Posted on

Mobilitas Sosial: Pengertian, Dampak, Contoh dan Faktor Pendorong

contoh mobilitas sosial

Kesenjangan sosial adalah keadaan yang nyata pada kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya, pada realita kehidupan terdapat hierarki sosial yang digambarkan sebagai suatu tangga. Ada kelompok masyarakat yang berada di tangga bawah, tengah, dan atas. Ada mobilitas sosial yang dikenal sebagai mobilitas sosial antargenerasi atau intragenerasi.

Individu-individu yang sedang berusaha untuk mengubah posisi sosialnya bisa dikatakan sebagai mobilitas sosial. Tidak hanya berubah ke tingkat yang lebih tinggi, mobilitas sosial bisa berubah ke tingkat yang lebih rendah atau pindah posisi pada strata yang sama.

Pengertian Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial atau social mobility merupakan gerak perpindahan individu atau kelompok masyarakat dari satu lapisan ke lapisan lainnya atau gerak pindah dari satu kelas sosial ke kelas lainnya. Perpindahan yang terjadi bisa berupa peningkatan atau penurunan status sosial, meliputi pekerjaan atau penghasilan.

Baca juga: Stratifikasi Sosial

Dampak Mobilitas Sosial

Terjadinya mobilitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat memiliki beberapa dampak. Dampak mobilitas sosial yang terjadi bisa berupa dampak yang berpengaruh baik (positif) atau berpengaruh buruk (negatif). Berikut adalah dampak yang ditimbulkan akibat mobilitas sosial, yaitu:

Dampak Positif

  • Perubahan sosial masyarakat agar menjadi lebih maju dan berkembang berlangsung lebih cepat.
  • Mendorong terjadinya integrasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
  • Timbulnya keinginan pada individu untuk memperbaiki kehidupannya saat ini.

Dampak Negatif

  • Ikatan sosial dan solidaritas di antara kelompok masyarakat menjadi berkurang.
  • Adanya kompetisi yang tidak sesuai atau timpang.
  • Timbul konflik sosial antar individu dengan kelas yang berbeda atau antar kelompok dengan latar belakang yang berbeda. Seperti, perbedaan etnis, ras, suku, agama, bahkan generasi.
  • Adanya kecemasan dan ketakutan yang timbul sebagai bentuk gejala psikologis.

Jenis Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yang berbeda, mobilitas sosial vertikal dan mobilitas sosial horizontal. Berikut adalah penjelasan masing-masing jenis mobilitas sosial, yaitu:

Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial vertikal merupakan perpindahan yang terjadi pada individu atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang memiliki derajat berbeda. Perpindahan tersebut bisa ke strata yang lebih tinggi (social climbing) atau ke strata yang lebih rendah (social sinking).

Kedudukan sosial yang dimiliki seseorang tidak selamanya tetap dan bisa mengalami perubahan. Misalnya, karyawan yang tidak ingin menjadi bawahan seterusnya akan berusaha untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.

Terdapat ciri-ciri mobilitas sosial vertikal, yaitu:

  • Setiap warga masyarakat pada suatu negara memiliki kedudukan hukum yang sama.
  • Masyarakat yang bersangkutan merupakan masyarakat yang terbuka. Artinya, setiap kelas sosial yang ada pada kehidupan masyarakat tidak menutup kemungkinan terjadinya kenaikan atau penurunan kedudukan individu dalam masyarakat.
  • Perpindahan naik ke lapisan kedudukan yang lebih tinggi membutuhkan kemampuan individu dalam mengatasi proses pemilihan yang semakin susah.

Mobilitas sosial vertikal bisa terjadi pada orang yang sama atau keturunannya. Mobilitas vertikal intragenerasi adalah mobilitas sosial yang dilakukan oleh orang atau kelompok yang sama. Sementara itu, mobilitas sosial antargenerasi (intergenerasi) adalah mobilitas sosial yang dilakukan oleh keturunan, seperti anak atau cucu.

Baca juga: Kesenjangan Sosial

Mobilitas Sosial Horizontal

Mobilitas sosial horizontal terjadi ketika adanya perubahan kedudukan pada strata yang sama. Kedudukan individu bisa berubah naik atau turun pada strata yang sama. Perubahan terjadi tanpa adanya perubahan kedudukan individu tersebut, namun peran yang dipegang individu tersebut bisa berubah.

Apabila dihubungkan dengan gaji seseorang, maka mobilitas sosial horizontal tidak memengaruhi gaji. Walaupun pergeseran yang terjadi tidak menaikkan atau menurunkan posisi individu tersebut, namun bisa saja individu menghadapi beberapa kesulitan dalam melaksanakan tugas yang baru.

