnya pemalsuan buaya asing dan lainnya.

Gejala Sosial Ekonomi

Tingkat perekonomian seseorang yang dilihat berdasarkan penghasilan dapat memicu terjadinya gejala sosial. Fenomena sosial yang terjadi memiliki kaitan yang erat dengan ekonomi masyarakat. Apabila ada orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan, maka akan muncul berbagai fenomena sosial yang bisa terjadi.

Fenomena sosial tersebut seperti pengangguran, populasi yang meningkat, kemiskinan, dan contoh lainnya.

Gejala Sosial Psikologis

Perilaku yang dimiliki seseorang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari sangat dipengaruhi oleh psikologi. Apabila orang memiliki masalah kejiwaan maka besar kemungkinan orang tersebut akan menimbulkan gejala sosial di lingkungan. Contoh dari gejala sosial psikologis yaitu bid’ah.

Gejala Sosial dari Lingkungan Alam

Hal-hal yang terjadi pada lingkungan alam akan berpengaruh pada kehidupan manusia. Gejala sosial tersebut muncul karena faktor alam serta ulah manusia yang mengakibatkan berbagai kerusakan pada alam. Misalnya, kebiasaan membuang sampah di sungai. Hal tersebut bisa menimbulkan banjir yang nantinya berdampak pada kesehatan masyarakat.

Perbedaan Gejala Sosial dan Masalah Sosial

Gejala sosial dan masalah sosial terdengar sebagai suatu hal yang mirip. Sebenarnya apakah gejala sosial dan masalah sosial merupakan hal yang sama? Gejala sosial berbeda dengan masalah sosial. Gejala sosial yang terjadi secara terus menerus dan bisa menjadi sebuah masalah sosial apabila tidak bisa ditangani dengan baik.

Faktor Penyebab Gejala Sosial

Gejala sosial hadir didukung oleh dua faktor penyebab, yaitu faktor kultural dan faktor struktural. Berikut merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya gejala sosial, yaitu:

Faktor Kultural

Faktor kultural atau faktor budaya hadir dari nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Hal tersebut akan tumbuh sebagai pola pikir yang dimiliki oleh orang yang berada di lingkungan tersebut. Contoh dari faktor kultural yang menyebabkan gejala sosial, misalnya kemiskinan, perilaku menyimpang, kerja bakti, gotong royong, dan sebagainya.

Faktor Struktural

Faktor struktural merupakan sebuah keadaan yang timbul dalam memengaruhi struktur. Struktur yang dimaksud merupakan hal yang disusun menggunakan pola tertentu. Faktor tersebut bisa diketahui dengan melihat pola hubungan manusia dengan kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.

Contoh dari faktor sosial yang menyebabkan gejala sosial, yaitu penyuluhan sosial, interaksi antar individu, interaksi individu dengan kelompok, interaksi antar kelompok, jangkauan sosial dan sebagainya.

Dampak Gejala Sosial

Gejala sosial dapat memberikan dampak untuk kehidupan manusia. Dampak yang hadir bisa berupa dampak positif atau negatif untuk masyarakat. Berikut merupakan dampak positif dan negatif dari gejala sosial, yaitu:

Dampak Positif

Gejala sosial yang terjadi tidak bisa diabaikan begitu saja. Hal tersebut harus disikapi secara bijak dan dewasa oleh setiap orang. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat berubah menjadi hal yang positif apabila diantisipasi dengan baik. Misalnya, kemajuan yang cepat dalam bidang teknologi dan informasi.

Perubahan teknologi dan informasi dapat dilihat dari dua sisi. Untuk memperoleh hasil yang optimal dari perubahan teknologi maka setiap orang harus berusaha fokus dengan dampak positif dari perkembangan teknologi. Adanya perkembangan teknologi yang cepat membuat berbagai keperluan manusia juga bisa dilakukan secara cepat dan efektif.

Contohnya, penggunaan smartphone untuk berinteraksi melalui telepon atau chatting.

Dampak Negatif

Selain sikap dewasa yang bisa membuat gejala sosial memiliki dampak positif. Gejala sosial juga memberikan banyak dampak negatif untuk kehidupan masyarakat. Jika individu tidak mampu untuk menerima perubahan yang terjadi secara cepat maka individu tersebut akan mengalami culture shock.

Rasa tidak mampu yang dimiliki individu untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan membuat seseorang melakukan perilaku yang menyimpang dan memunculkan berbagai macam gejala sosial lainnya di masyarakat.

