Posted on

10 Faktor Pendorong Perubahan Sosial

faktor pendorong perubahan sosial

Perubahan sosial dapat terjadi secara disadari maupun tanpa disadari. Perubahan sosial yang terjadi secara cepat didukung oleh adanya faktor pendorong perubahan sosial dalam masyarakat. Kebudayaan dan lingkungan akan mempengaruhi individu dalam melakukan perubahan sosial. Tidak semua orang melakukan perubahan sosial, biasanya terjadi pada orang dengan pemikiran terbuka.

Terjadinya perubahan pada individu maupun kelompok diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih maju dan positif. Masyarakat akan berusaha untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk menutupi berbagai macam kekurangan dalam kehidupan yang dirasakan.

10 Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Ada banyak faktor yang bisa mendorong suatu masyarakat melakukan perubahan sosial. Faktor tersebut tidak hanya muncul dari keinginan dari dalam diri, ada beberapa hal yang timbul dari faktor luar. Berikut merupakan 10 faktor pendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat, yaitu:

Bisa Menerima Hal Baru (Inovasi) dengan Mudah

Sikap bisa menerima hal baru dengan mudah akan menciptakan adanya perubahan. Orang tua yang selalu berusaha untuk memperbaharui teknologi informasi, maka cenderung tidak tergolong sebagai orang yang konservatif. Saat ini perubahan teknologi terjadi sangat cepat dan tidak berhenti.

Kebanyakan orang tua merasa sulit untuk mengikuti adanya perubahan-perubahan yang terus berlangsung. Banyak orang tua merasa sulit untuk mempelajari hal baru dan mencoba beradaptasi dengan teknologi yang rumit.

Berbeda dengan anak-anak remaja atau baru dewasa yang cenderung selalu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang. Oleh karena itu, sikap dapat menerima inovasi dengan mudah merupakan faktor pendorong perubahan sosial.

Baca juga: 10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial 

Kontak dengan Budaya Lain

Ketika ada suatu kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan tertentu merasa terbuka dengan kebudayaan lainnya, maka pada kelompok masyarakat tersebut akan terjadi sebuah kontak kebudayaan. Di era serba digital ini, rasanya sangat mudah untuk mengetahui dan memahami budaya lain, bahkan budaya luar negeri.

Salah satu proses yang terjadi dikenal sebagai difusi. Difusi adalah proses penyebaran elemen yang berhubungan dengan kebudayaan. Difusi dapat menghasilkan sebuah penemuan baru yang telah diterima oleh suatu masyarakat, kemudian disebarluaskan ke masyarakat lainnya. Proses difusi seperti itu dapat mendorong pertumbuhan kebudayaan dan memperkaya kebudayaan.

Sehingga, kontak dengan kebudayaan lain sangat mungkin untuk dilakukan. Kontak budaya adalah hasil perpaduan dari dua kebudayaan atau lebih. Kontak budaya diharapkan memberikan dampak yang positif, misalnya mengurangi prasangka burung dengan kebudayaan lain yang berbeda dengan kebudayaan sendiri.

Hal tersebut akan mencegah terjadinya konflik-konflik sosial akibat kebudayaan yang berbeda.

Bisa Menghargai Hasil Karya

Penghargaan seperti Adipura yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat akan memberikan motivasi yang baik atau penghargaan Nobel. Penghargaan tersebut menjadi semangat yang besar untuk mendorong masyarakat berkembang dan maju agar bisa menjadi lebih baik lagi. Pemberian penghargaan adalah bentuk dari sikap menghargai terhadap hasil karya orang lain.

Keinginan untuk maju dan berkembang yang dimiliki individu juga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya. Keinginan dalam diri akan menjadi sebuah pendorong bagi individu tersebut untuk terus melakukan perubahan terhadap kondisi yang ada.

Sistem Pendidikan yang Maju

Sistem bisa dijelaskan sebagai bagian yang tidak dapat terpisah antara satu dengan yang lainnya, sehingga setiap bagian menjadi terhubung untuk menciptakan hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Sementara itu, sistem pendidikan yang baik harus bisa mengorganisir inovasi, sikap, kreasi, dan intelektual pengajar maupun peserta didik dengan fasilitas yang mendukung. Sistem pendidikan yang terorganisir dan baik diharapkan dapat mendukung perubahan sosial ke arah yang lebih maju dan baik.

Pendidikan dapat memberikan nilai-nilai penting bagi manusia, seperti cara berpikir secara ilmiah dan membuka pikiran secara lebih luas. Apabila pendidikan dikelola secara baik, maka pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, namun mendidikan siswa untuk bisa berpikir secara objektif dan kritis. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan agar siswa bisa menilai sesuatu lebih baik.

Baca juga: Nilai Sosial

Penduduk yang Heterogen

Heterogenitas adalah bentuk dari adanya perbedaan antara satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut memiliki arti dan lingkup yang sangat luas, misalnya budaya hingga pandangan terhadap politik. Semakin besar dan kompleks keberagaman, maka kehidupan masyarakat juga semakin dinamis.

Umumnya, terdapat keragaman opini maupun ide di dalam penduduk yang heterogen. Bermacam-macam opini dan ide akan terus mengalir untuk menciptakan sebuah inovasi yang baru. Penduduk yang beragam juga akan terpacu untuk mencoba berbagai hal yang baru. Keseragaman yang terjadi bisa dikatakan sebagai kondisi statis.

Masyarakat yang Terbuka

Sistem lapisan masyarakat yang terbuka dapat menciptakan sebuah peluang kepada orang-orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan perubahan sosial dalam hidupnya sendiri dan kehidupan bermasyarakat.

Open stratification yang ada pada kehidupan bermasyarakat memungkin terjadinya gerak sosial secara vertikal. Keadaan tersebut membuka kesempatan besar bagi individu untuk memperoleh jabatan atau tingkat yang lebih tinggi. Seseorang dapat melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dengan cara kerja keras serta melakukan perubahan-perubahan yang mendorong kemajuan.

Oleh karena itu, semakin terbuka sistem lapisan masyarakat maka peluang untuk melakukan perubahan yang lebih baik juga akan semakin besar.

Berorientasi pada Masa Depan

Masyarakat yang selalu memiliki orientasi terhadap masa depan biasanya akan menerima proses perubahan sosial secara lebih cepat. Individu tersebut memiliki pemikiran jangka panjang dengan pola pikir yang lebih terbuka. Masyarakat memiliki tujuan yang bisa diperoleh dengan cara melakukan perubahan sosial.

Masyarakat dengan orientasi masa depan akan lebih cepat maju dan berkembang dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki sikap tertutup. Berorientasi pada masa depan akan mendorong masyarakat untuk menerima serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai sosial sesuai dengan perkembangan budaya secara luas.

Rasa Tidak Puas Masyarakat terhadap Berbagai Hal dalam Kehidupan

Banyak masyarakat yang sadar bahwa ada kekurangan dalam kehidupannya. Perasaan tersebut menjadi pemicu masyarakat untuk melakukan perubahan. Masyarakat yang merasa dibatasi akan sadar dengan berbagai kebutuhan hidup. Rasa tidak puas selalu mendorong individu untuk bisa berubah menjadi lebih baik.