Misalnya, individu tersebut harus mempelajari beberapa hal dari awal atau melakukan penyesuaian dengan kelompok baru. Perubahan yang terjadi pada orang yang sama dikenal juga sebagai mobilitas sosial horizontal intragenerasi.

Selain intragenerasi, mobilitas sosial horizontal antargenerasi atau intergenerasi juga dapat terjadi. Jika orang tua dan anak memiliki pekerjaan yang berbeda dengan kedudukan sosial yang sama. Artinya, suatu generasi tidak menurunkan segalanya pada generasi selanjutnya.

Contoh Mobilitas Sosial Intragenerasi dan Mobilitas Sosial Antargenerasi

Banyak contoh kejadian mobilitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut merupakan beberapa contoh mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat, yaitu:

Mobilitas Sosial Vertikal Intragenerasi

  • Seorang guru fisika di SMA X telah bekerja cukup lama dan memiliki prestasi dan pangkat yang memenuhi, akhirnya memperoleh promosi jabatan menjadi kepala sekolah.
  • Seorang lurah yang memperoleh dukungan dari masyarakat, kemudian terpilih menjadi seorang bupati setelah mencalonkan diri.

Mobilitas Sosial Vertikal Antargenerasi

  • Seorang bapak memiliki usaha yang sukses di sebuah kota, namun anaknya memilih untuk menjadi seorang guru honorer.
  • Seorang ibu yang merupakan pedagang sayur keliling menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Anaknya bekerja di suatu perusahaan di kota besar.

Mobilitas Sosial Horizontal Intragenerasi

  • Seseorang yang bekerja sebagai manajer operasional dipindahkan menjadi manajer keuangan. Orang tersebut tetap memiliki gaji yang sama, walaupun melakukan tugas yang berbeda.
  • Seorang pegawai bank di kota X dipindahkan ke kota Y. Pegawai bank tersebut tidak mengalami perubahan jabatan, namun hanya berubah tempat kerja.

Mobilitas Sosial Horizontal Antargenerasi

  • Seorang ibu memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri di kantor pemerintah dan anaknya merupakan guru tetap di SMA negeri. Ibu dan anak tersebut memiliki kedudukan atau tingkat yang sama, namun peran yang dijalankannya berbeda.
  • Seorang ayah bekerja sebagai petani dengan lahan yang luas dan termasuk ke dalam golongan kelas menengah di masyarakatnya. Sementara itu, anaknya memilih menjadi seorang pedagang sukses di pasar. Ayah dan anak tersebut berada pada kelas sosial menengah di masyarakat.

Faktor Pendorong

Mobilitas sosial dapat terjadi dengan adanya beberapa faktor pendorong. Faktor pendorong tersebut akan memudahkan individu atau kelompok untuk melakukan mobilitas sosial.

Status Sosial

Individu yang berada pada status sosial rendah cenderung merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini. Hal tersebut menjadi faktor pendorong untuk melakukan mobilitas sosial untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi.

Keadaan Ekonomi

Situasi ekonomi yang positif akan mendorong seseorang untuk melakukan mobilitas sosial. Misalnya, menjalankan bisnis baru.

Kondisi Sosial Budaya

Situasi sosial budaya yang terdapat pada suatu wilayah bisa dilihat dari karakteristik penduduk wilayah tersebut. Jika karakteristik penduduk cenderung terbuka pada perubahan, artinya penduduk pada wilayah tersebut lebih mudah melakukan kegiatan mobilitas sosial.

Kondisi Politik

Situasi politik yang baik akan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial. Contohnya, pada negara demokrasi setiap individu diberikan kebebasan dalam menentukan kehidupannya.

Kondisi Geografis

Jika dilihat dari keadaan geografis, wilayah perkotaan cenderung menarik banyak individu untuk melakukan mobilitas sosial. Hal tersebut disebabkan adanya anggapan kota besar menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.

Latar Belakang Etnis

Beberapa etnis tertentu mengharuskan anak-anaknya merantau ke luar wilayah agar bisa melakukan mobilitas sosial.

Selain memiliki dampak yang positif, mobilitas sosial juga menimbulkan beberapa dampak negatif. Keinginan seseorang saja tidak cukup untuk melakukan mobilitas sosial, terdapat beberapa faktor penghambat yang mengakibatkan individu sulit melakukan perpindahan tingkatan.