Walaupun sulit untuk dihindari, gejala sosial di masyarakat bisa memberikan dampak yang positif asalkan setiap orang mampu bersikap secara bijak dan dewasa. Sebagai seorang individu dan masyarakat, semua orang harus bisa berusaha untuk menjauhi berbagai hal yang dapat menimbulkan gejala sosial bahkan masalah sosial.

Posted on

Pengendalian Sosial: Pengertian, Fungsi, Contoh dan Cara Pengendalian Sosial di Masyarakat

pengertian-pengendalian-sosial

Walaupun masyarakat memiliki pilihan sendiri untuk menjalani hidupnya, tetapi tentu saja kebebasan tersebut memiliki batasan-batasan. Pengendalian sosial dalam masyarakat perlu dilakukan untuk bisa mengatur masyarakat supaya tercipta sebuah kehidupan yang aman dan tentram.

Pengendalian sosial bisa diberikan kepada siapa saja dan mulai dikenalkan oleh keluarga sejak anak masih kecil. Hal tersebut perlu dilakukan agar anak bisa mengerti dan sudah terbiasa untuk mengikuti norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Orang-orang yang bisa berpikir rasional akan berusaha untuk menjauhi perilaku menyimpang.

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan masyarakat untuk mencegah adanya penyimpangan sosial yang terjadi di lingkungan. Masyarakat akan mengajak setiap orang untuk memiliki perilaku dan sikap yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Pengendalian sosial merupakan proses yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat dengan berbagai cara agar setiap masyarakat bisa bertingkah laku dengan baik. Tujuan dari pengendalian sosial yaitu untuk menjaga dan menciptakan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya pengendalian serta pengawasan yang dilakukan akan membuat masyarakat lebih teratur.

Baca juga: Perbedaan Nilai Sosial Nilai Moral

Cara Pengendalian Sosial dalam Masyarakat

Terdapat dua sifat pengendalian sosial, yaitu pengendalian preventif dan represif. Pengendalian sosial preventif dilakukan untuk mencegah agar pelanggaran tidak terjadi atau dilakukan sebelum pelanggaran terjadi. Pengendalian represif merupakan pengendalian yang dilakukan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya pelanggaran.

Penggunaan cara pengendalian sosial juga akan bergantung pada pihak yang memberikannya. Ada banyak cara pengendalian sosial yang dilakukan berdasarkan ahli. Berikut merupakan cara pengendalian sosial yang bisa dilakukan, yaitu:

Pengendalian Sosial Persuasif dan Koersif

Cara persuasif dilakukan dengan pendekatan yang berupa bimbingan atau ajakan agar orang bisa berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Pengendalian ini bisa dilakukan secara lisan maupun simbolis. Orang yang melakukan bimbingan berbicara secara langsung dengan anggota masyarakat secara baik-baik.

Pengendalian sosial yang dilakukan secara simbolis dapat dilakukan menggunakan tulisan, iklan layanan masyarakat, atau poster. Sementara itu, cara koersif dilakukan dengan pendekatan kekerasan atau ancaman yang mengandalkan kekuatan fisik.

Hal tersebut bertujuan agar pelaku tidak berani mengulangi perbuatan yang salah. Pengendalian sosial koersif dilakukan sebagai bentuk upaya terakhir jika semua upaya pencegahan yang dilakukan tidak berhasil.

Pengendalian Sosial Melalui Institusi dan Noninstitusi

Cara pengendalian yang dilakukan melalui institusi dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga yang ada, misalnya lembaga keluarga, pendidikan agama, politik, dan lembaga lainnya. Cara pengendalian yang dilakukan melalui noninstitusi merupakan cara pengendalian yang dilakukan di luar institusi. Misalnya, dilakukan oleh individu yang saling tidak mengenal.

Pengendalian Sosial dengan Cara Pemberian Imbalan dan Hukuman

Cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan pemberian imbalan hadir sebagai bentuk preventif. Seseorang akan memperoleh imbalan jika bisa berperilaku sesuai dengan norma di masyarakat. Cara pengendalian menggunakan hukuman biasanya bersifat represif. Cara ini dilakukan untuk membuat pelanggar menjadi jera.

Fungsi Pengendalian Sosial

Kehadiran pengendalian sosial memiliki fungsi yang sangat penting agar kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat dapat diwujudkan. Berikut merupakan fungsi-fungsi pengendalian sosial, yaitu:

Menumbuhkan Rasa Malu

Setiap orang pasti memiliki rasa malu yang ada di dalam diri, terutama jika berkaitan dengan harga diri. Hukuman sosial yang didapatkan individu dari hasil melanggar sebuah aturan akan membuat individu tersebut merasa malu dan menyesal.