Kekurangan yang dirasakan oleh individu bisa dipenuhi dengan cara menjalin interaksi atau hubungan dengan masyarakat lainnya. Akhirnya, masyarakat akan mengubah cara pikir dan mulai mencoba berbagai hal baik dari kebudayaan luar.

Faktor Internalisasi Hakikat Manusia

Faktor dari dalam diri manusia yang menjadi faktor pendorong perubahan sosial dapat dilihat dengan adanya sifat manusia yang selalu berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Hal tersebut akan dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya pendidikan, bisnis, atau lainnya.

Apabila unsur-unsur tersebut disatukan, maka bisa menjadi sebuah pendorong terjadinya perubahan sosial positif dalam masyarakat.

Rasa Toleransi

Secara singkat, toleransi adalah sikap menghargai perbedaan tanpa memandang orang lain serta kebudayaan yang dimilikinya lebih rendah. Sikap toleransi dapat ditemui dengan mudah dalam diri orang-orang negara maju.

Misalnya, kota maju dengan penduduk mayoritas berkulit putih memiliki pemimpin dari golongan kulit hitam. Hal tersebut bisa terjadi karena pemikiran terbuka yang dimiliki oleh masyarakat.

Perubahan sosial muncul karena harapan masyarakat yang ingin membuat kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Individu atau masyarakat yang memiliki pemikiran terbuka dan mengetahui batasan-batasan akan menghasilkan perubahan sosial yang positif untuk dirinya maupun lingkungannya.

Posted on

10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

faktor penghambat perubahan sosial

Terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat diakibatkan adanya faktor pendukung untuk mewujudkannya. Namun, selain itu perubahan sosial juga bisa sulit terjadi karena adanya faktor penghambat perubahan sosial dalam masyarakat. Walaupun saat ini zaman sudah modern, namun masih banyak masyarakat yang menolak untuk mengikuti hal tersebut.

Pemikiran masyarakat yang sulit berubah akan menghambat terjadinya perubahan sosial. Hal tersebut terjadi karena sebagian masyarakat merasa bahwa perubahan sosial yang terjadi akan memiliki dampak yang buruk. Sehingga, masyarakat menolak sebuah perubahan sosial dalam masyarakat.

10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Saat ini terjadi banyak perubahan yang dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih maju. Namun, keinginan tersebut dapat terhambat dengan adanya faktor-faktor yang menghambat perubahan sosial. Berikut merupakan faktor penghambat perubahan sosial, yaitu:

Adat dan Kebiasaan

Setiap masyarakat dalam sebuah negara memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda, termasuk Indonesia. Adat serta kebiasaan adalah perilaku anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adat dan kebiasaan yang terdapat dalam sebuah masyarakat sulit atau tidak berubah ketika timbul krisis adat dan kebiasaan.

Saat ini, adat istiadat dan kebiasaan bisa dikatakan kurang efektif untuk dipakai dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat, adat dan kebiasaan yang sudah biasa digunakan akan sangat sulit untuk diubah. Hal tersebut menjadi faktor penghambat untuk melakukan perubahan sosial.

Baca juga: Faktor Penyebab Gejala Sosial

Timbul Rasa Khawatir terhadap Integrasi Masyarakat

Beberapa orang dalam kelompok masyarakat merasa khawatir bahkan takut dengan adanya perubahan di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena masyarakat memiliki anggapan bahwa perubahan bisa membuat integrasi masyarakat menjadi goyah.

Perubahan yang terjadi pada lapisan masyarakat juga dianggap bisa mengganggu tatanan sosial yang sudah berlangsung hingga saat ini. Contoh dari faktor ini adalah pemakaian traktor untuk mengolah lahan pertanian.

Awalnya, petani yang berada di desa menolak penggunaan traktor, karena dianggap bisa menghilangkan budaya gotong royong yang ada di antara petani. Tetapi, semakin berjalannya waktu, penggunaan traktor menjadi hal yang biasa dan banyak dilakukan sampai saat ini.

Hambatan Ideologis

Perubahan sosial di dalam masyarakat akan sulit terjadi jika berbeda dengan suatu paham atau ideologi yang terdapat pada suatu kelompok masyarakat. Hal tersebut timbul karena setiap perubahan yang berhubungan dengan keyakinan akan ditolak. Penolakan dari masyarakat hadir karena anggapan yang bertentangan dengan ideologi yang ada.

Contoh hambatan ideologis yang terjadi, seperti sebelum pembangunan jalan besar dilakukan di suatu daerah, masyarakat perlu melakukan ritual terlebih dahulu. Tetapi, ada juga pembangunan yang tidak perlu dilalui dengan ritual terlebih dahulu. Bagi penganut paham tertentu, pembangunan jalan tersebut bisa ditolak karena dianggap bertentangan dengan ideologi yang diyakini.

Sikap Tertutup

Salah satu faktor penghambat perubahan sosial yang masih banyak ditemukan adalah sikap tertutup yang dimiliki oleh masyarakat. Sikap tertutup atau yang dikenal sebagai sikap konservatif adalah rasa takut untuk melakukan perubahan untuk menuju sebuah kemajuan.

Masyarakat yang memiliki sikap tertutup berpikiran apabila setiap unsur atau elemen yang datang dari luar merupakan ancaman bagi diri dan lingkungannya. Sikap tertutup biasanya dirasakan oleh masyarakat yang pernah merasakan penjajahan oleh bangsa lain.

Masyarakat yang pernah dijajah akan menganggap bahwa hal-hal yang datang dari negara penjajah adalah suatu hal yang buruk dan negatif. Apabila masyarakat ingin melakukan dan mencapai sebuah perubahan sosial, artinya sikap konservatif harus dihindari.

Kepentingan yang Tertanam

Nilai-nilai yang telah ada di masyarakat dalam waktu yang lama akan memunculkan kepentingan-kepentingan kolektif. Hal tersebut tentu dapat menghambat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Hakikatnya setiap perubahan yang terjadi akan meninggalkan nilai-nilai tradisional yang telah ada.

Hadirnya perubahan memiliki tujuan untuk memunculkan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Masyarakat tidak ingin nilai-nilai yang sudah ada menjadi hilang digantikan dengan nilai baru. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa menghilangkan berbagai kepentingan untuk bisa mewujudkan perubahan sosial.

Prasangka terhadap suatu Hal yang Baru

Sebuah prasangka buruk yang muncul terhadap hal baru dalam masyarakat bisa menjadi faktor penghambat perubahan sosial. Saat ada hal baru yang datang, timbul rasa khawatir dari sebagian masyarakat. Apabila merasakan prasangka buruk, sebagian orang dalam masyarakat tersebut akan memengaruhi anggota lainnya untuk menolak terjadinya perubahan tersebut.

Umumnya, masyarakat merasa asing dan tidak terbiasa dengan hal-hal yang baru. Sehingga, timbul stigma negatif di pikiran masyarakat bahkan sebelum perubahan dilakukan. Anggota masyarakat akan berusaha untuk menolak dan melakukan tradisi yang sudah ada.