Menjaga Ketertiban dalam Masyarakat

Setiap masyarakat memiliki nilai dan norma yang berlaku. Nilai dan norma tersebut digunakan sebagai suatu panduan untuk bertingkah laku dalam masyarakat. Umumnya, terdapat hukuman atau konsekuensi yang akan didapatkan jika melanggar nilai dan norma tersebut. Adanya hukuman akan membuat orang takut dan mengikuti aturan yang ada di lingkungan.

Meyakinkan Masyarakat untuk Mengikuti Norma yang Berlaku

Sebuah kontrol sosial yang dilaksanakan dengan baik akan meningkatkan dan membentuk keyakinan masyarakat. Masyarakat akan memiliki pikiran bahwa peraturan yang diciptakan adalah untuk kebaikan dirinya dan lingkungan.

Memberikan Imbalan

Berhubungan dengan harga diri yang dimiliki setiap orang, jika individu selalu taat dan mengikuti norma yang berlaku dengan baik maka akan memperoleh imbalan. Imbalan yang diperoleh bisa langsung atau tidak langsung. Misalnya, ketika ada seseorang yang taat maka proses pengurusan berkas-berkas dengan pejabat masyarakat akan berlangsung lebih lancar.

Membuat Sistem Hukum

Sistem hukum juga merupakan implementasi dari kontrol sosial. Kontrol sosial merupakan sistem hukum yang dibuat secara resmi yang di dalamnya memuat sanksi atau hukuman untuk masyarakat yang tidak bisa menaati peraturan.

Contoh Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial dilakukan oleh banyak pihak, bahkan keluarga sendiri. Hal tersebut dilakukan agar individu tidak terjerumus pada hal yang menyimpang. Beberapa contoh pengendalian sosial dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  1. Orang tua yang mendidik anaknya sambil menumbuhkan kesadaran pada anak. Anak dididik untuk bisa menyesuaikan diri dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat dan mencegah anak melakukan pelanggaran terhadap norma.
  2. Keberadaan rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalan yang dibuat untuk keselamatan masyarakat.
  3. Pemberian nasihat oleh guru bimbingan konseling sebagai upaya pengendalian sosial secara preventif. Guru mengedukasi setiap siswa untuk menjauhi penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang yang bisa menghancurkan masa depan.
  4. Guru yang mengajarkan agama, budi pekerti, serta tata krama di dalam kelas. Hal tersebut bisa diselipkan saat melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas.
  5. Aturan yang dibuat oleh pihak yang berwenang yang melarang seseorang melakukan kejahatan yang dapat membahayakan orang lain dan lingkungan. Apabila hal tersebut terjadi maka individu akan memperoleh hukuman.
  6. Ajaran agama yang dilakukan oleh tokoh agama mengenai pentingnya mematuhi setiap perintah Tuhan dan belajar mengendalikan diri dari perilaku menyimpang.
  7. Pembinaan atau terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk narapidana atau korban. Hal tersebut lebih dikenal sebagai rehabilitasi. Keberadaan rehabilitasi memiliki manfaat agar orang yang bersangkutan bisa hidup sehat.

Ciri-Ciri Pengendalian Sosial

Bentuk pengendalian sosial yang terjadi dalam masyarakat memiliki banyak bentuk. Misalnya melalui pendidikan, agama, teguran, gosip, sanksi, intimidasi, dan ostrasisme. Semua bentuk tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan terjadinya suatu penyimpangan sosial atau bahkan sebagai hukuman.

Salah satu bentuk pengendalian sosial yang banyak dijumpai adalah gosip. Gosip dilakukan untuk membicarakan kesalahan yang dilakukan dengan tujuan orang yang dibicarakan merasa malu. Keberadaan pengendalian sosial dalam masyarakat dapat dilihat dengan mengetahui karakteristiknya. Berikut merupakan ciri-ciri pengendalian sosial, yaitu:

  1. Ada metode atau cara yang digunakan untuk membuat individu atau masyarakat tertib.
  2. Kontrol sosial dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah stabilitas terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.
  3. Pengendalian sosial dilakukan oleh banyak pihak, walaupun dalam beberapa kejadian pihak yang melakukan tidak menyadari telah melakukan pengendalian sosial.
  4. Kontrol sosial dari individu ke individu lainnya atau dari kelompok ke individu dan kelompok lain.

Individu pasti membutuhkan sebuah interaksi dalam kehidupannya sehari-hari. Namun, apabila individu tidak mampu berinteraksi secara baik dan memiliki hasrat buruk dalam dirinya bisa menimbulkan sebuah perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang ini perlu dihindari agar tidak melanggar norma dan nilai yang ada.

Posted on

Nilai Sosial: Pengertian, Ciri, Fungsi, Sumber dan Perbedaan dengan Nilai Moral

pengertian-nilai-sosial

Setiap daerah memiliki nilai sosialnya masing-masing. Nilai sosial dalam masyarakat akan berbeda untuk setiap daerah. Setiap anggota masyarakat yang tergabung dalam kelompok masyarakat perlu melakukan setiap nilai yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Awalnya nilai sosial timbul karena ada proses interaksi yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. Sehingga, terkadang banyak orang yang salah memandang nilai sosial di daerah lainnya. Hal tersebut dikarenakan nilai sosial yang dianggap kurang baik dalam lingkungan, bisa saja merupakan nilai sosial yang biasa dan umum di tempat lainnya.

Pengertian Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai yang dimiliki dan dianut oleh suatu kelompok masyarakat mengenai hal yang baik dan buruk. Penentu bahwa suatu hal bisa dikatakan sebagai hal yang baik atau buruk perlu melalui proses terlebih dahulu. Keberadaan nilai sosial sangat dipengaruhi oleh budaya yang ada di daerah tersebut.

Contoh Nilai Sosial dalam Masyarakat

Nilai sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa contoh nilai sosial yang hadir dalam masyarakat, yaitu:

Contoh Nilai Sosial dalam Mengukur suatu Perilaku Sosial

Seorang guru sekolah akan berpegang secara teguh mengenai cara berpenampilan yang sederhana adalah hal yang sangat penting. Hal tersebut membuat siswa-siswa setuju dan akan terus menghormati guru yang konsisten dengan prinsipnya.

Contoh Nilai Sosial dalam Berhubungan dengan Orang Lain

Ketika terdapat sebuah antrean, individu akan berusaha untuk mengantre dan tidak menyalip. Menghargai orang yang mengantre akan membuat lingkungan menjadi lebih tertib.

Contoh Nilai Sosial sebagai Sumber Ideologi

Apabila seseorang percaya bahwa penting untuk selalu melakukan hal secara adil maupun kepada orang yang tidak disukai. Maka nilai sosial berupa keadilan adalah sumber ideologi yang digunakan oleh orang tersebut.

Contoh Nilai Sosial dalam Menentukan Cara Pikir

Seseorang merasa yakin dan percaya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang sukses adalah dengan berusaha selalu bangkit dalam menghadapi setiap kegagalan. Artinya, kegagalan adalah proses yang dipercaya oleh orang tersebut akan mengantarkannya kepada kesuksesan.

Contoh Nilai Sosial dalam Kehidupan Keluarga

Orang tua yang mendidik dan mengajarkan anak-anaknya untuk terbiasa melakukan etika ketika melakukan berbagai hal. Misalnya, etika makan, etika berbicara, dan lainnya.

Contoh Nilai Sosial dalam Menentukan Motif

Semua orang tau bahwa praktik suap adalah hal yang buruk, baik itu memberi atau menerima suap. Praktik suap memiliki risiko hilangnya sebuah integritas yang ada di dalam diri. Oleh karena itu, akan timbul perasaan untuk menolak atau melaporkan praktik suap yang terjadi pada pihak berwenang.

Fungsi Nilai Sosial

Nilai sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat memiliki fungsi untuk setiap anggota masyarakat. Berikut merupakan beberapa fungsi dari nilai sosial dalam masyarakat, yaitu:

  1. Nilai sosial merupakan alat solidaritas untuk setiap anggota kelompok di dalam masyarakat.
  2. Nilai sosial berfungsi sebagai media pengawas yang memiliki daya tekan dan daya ikat. Nilai bisa menuntun atau menekan individu untuk berbuat hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Nilai sosial merupakan penentu bagi individu atau kelompok dalam melakukan peran sosial yang ada di kehidupan bermasyarakat.
  4. Nilai sosial menyumbangkan seperangkat alat yang dapat digunakan untuk menetapkan derajat sosial seseorang atau kelompok.
  5. Nilai sosial membentuk pola pikir dan tingkah laku individu dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat.