Hakikat Hidup

Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan orang-orang yang percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan diatur oleh Tuhan, tanpa ada usaha apa-apa yang dilakukan orang tersebut. Dorongan untuk melakukan perubahan atau penghambat perubahan sosial juga akan selalu hadir dalam masyarakat.

Pendorong maupun penghambat perubahan akan bergantung pada kekuatan masyarakat untuk menanggapi hal tersebut. Apabila dorongan lebih besar daripada hambatan, maka perubahan sosial bisa saja terjadi. Namun, apabila hambatan lebih besar, maka perubahan sosial akan sulit terwujud.

Sikap Tradisional Masyarakat

Banyak anggota masyarakat yang masih berpegang pada sikap tradisional, karena dianggap memberikan banyak kemudahan. Tradisi yang sudah hadir dalam waktu yang lama dijadikan sebuah warisan yang harus dilestarikan dan tidak bisa diubah.

Pola pikir masyarakat yang tradisional akan menghambat terjadinya perubahan sosial. Masyarakat yang tertutup dan ingin bertahan dengan kepemimpinan masyarakat cenderung lebih sulit untuk berubah.

Hubungan Antar Masyarakat Lain yang Minim

Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan kehadiran orang lain untuk melakukan interaksi. Oleh karena itu, masyarakat yang jarang berinteraksi atau berhubungan dengan masyarakat lainnya akan merasakan perubahan yang lebih lambat.

Masyarakat tidak memiliki pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat lain, yang nantinya tidak akan memperkaya kebudayaan yang dimiliki. Individu akan terisolasi dengan budaya yang dimiliki serta pemikiran tradisional tanpa bisa berkembang. Hal tersebut akan sangat menghambat adanya perubahan sosial.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Lambat

Perkembangan ilmu yang lambat dapat terjadi akibat terbatasnya pergaulan masyarakat. Individu yang tidak memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu lebih banyak akan memengaruhi perubahan sosial. Pola pikir individu menjadi terbelakang dan bisa menimbulkan pandangan yang negatif terhadap orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.

Ilmu pengetahuan juga termasuk teknologi-teknologi yang semakin berkembang. Orang-orang yang tidak terbiasa dan sulit menerima perkembangan teknologi akan memiliki pemikiran yang lebih sempit. Akhirnya, masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang tertinggal, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lambat.

Ilmu adalah salah satu hal yang penting untuk mendukung terjadinya sebuah perubahan. Tanpa adanya ilmu, masyarakat tidak akan menyadari bahwa banyak hal positif yang dapat diperoleh dengan adanya perubahan sosial. Masyarakat akan mencoba menolak, karena pola pikirnya yang tidak memandang jauh dan cenderung sempit.

Faktor-faktor yang bisa menghambat perubahan sosial biasanya ditemukan dalam kehidupan masyarakat desa atau masyarakat yang teguh dengan adat. Hal tersebut memang sulit untuk diubah dan membutuhkan pendekatan yang baik apabila perubahan ingin dilakukan di tempat tersebut.

Posted on

Stratifikasi Sosial: Pengertian, Contoh, Dampak Fungsi dan Jenis

stratifikasi sosial

Stratifikasi Sosial – Pada kenyataannya, ternyata tingkatan masyarakat adalah hal yang terjadi. Hal tersebut menjadikan banyak orang semena-mena dengan orang yang dianggap memiliki tingkat lebih rendah dibandingkan dengan dirinya. Hal tersebut dikenal dengan stratifikasi sosial, yang menurut sifatnya dibagi menjadi stratifikasi sosial terbuka dan stratifikasi sosial tertutup.

Sebenarnya, keberadaan tingkatan-tingkatan masyarakat sudah ada sejak lama. Keberadaan lapisan masyarakat tersebut bisa menimbulkan berbagai hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat diperlukan untuk tidak memanfaatkan keberadaan tingkatan masyarakat untuk hal yang buruk.

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial adalah sebuah pembeda yang mengategorikan masyarakat menjadi beberapa kelas secara vertikal yang diwujudkan dalam bentuk tingkatan masyarakat paling tinggi sampai paling rendah. Stratifikasi sosial terbentuk dari kebiasaan individu dalam berhubungan dengan individu lainnya yang teratur dan tersusun.

Dalam kehidupan masyarakat yang memiliki taraf kebudayaan sederhana, lapisan yang terbentuk masih sedikit. Sedangkan dalam kehidupan masyarakat modern lapisan masyarakat yang terbentuk menjadi lebih tajam dan kompleks. Secara mudah, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai suatu pembeda yang menggolongkan masyarakat ke dalam suatu lapisan hierarki.

Baca juga: Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Contoh Stratifikasi Sosial

Terdapat banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang memperlihatkan bahwa stratifikasi sosial adalah nyata. Beberapa contoh stratifikasi sosial yang terjadi, yaitu:

  • Seseorang yang memiliki tingkat ekonomi yang baik bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang tinggi dibandingkan dengan orang dengan perekonomian rendah.
  • Walaupun memiliki pekerjaan yang sama tetapi petani dapat digolongkan menjadi petani dengan lahan sendiri, petani penggarap dan penyewa, dan buruh tani.
  • Orang yang memiliki banyak uang bisa berobat ke rumah sakit dengan kualitas yang bagus, berbeda dengan orang miskin yang hanya bisa berobat ke rumah sakit yang menerima pengajuan bantuan untuk orang miskin.
  • Di Bali, seseorang bisa memperoleh sebuah posisi dan nama berdasarkan kastanya sejak dilahirkan. Oleh karena itu, seseorang akan sulit untuk berpindah ke kasta lainnya. Orang yang berada dalam kasta tinggi akan sulit berubah menjadi kasta yang lebih rendah, kecuali seseorang melakukan sebuah kesalahan yang berat. Hal ini termasuk ke dalam stratifikasi sosial tertutup.

Dampak Stratifikasi Sosial

Keberadaan stratifikasi sosial di masyarakat memiliki banyak dampak, baik itu dampak positif atau negatif. Beberapa dampak stratifikasi sosial yang terjadi, yaitu:

Dampak Positif Stratifikasi Sosial

  • Pemerataan pembangunan di setiap daerah yang semakin meningkat sebagai upaya untuk menghilangkankan adanya kesenjangan sosial.
  • Muncul sebuah kemauan dari individu dalam masyarakat untuk bersaing berpindah ke tingkatan yang lebih tinggi, sehingga individu lebih bekerja keras untuk menghasilkan sebuah prestasi.

Dampak Negatif Stratifikasi Sosial

  • Konflik di antara Kelas

Di masyarakat terdapat sebuah tingkatan sosial berdasarkan pendidikan, kekuasaan, dan kekayaan. Kelompok-kelompok tersebut dikenal sebagai kelas sosial. Jika terdapat sebuah perbedaan kepentingan di antara kelas sosial maka konflik antar kelas akan muncul. Misalnya, demonstrasi yang dilakukan buruh untuk menuntut kewajiban dari perusahaan.