Perbedaan Nilai Sosial dan Moral

Banyak orang yang merasa bingung mengenai perbedaan nilai sosial dan moral. Berikut merupakan beberapa perbedaan antara nilai sosial dengan moral, yaitu:

  1. Nilai sosial adalah bentuk dari suatu nilai yang berhubungan dengan pergaulan individu di dalam masyarakat. Nilai moral adalah nilai yang berhubungan dengan etika dan akhlak seseorang.
  2. Nilai sosial bisa bersifat menerima atau menentang aspek tertentu yang terdapat dalam masyarakat yang mengakibatkan terjadinya suatu kesulitan. Nilai moral bersifat menerima atau menentang suatu hal dalam kehidupan sehari-hari untuk hubungan yang lebih privat.
  3. Nilai sosial didasarkan pada persepsi individu mengenai yang diyakini dapat meningkatkan diri sendiri maupun lingkungan. Nilai moral didasari pada persepsi individu mengenai apa yang diyakini sebagai suatu hal yang penting untuk menjadi seseorang yang benar.
  4. Nilai sosial merupakan bagian dari budaya yang memutuskan apa yang dipimpin oleh budaya tersebut. Nilai moral lebih bersifat pribadi dan bisa diidentifikasi sebagai warisan yang terdapat dalam diri.

Sumber Nilai Sosial

Terciptanya suatu nilai sosial yang diketahui saat ini berasal dari banyak sumber. Berikut merupakan sumber nilai sosial dalam masyarakat, yaitu:

Nilai yang Bersumber dari Tuhan

Seseorang akan mengetahui nilai-nilai dari ajaran agama yang terdapat dalam kitab suci. Nilai-nilai tersebut dijadikan sebuah petunjuk atau pedoman dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan ajaran agama. Misalnya, nilai sederhana, kasih sayang, jujur, dan nilai lainnya. Nilai yang bersumber dari Tuhan disebut juga dengan nama nilai theonom.

Nilai yang Bersumber dari individu

Setiap individu memiliki nilai-nilai baik yang terdapat dalam dirinya. Contoh nilai dari individu yaitu kerja keras dan giat yang akan membuat individu tersebut selalu berusaha bekerja untuk memperoleh kesuksesan.

Nilai yang Bersumber dari Masyarakat

Umumnya, masyarakat memiliki pandangan yang sama terhadap isu-isu yang ada. Cara pandang tersebut dijadikan sebuah pedoman untuk berperilaku sehari-hari. Misalnya, sopan kepada semua orang, baik orang tua maupun siapa saja. Nilai yang bersumber dari kesepakatan banyak orang dikenal sebagai nilai heteronom.

Ciri-Ciri Nilai Sosial

Nilai sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat sangat beragam. Di dalam kehidupan bermasyarakat, nilai sosial bersumber dari nilai-nilai kehidupan lainnya. Pada perkembangannya, nilai sosial juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam dan sosial daerah tersebut. Terdapat beberapa ciri dari nilai sosial yang hadir di tengah masyarakat. Berikut adalah ciri-ciri nilai sosial, yaitu:

  1. Nilai sosial diperoleh dari bentuk transformasi yang didapat dari proses belajar, seperti difusi, sosialisasi, dan enkulturasi. Misalnya, anak akan mengetahui arti persahabatan di dalam maupun di luar sekolah.
  2. Tidak dibawa dari lahir, namun diperoleh dari hasil interaksi yang dilakukan dengan manusia lainnya.
  3. Memengaruhi diri individu dalam kehidupan bermasyarakat.
  4. Nilai sosial memiliki perbedaan di setiap kelompok masyarakat.
  5. Dampak yang ditimbulkan pada perilaku setiap individu berbeda-beda.

Jenis Nilai Sosial dalam Masyarakat

Nilai sosial dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, nilai yang telah mendarah daging serta nilai dominan.

Nilai sosial yang telah mendarah daging adalah nilai yang berasal dari individu yang bersangkutan dan sudah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, ketika akan melakukan suatu hal tidak membutuhkan proses berpikir lagi. Misalnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua dan rasa sayang kepada orang yang lebih muda.

Nilai dominan adalah nilai yang dirasa lebih penting apabila dibandingkan dengan nilai lainnya. Nilai tersebut terbentuk dari budaya yang ada di lingkungan tersebut. Misalnya, penggunaan jempol untuk menunjukkan sesuatu atau membungkuk saat lewat di depan orang yang lebih tua.

Peran nilai sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Menerapkan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari memiliki arti bahwa saling menghargai dengan anggota masyarakat lainnya. Banyak hal positif yang bisa dirasakan dan diperoleh dari penerapan nilai-nilai sosial di masyarakat.