  • Konflik di antara Kelompok Sosial

Masyarakat yang majemuk dan beragam bisa menjadi latar belakang munculnya kelompok sosial. Beberapa kelompok sosial terbentuk berdasarkan agama, ras, suku, ideologi, atau profesi. Hal tersebut bisa memunculkan keinginan untuk menguasai kelompok sosial lainnya yang dilakukan dengan cara pemaksaan yang mengakibatkan konflik kelompok sosial.

  • Konflik Antargenerasi

Konflik ini bisa terjadi apabila generasi tua yang berusaha untuk mempertahankan adat serta nilai yang sudah lama berlaku dengan generasi muda yang ingin melakukan perubahan yang dilakukan secara modern. Misalnya, hilangnya sopan santun atau tidak digunakannya musyawarah sebagai cara untuk mengambil keputusan.

Baca juga: Gejala Sosial: Bentuk dan Dampak

Fungsi Stratifikasi Sosial

Keberadaan stratifikasi sosial memiliki banyak fungsi. Berikut adalah beberapa fungsi stratifikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu:

  • Stratifikasi sosial berfungsi untuk mengatur, menyusun, serta mengawasi hubungan antar anggota masyarakat. Stratifikasi sosial akan mengatur partisipasi individu dalam kehidupan secara menyeluruh. Terlepas dari adanya tingkatan strata yang dimiliki oleh individu, peran stratifikasi sosial adalah untuk mengatur partisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat.
  • Stratifikasi sosial merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tugas utama. Setiap strata akan ditandai dengan simbol yang menunjukkan standar atau ranking dalam kehidupan. Semuanya diatur untuk melakukan perannya masing-masing. Penghargaan masyarakat untuk orang-orang yang melakukan tugasnya dilihat sebagai sebuah insentif agar bisa melakukan pekerjaan lebih baik.
  • Distribusi hak-hak istimewa secara obyektif untuk berbagai kepentingan. Misalnya, penentuan tingkat kekayaan, penghasilan, wewenang, serta keselamatan pada kedudukan seseorang.
  • Alat solidaritas yang ada antara orang-orang atau kelompok yang berada dalam kelas sosial yang sama.
  • Sebagai penentu simbol status, misalnya cara berpakaian, bentuk rumah, atau tingkah laku.

Jenis Stratifikasi Sosial

Terdapat beberapa jenis stratifikasi sosial yang ada di dalam masyarakat. Beberapa jenis stratifikasi sosial, yaitu:

Hierarki Kelas (Class Hierarchies)

Hierarki kelas merupakan jenis stratifikasi sosial yang didasarkan pada penguasaan barang atau jasa. Misalnya, di Indonesia masyarakat dikelompokkan menjadi masyarakat kaya, menengah, dan miskin. Pengelompokan tersebut terjadi dengan melihat kriteria yang sudah ditetapkan oleh BPS atau Biro Pusat Statistik.

Setiap tahun BPS akan mengeluarkan batasan perbedaan pendapatan per kapita per tahun yang dibedakan berdasarkan wilayahnya. Berdasarkan BPS, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi standar tertentu yang merupakan kebutuhan dasar.

Hierarki Status (Status Hierarchies)

Hierarki status merupakan stratifikasi sosial yang dibuat berdasarkan pembagian status sosial. Jenis stratifikasi ini menggolongkan masyarakat ke dalam dua golongan, golongan masyarakat biasa dan golongan masyarakat yang disegani. Golongan masyarakat yang disegani biasa memiliki gaya hidup yang mewah serta eksklusif.

Stratifikasi sosial ini diwujudkan sebagai bentuk pembatasan terhadap pergaulan dengan orang yang berada dalam golongan yang lebih rendah. Misalnya, di dalam lingkungan kerajaan menganggap bahwa anggota kerajaan yang menikah dengan masyarakat yang bukan berasal dari golongannya adalah hal yang menyimpang.

Hierarki Kekuasaan (Power Hierarchies)

Hierarki kekuasaan merupakan stratifikasi sosial yang dibuat berdasarkan kekuasaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Kekuasaan merupakan kemampuan yang dimiliki untuk memengaruhi masyarakat dan memengaruhi pembuatan sebuah keputusan. Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat dua kelas masyarakat, yaitu kelas yang berkuasa dan yang dikuasai.

Kelas yang berkuasa memiliki jumlah yang lebih kecil dan berperan dalam melakukan fungsi politik serta menikmati berbagai keuntungan dari kekuasaan tersebut. Sementara itu, kelas yang dikuasai berjumlah lebih besar dan dikendalikan oleh kelas yang berkuasa.

Perbedaan Stratifikasi Sosial Terbuka dan Tertutup

Jika dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi stratifikasi sosial terbuka dan stratifikasi sosial tertutup. Stratifikasi sosial yang bersifat terbuka bersifat dinamis dan anggota strata yang berada di dalamnya bisa melakukan mobilitas. Misalnya, orang yang miskin dengan keinginan dan kerja keras dapat menjadi orang yang kaya.

Stratifikasi sosial tertutup merupakan tingkatan masyarakat yang anggotanya sulit melakukan mobilitas vertikal. Misalnya, keberadaan sistem kasta, feodal, atau rasialis. Namun, selain sifat terbuka dan tertutup ada juga yang dikenal sebagai stratifikasi sosial campuran.

Misalnya, orang yang memiliki kedudukan terhormat di Bali, saat ia pindah dari Bali, ia bekerja sebagai pekerja kasar dan tidak dianggap memiliki kedudukan terhormat. Ia harus berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku.

Walaupun keberadaan stratifikasi sosial sulit dihilangkan, namun hal-hal yang menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat dapat dikurangi. Perasaan saling menghargai antar sesama akan membuat orang merasa dihargai dan tidak akan menimbulkan konflik karena perbedaan kepentingan.

Posted on

Kesenjangan Sosial: Faktor, Dampak, Contoh dan Cara Mengatasinya

pengertian-dan-cara-mengatasi-kesenjangan-sosial

Ekonomi termasuk sebagai hal yang paling penting bagi masyarakat maupun negara. Namun, tidak semua individu memiliki kondisi ekonomi yang baik. Ada masyarakat dengan tingkat ekonomi yang tinggi, namun ada yang digolongkan dengan kategori rendah. Perbedaan yang ada di masyarakat merupakan kesenjangan sosial ekonomi yang nyata.

Kesenjangan sosial bisa menimbulkan berbagai masalah yang lainnya. Apabila tidak bisa dikendalikan atau diatasi, permasalahan yang terjadi akan semakin besar. Kondisi muncul akibat berbagai macam faktor dan sebagai pemegang kepentingan pemerintah perlu melakukan sebuah tindakan.

Pengertian Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial adalah keadaan yang timpang di dalam kehidupan masyarakat atau adanya ketidakseimbangan. Ketimpangan tersebut bisa dialami oleh individu atau kelompok masyarakat akibat adanya ketidaksetaraan distribusi hal-hal penting. Kesenjangan sosial sering dihubungkan dengan perbedaan pada tingkat ekonomi masyarakat, seperti kepemilikan harta, barang, dan sebagainya.

Kesenjangan sosial yang terjadi dapat dilihat dengan adanya peluang yang tidak sama untuk posisi tingkatan sosial yang berbeda.

Baca juga: Nilai Sosial

Faktor Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial tidak terjadi dengan sendirinya. Walaupun ada banyak contoh kesenjangan sosial yang terjadi, namun masih banyak orang yang belum memahami mengenai kesenjangan sosial dan penyebab terjadi masalah tersebut. Berikut merupakan beberapa faktor penyebab kesenjangan sosial di masyarakat, yaitu:

Perbedaan Sumber Daya Alam

Perekonomian daerah sangat dipengaruhi oleh SDA yang ada di daerah tersebut. Apabila SDA dikelola dengan sungguh-sungguh, maka tingkat perekonomian juga akan meningkat. Daerah dengan jumlah SDA yang menurun atau bahkan kekurangan akan mempengaruhi perekonomian daerahnya sendiri.

Pengaruh Globalisasi

Globalisasi memiliki banyak dampak bagi kehidupan, salah satunya membuat kehidupan menjadi lebih maju. Tetapi, keberadaan globalisasi juga memicu timbulnya kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini 3dapat terjadi jika masyarakat tidak mampu beradaptasi dan tidak dapat memanfaatkan kemajuan yang ada dengan baik.

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah dapat menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan timbulnya kesenjangan sosial. Misalnya, program transmigrasi. Masyarakat pendatang biasanya lebih cepat berkembang dan sukses dibandingkan masyarakat asli daerah tersebut. Peluang besar yang diberikan pada pendatang membuat masyarakat dapat berkembang secara cepat.

Hal tersebut memicu kesenjangan sosial antar kelompok masyarakat yang tinggal di daerah yang sama.

Letak dan Kondisi Geografis

Pembangunan pada suatu daerah akan dipengaruhi oleh letak serta kondisi geografis. Masyarakat yang hidup pada dataran tinggi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan infrastruktur dibandingkan masyarakat yang ada di dataran rendah. Hal tersebut menjadikan masyarakat yang tinggal di dataran tinggi lebih lambat berkembang daripada masyarakat dataran rendah.

Faktor letak dan kondisi geografis tersebut akhirnya menjadi pemicu kesenjangan sosial antar masyarakat.

Baca juga: Pengendalian Sosial

Kondisi Demografis

Pertumbuhan masyarakat, kesehatan, pekerjaan, pendidikan, serta struktur kependudukan akan memperlihatkan kondisi demografis pada suatu daerah. Keadaan demografis di suatu daerah yang berbeda dengan daerah lain akan menimbulkan kesenjangan sosial. Karena produktivitas kerja di suatu daerah tidak sama dengan daerah lainnya.

Dampak Kesenjangan Sosial Ekonomi

Dampak yang timbul akibat kesenjangan sosial cenderung negatif. Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh kesenjangan sosial dalam masyarakat, yaitu:

Pengangguran dan Kemiskinan

Kesenjangan sosial ekonomi bisa dilihat jelas dengan angka pengangguran dan kemiskinan yang meningkat. Apabila masyarakat tanpa pekerjaan dan dikategorikan miskin menjadi mayoritas dalam suatu negara, maka pendapatan yang diperoleh oleh orang-orang tersebut juga rendah.

Pendapatan yang rendah dan tidak pasti membuat daya beli masyarakat terhadap barang-barang sekunder akan menurun. Hal tersebut dapat menimbulkan keuntungan yang tidak optimal pada perusahaan.

Munculnya Tindak Kejahatan

Jika melihat berita, setiap hari pasti ada kasus kejahatan yang terjadi. Tingginya tindak kejahatan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat muncul akibat adanya masalah keuangan yang mengakibatkan kesenjangan sosial. Hingga detik ini, ekonomi merupakan faktor yang paling besar dalam menyebabkan individu atau kelompok berbuat tindakan kejahatan.

Susah Mencari Tenaga Kerja yang Berkualitas

Walaupun jumlah pengangguran di Indonesia cukup banyak, tetapi masih banyak perusahaan atau tempat kerja yang sulit memperoleh tenaga kerja dengan kualifikasi yang bagus. Kesenjangan sosial menjadi sebab kualitas dan tingkat pendidikan masyarakat rendah dan di bawah rata-rata.

Walaupun banyak masyarakat dengan gelar sarjana, tetapi pada realita keahlian tersebut belum dibutuhkan atau bahkan belum dimiliki oleh individu tersebut.

Target Pasar yang Tidak Jelas

Ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat membuat target pasar yang dibuat oleh perusahaan menjadi tidak jelas. Apabila perusahaan memiliki target pasar untuk kalangan masyarakat tingkat menengah ke bawah, maka hal tersebut bisa merugikan perusahaan akibat daya beli yang tidak stabil.

Namun, jika perusahaan menetapkan masyarakat kelas menengah ke atas sebagai target pasar juga belum tentu menjamin perusahaan mendapatkan keuntungan. Kejadian tersebut bisa saja terjadi jika kecenderungan masyarakat menengah ke atas banyak membeli produk luar negeri.

Baca juga: Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Contoh Kesenjangan Sosial

Ada banyak contoh kesenjangan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh kesenjangan sosial, yaitu:

  1. Pemberian hukuman kepada koruptor selama 2 tahun penjara, sementara itu pencuri buah ditetapkan hukuman 3 tahun penjara.
  2. Perlakukan istimewa terhadap anak guru atau anak petinggi sekolah.
  3. Ketidakadilan bagi buruh perempuan yang diberi upah lebih sedikit daripada buruh laki-laki.
  4. Perhatian pemerintah yang masih minim dalam penyediaan fasilitas umum untuk penyandang disabilitas.
  5. Bebas dari hukuman tilang bagi orang-orang yang memiliki akses dengan pihak kepolisian.
  6. Perlakuan yang berbeda antara konsumen dengan penampilan seperti orang kaya dan konsumen yang berpenampilan biasa di suatu tempat belanja.
  7. Murid yang pintar diperlakukan secara istimewa oleh guru dibandingkan dengan murid biasa.
  8. Pemberian fasilitas sekolah yang berbeda untuk si kaya dan si miskin.
  9. Pemberian layanan kesehatan di rumah sakit yang berbeda untuk pasien kaya dan pasien miskin yang menggunakan kartu bantuan pemerintah.

Cara Mengatasi Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial merupakan sebuah masalah yang nyata dan memerlukan solusi untuk mengatasinya. Solusi ini diperlukan pemerintah agar bisa memberantas masalah kesenjangan sosial yang sudah lama terjadi. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesenjangan sosial, yaitu:

  1. Masalah pendidikan harus diutamakan dan diperhatikan agar setiap anak memiliki akses yang mudah untuk memperoleh pendidikan.
  2. Meningkatkan sistem keadilan serta melakukan pengawasan terhadap mafia hukum.
  3. Membuka banyak lapangan pekerjaan untuk mengurangi masalah pengangguran.
  4. Meminimalisir KKN yang terjadi di Indonesia.
  5. Memberantas masalah korupsi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.
  6. Akses kesehatan, informasi, dan pendidikan gratis untuk mempercepat pembangunan di desa atau daerah yang tertinggal.
  7. Pemberian modal bagi masyarakat yang memerlukan untuk mendirikan usaha sebagai alternatif mata pencaharian.
  8. Penekanan kebijakan pemerintah dalam hal perbaikan serta peningkatan infrastruktur desa.

Masalah ekonomi bisa dikatakan sebagai masalah utama yang menciptakan adanya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat. Ketimpangan yang nyata antara individu satu dengan individu lainnya merupakan salah satu contoh nyata dari kesenjangan sosial. Pemerintah dan masyarakat harus bisa bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah ini agar tidak menjadi semakin besar.

Posted on

5 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

syarat-interaksi-sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang perlu melakukan interaksi sosial. Interaksi adalah kebutuhan yang perlu dipenuhi setiap hari agar individu tersebut merasa lebih utuh. Interaksi sosial bisa terjadi apabila syarat terjadinya interaksi sosial bisa terpenuhi. Interaksi sosial yang terjadi antara para pelakunya bisa terjadi di mana dan kapan saja.

Interaksi sosial memberikan banyak dampak positif bagi kehidupan. Misalnya, untuk berbagi cerita atau bertukar pendapat mengenai sebuah masalah yang terjadi. Proses ini terjadi sebagai bentuk timbal balik antara dua orang atau lebih.

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial tidak dapat terjadi apabila syarat terjadinya interaksi sosial tidak bisa terpenuhi. Ada beberapa syarat agar interaksi sosial bisa terjadi. Di antara syarat tersebut, ada yang merupakan syarat utama dan syarat pendukung. Berikut adalah 5 syarat interaksi sosial, yaitu:

Terdapat Minimal Dua Orang atau Lebih

Syarat pertama dan merupakan syarat pendukung agar interaksi bisa terjadi adalah ada dua orang atau lebih. Apabila hanya ada satu orang yang melakukan interaksi sosial maka orang tersebut merupakan sebuah kajian psikologi. Interaksi yang terjalin oleh dua orang atau lebih maka akan terlaksana sebuah komunikasi dan kontak sosial.

Sarana untuk melakukan interaksi sosial adalah bahasa. Saat melakukan proses interaksi sosial, setiap individu bisa mengenal dan memahami pribadi diri individu yang menjadi lawan interaksi. Tanpa adanya interaksi sosial yang terjadi, seseorang akan sulit untuk memahami satu sama lainnya.

Baca juga: Dampak Gejala Sosial di Masyarakat

Memiliki sebuah Tujuan

Syarat terjadinya interaksi sosial berikutnya adalah memiliki tujuan yang serupa. Dalam interaksi tujuan memiliki peran yang penting, karena tujuan akan mempererat sebuah hubungan. Apabila interaksi sosial dilakukan tanpa memiliki tujuan bersama maka interaksi sosial yang terjadi bisa menjadi tidak efektif.

Contohnya, ketika ada seseorang yang bercerita mengenai masalah yang dialaminya sampai menangis dan lawan interaksi akan mendengarkan dan menanggapi cerita tersebut maka tujuan bersama akan tercapai.

Tetapi, apabila lawan bicara tidak memberikan respons yang baik atau tidak mendengarkan maka tujuan bersama dari interaksi sosial yang dilakukan tidak berhasil atau tidak tercapai. Oleh karena itu, tujuan bersama adalah hal yang sangat perlu dimiliki agar interaksi sosial bisa terjadi secara baik dan lancar.

Memiliki Kesamaan Konsep

Proses interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau antar kelompok. Keberadaan interaksi sosial sangat penting di dalam masyarakat. Interaksi sosial juga dapat terjadi jika memiliki kesamaan konsep.

Contohnya, jika seseorang melakukan interaksi dengan orang asing, maka orang tersebut akan memakai bahasa asing untuk bisa memulai interaksi. Apabila orang tersebut memiliki pengetahuan dan kemampuan menggunakan bahasa asing, maka interaksi sosial akan terjadi secara lancar.

Namun, jika orang tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berbicara bahasa asing, maka interaksi sosial yang terjadi memiliki kendala. Berdasarkan contoh tersebut, maka bisa dikatakan bahwa orang yang memiliki kemampuan berinteraksi menggunakan bahasa asing memiliki kesamaan konsep dengan orang asing.

Sebaliknya, jika orang yang mencoba berinteraksi tanpa memiliki kemampuan untuk berbicara bahasa asing, maka kedua pihak tersebut tidak memiliki kesamaan konsep yang membuat interaksi sosial terjadi dengan hambatan. Interaksi sosial akan sulit dilakukan dengan keterbatasan-keterbatasan yang membuat ketidaksamaan konsep yang dimiliki.

Baca juga: Cara Pengendalian Sosial di Masyarakat

Kontak Sosial

Memiliki tujuan yang sama, kesamaan konsep, serta terdapat dua orang atau lebih bisa dikatakan sebagai syarat pendukung interaksi sosial. Syarat utama agar interaksi sosial bisa terjadi adalah kontak sosial.

Kontak sosial merupakan hubungan seseorang dengan orang lain yang dilakukan melalui komunikasi dengan maksud dan tujuan masing-masing. Kontak sosial dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kontak sosial adalah proses awal terjadinya sebuah interaksi sosial.

Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif akan mengarah pada kerjasama untuk tujuan bersama. Sementara itu, kontak sosial negatif lebih mengarah pada suatu pertengkaran atau pemutusan interaksi sosial. Kontak sosial memiliki tiga bentuk yaitu kontak sosial yang terjadi antar individu, individu dengan kelompok, atau antar kelompok.

Tiga Bentuk Kontak Sosial

  • Kontak sosial di antara individu yang terjadi pada lingkungan keluarga, misalnya balita yang mulai mengetahui dan mengenal keluarganya. Kontak individu dengan individu akan menghasilkan sebuah kebiasaan baru. Misalnya, ketika seseorang pindah rumah ke lokasi yang berbeda maka orang tersebut akan mengenal orang baru yang ada di lingkungan baru.
  • Kontak sosial yang terjadi antara individu dengan kelompok, misalnya di dalam sebuah acara konser. Kontak yang terjadi adalah penyanyi yang menyapa semua penonton acara konser tersebut.
  • Bentuk kontak sosial antar kelompok, misalnya kerjasama yang dilakukan oleh sebuah kelompok. Kontak sosial yang terjadi juga bisa menimbulkan persaingan di antara kelompok tersebut.

Dua Kelompok Kontak Sosial

  • Kontak sosial dapat dikelompokkan menjadi dua, kontak sosial primer dan kontak sosial sekunder. Kontak sosial primer merupakan kontak yang terjadi tanpa perlu melakukan kontak fisik saja, misalnya melalui bahasa tubuh, percakapan, tatap muka, atau hanya melambaikan tangan. Kontak sosial primer dapat terjadi dengan adanya kehadiran dari orang yang melakukan interaksi sosial.
  • Kontak sosial sekunder adalah kontak sosial yang terjadi tanpa adanya tatap muka atau secara tidak langsung. Misalnya, komunikasi yang dilakukan melalui telepon, email, surat, atau media lainnya. Kontak sosial sekunder bisa dilakukan tanpa harus adanya kehadiran langsung orang yang melakukan interaksi.

Baca juga:

Komunikasi

Salah satu syarat terjadinya interaksi sosial adalah komunikasi. Komunikasi dan kontak sosial merupakan syarat utama dari interaksi sosial. Komunikasi bisa diartikan sebagai hubungan antar seseorang dengan orang lain. Orang yang menyampaikan komunikasi disebut sebagai komunikator, sementara orang yang menerima komunikasi disebut sebagai komunikan.

Pesan merupakan suatu hal yang disampaikan oleh komunikator, pesan tersebut dapat berbentuk instruksi atau informasi. Dalam melakukan komunikasi diperlukan sebuah media. Media merupakan alat untuk menyampaikan komunikasi, baik secara lisan atau tulisan.

Komunikasi dapat dibagi menjadi dua, komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal.

  • Komunikasi verbal adalah komunikasi yang dilakukan secara langsung menggunakan lisan atau kata-kata oleh seseorang. Komunikator akan berbicara mengenai hal yang ingin dibicarakan kepada lawan bicara.
  • Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang digunakan menggunakan tulisan. Contoh dari komunikasi nonverbal, misalnya poster, spanduk, atau bentuk lainnya.

Suatu komunikasi bisa berhasil jika pesan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh komunikan dengan jelas dan baik. Oleh karena itu, jika komunikasi ingin berlangsung dengan baik maka media yang digunakan harus sesuai dengan tujuan dari pesan yang ingin disampaikan.

Umumnya, bentuk komunikasi yang banyak digunakan merupakan komunikasi verbal, karena dianggap lebih efektif dalam menyampaikan sebuah pesan yang dimaksud.

Selain syarat, interaksi sosial juga bisa terjadi dengan adanya faktor pendorong. Interaksi sosial adalah proses yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat dalam bersosialisasi untuk menjalin hubungan yang lebih baik.

Ternyata, tanpa disadari terdapat syarat-syarat yang perlu dipenuhi agar interaksi sosial bisa dilakukan. Walaupun interaksi sosial selalu dikaitkan dalam bentuk positif, ada juga hal-hal yang bisa menjadi faktor untuk memutus interaksi sosial tersebut.

Posted on

Gejala Sosial: Pengertian, Bentuk, Dampak, Faktor Penyebab

pengertian-dan-dampak-gejala-sosial

Setiap hari masyarakat pasti merasakan resah dengan timbulnya masalah. Masalah tersebut diawali dengan timbulnya gejala sosial di masyarakat. Sebelum berkembang menjadi sebuah masalah yang besar dan sulit teratasi, suatu gejala sosial perlu ditangani dengan baik.

Orang yang memiliki pengetahuan dan mampu melakukan kontrol dalam dirinya akan berusaha untuk menjauhi hal-hal buruk. Namun, tanpa disadari keadaan tertentu mendorong seseorang melakukan hal-hal yang bisa menjadi fenomena sosial di masyarakat. Dalam hal ini setiap individu memiliki peran masing-masing dalam mencegah timbulnya masalah sosial.

Pengertian Gejala Sosial

Gejala sosial adalah sebuah fenomena yang muncul dan ditandai dengan adanya permasalahan sosial yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh individu dalam lingkungannya. Fenomena sosial tersebut bisa terjadi jika terdapat perubahan sosial dalam masyarakat.

Perubahan ini memiliki potensi menimbulkan berbagai dampak yang sulit dihindari. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengetahui dan mengantisipasi hal tersebut.

Baca juga: Pengendalian Sosial

Contoh Gejala Sosial di Masyarakat

Contoh gejala sosial dapat ditemukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh tersebut biasanya merupakan sebuah hal yang negatif dan berusaha untuk dihindari. Beberapa contoh gejala sosial di masyarakat, yaitu:

Tindak Kejahatan

Berbagai macam kejahatan yang muncul diawali dengan adanya peniruan, asosiasi yang berbeda, citra diri yang agresif, implementasi peran sosial, serta kekecewaan. Hal tersebut dapat dipicu dengan kepemilikan gaya hidup konsumsi yang tidak sesuai dengan penghasilan yang dimiliki.

Kemiskinan

Kemiskinan merupakan sebuah situasi keadaan seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dan tidak bisa mempertahankan standar hidup dalam kelompok. Kemiskinan dilihat sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak memiliki kondisi ekonomi yang cukup untuk bisa memenuhi standar hidup.

Masalah ini hadir karena adanya institusi sosial pada bidang ekonomi yang tidak bisa berjalan dengan semestinya.

Masalah Masyarakat Generasi Muda

Hal ini terjadi ditandai dengan adanya dua sifat yang saling berlawanan, yaitu sifat apatis dan ingin bertarung. Sikap apatis diwujudkan sebagai tindakan yang membabi buta yang disesuaikan dengan standar moral yang dimiliki oleh generasi yang lebih tua.

Sementara itu, keinginan untuk bertarung terwujud sebagai suatu sikap radikalisme yang sangat berbahaya.

Disorganisasi Keluarga

Bentuk disorganisasi keluarga yaitu keluarga yang tidak lengkap akibat dari perceraian, hubungan di luar nikah, krisis keluarga, komunikasi antar anggota keluarga yang buruk, gangguan mental, dan masalah keluarga lainnya. Anggota keluarga gagal untuk melakukan tanggung jawab sesuai perannya masing-masing.

Pelanggaran Standar Masyarakat

Saat ini banyak muncul pelanggaran yang tidak sesuai dengan nilai sosial dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya, gejala sosial alkoholisme, korupsi, kenakalan remaja, pelacuran, dan contoh lainnya.

Perang

Perang adalah bentuk dari suatu konflik yang terjadi di antara kelompok atau negara yang kemudian berakhir dengan penempatan.

Bentuk Gejala Sosial

Gejala sosial di masyarakat dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk atau jenis. Berikut merupakan beberapa bentuk gejala sosial, yaitu:

Gejala Sosial Budaya

Indonesia merupakan negara dengan keberagaman budaya yang sangat kaya, oleh karena itu setiap masyarakat harus bisa menghormati kebudayaan masing-masing. Seseorang tidak boleh melanggar batas-batas jika masuk ke dalam suatu budaya yang berbeda.

Hal tersebut tidak hanya berlaku di Indonesia, namun masyarakat juga harus bisa menghargai kebudayaan yang dimiliki oleh negara lain. Budaya yang beragam dapat menimbulkan gejala sosial, misalnya pemalsuan buaya asing dan lainnya.

Gejala Sosial Ekonomi

Tingkat perekonomian seseorang yang dilihat berdasarkan penghasilan dapat memicu terjadinya gejala sosial. Fenomena sosial yang terjadi memiliki kaitan yang erat dengan ekonomi masyarakat. Apabila ada orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan, maka akan muncul berbagai fenomena sosial yang bisa terjadi.

Fenomena sosial tersebut seperti pengangguran, populasi yang meningkat, kemiskinan, dan contoh lainnya.

Gejala Sosial Psikologis

Perilaku yang dimiliki seseorang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari sangat dipengaruhi oleh psikologi. Apabila orang memiliki masalah kejiwaan maka besar kemungkinan orang tersebut akan menimbulkan gejala sosial di lingkungan. Contoh dari gejala sosial psikologis yaitu bid’ah.

Gejala Sosial dari Lingkungan Alam

Hal-hal yang terjadi pada lingkungan alam akan berpengaruh pada kehidupan manusia. Gejala sosial tersebut muncul karena faktor alam serta ulah manusia yang mengakibatkan berbagai kerusakan pada alam. Misalnya, kebiasaan membuang sampah di sungai. Hal tersebut bisa menimbulkan banjir yang nantinya berdampak pada kesehatan masyarakat.

Perbedaan Gejala Sosial dan Masalah Sosial

Gejala sosial dan masalah sosial terdengar sebagai suatu hal yang mirip. Sebenarnya apakah gejala sosial dan masalah sosial merupakan hal yang sama? Gejala sosial berbeda dengan masalah sosial. Gejala sosial yang terjadi secara terus menerus dan bisa menjadi sebuah masalah sosial apabila tidak bisa ditangani dengan baik.

Faktor Penyebab Gejala Sosial

Gejala sosial hadir didukung oleh dua faktor penyebab, yaitu faktor kultural dan faktor struktural. Berikut merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya gejala sosial, yaitu:

Faktor Kultural

Faktor kultural atau faktor budaya hadir dari nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Hal tersebut akan tumbuh sebagai pola pikir yang dimiliki oleh orang yang berada di lingkungan tersebut. Contoh dari faktor kultural yang menyebabkan gejala sosial, misalnya kemiskinan, perilaku menyimpang, kerja bakti, gotong royong, dan sebagainya.

Faktor Struktural

Faktor struktural merupakan sebuah keadaan yang timbul dalam memengaruhi struktur. Struktur yang dimaksud merupakan hal yang disusun menggunakan pola tertentu. Faktor tersebut bisa diketahui dengan melihat pola hubungan manusia dengan kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.

Contoh dari faktor sosial yang menyebabkan gejala sosial, yaitu penyuluhan sosial, interaksi antar individu, interaksi individu dengan kelompok, interaksi antar kelompok, jangkauan sosial dan sebagainya.

Dampak Gejala Sosial

Gejala sosial dapat memberikan dampak untuk kehidupan manusia. Dampak yang hadir bisa berupa dampak positif atau negatif untuk masyarakat. Berikut merupakan dampak positif dan negatif dari gejala sosial, yaitu:

Dampak Positif

Gejala sosial yang terjadi tidak bisa diabaikan begitu saja. Hal tersebut harus disikapi secara bijak dan dewasa oleh setiap orang. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat berubah menjadi hal yang positif apabila diantisipasi dengan baik. Misalnya, kemajuan yang cepat dalam bidang teknologi dan informasi.

Perubahan teknologi dan informasi dapat dilihat dari dua sisi. Untuk memperoleh hasil yang optimal dari perubahan teknologi maka setiap orang harus berusaha fokus dengan dampak positif dari perkembangan teknologi. Adanya perkembangan teknologi yang cepat membuat berbagai keperluan manusia juga bisa dilakukan secara cepat dan efektif.

Contohnya, penggunaan smartphone untuk berinteraksi melalui telepon atau chatting.

Dampak Negatif

Selain sikap dewasa yang bisa membuat gejala sosial memiliki dampak positif. Gejala sosial juga memberikan banyak dampak negatif untuk kehidupan masyarakat. Jika individu tidak mampu untuk menerima perubahan yang terjadi secara cepat maka individu tersebut akan mengalami culture shock.

Rasa tidak mampu yang dimiliki individu untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan membuat seseorang melakukan perilaku yang menyimpang dan memunculkan berbagai macam gejala sosial lainnya di masyarakat.

Walaupun sulit untuk dihindari, gejala sosial di masyarakat bisa memberikan dampak yang positif asalkan setiap orang mampu bersikap secara bijak dan dewasa. Sebagai seorang individu dan masyarakat, semua orang harus bisa berusaha untuk menjauhi berbagai hal yang dapat menimbulkan gejala sosial bahkan masalah sosial.

Posted on

Pengendalian Sosial: Pengertian, Fungsi, Contoh dan Cara Pengendalian Sosial di Masyarakat

pengertian-pengendalian-sosial

Walaupun masyarakat memiliki pilihan sendiri untuk menjalani hidupnya, tetapi tentu saja kebebasan tersebut memiliki batasan-batasan. Pengendalian sosial dalam masyarakat perlu dilakukan untuk bisa mengatur masyarakat supaya tercipta sebuah kehidupan yang aman dan tentram.

Pengendalian sosial bisa diberikan kepada siapa saja dan mulai dikenalkan oleh keluarga sejak anak masih kecil. Hal tersebut perlu dilakukan agar anak bisa mengerti dan sudah terbiasa untuk mengikuti norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Orang-orang yang bisa berpikir rasional akan berusaha untuk menjauhi perilaku menyimpang.

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan masyarakat untuk mencegah adanya penyimpangan sosial yang terjadi di lingkungan. Masyarakat akan mengajak setiap orang untuk memiliki perilaku dan sikap yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Pengendalian sosial merupakan proses yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat dengan berbagai cara agar setiap masyarakat bisa bertingkah laku dengan baik. Tujuan dari pengendalian sosial yaitu untuk menjaga dan menciptakan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya pengendalian serta pengawasan yang dilakukan akan membuat masyarakat lebih teratur.

Baca juga: Perbedaan Nilai Sosial Nilai Moral

Cara Pengendalian Sosial dalam Masyarakat

Terdapat dua sifat pengendalian sosial, yaitu pengendalian preventif dan represif. Pengendalian sosial preventif dilakukan untuk mencegah agar pelanggaran tidak terjadi atau dilakukan sebelum pelanggaran terjadi. Pengendalian represif merupakan pengendalian yang dilakukan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya pelanggaran.

Penggunaan cara pengendalian sosial juga akan bergantung pada pihak yang memberikannya. Ada banyak cara pengendalian sosial yang dilakukan berdasarkan ahli. Berikut merupakan cara pengendalian sosial yang bisa dilakukan, yaitu:

Pengendalian Sosial Persuasif dan Koersif

Cara persuasif dilakukan dengan pendekatan yang berupa bimbingan atau ajakan agar orang bisa berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Pengendalian ini bisa dilakukan secara lisan maupun simbolis. Orang yang melakukan bimbingan berbicara secara langsung dengan anggota masyarakat secara baik-baik.

Pengendalian sosial yang dilakukan secara simbolis dapat dilakukan menggunakan tulisan, iklan layanan masyarakat, atau poster. Sementara itu, cara koersif dilakukan dengan pendekatan kekerasan atau ancaman yang mengandalkan kekuatan fisik.

Hal tersebut bertujuan agar pelaku tidak berani mengulangi perbuatan yang salah. Pengendalian sosial koersif dilakukan sebagai bentuk upaya terakhir jika semua upaya pencegahan yang dilakukan tidak berhasil.

Pengendalian Sosial Melalui Institusi dan Noninstitusi

Cara pengendalian yang dilakukan melalui institusi dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga yang ada, misalnya lembaga keluarga, pendidikan agama, politik, dan lembaga lainnya. Cara pengendalian yang dilakukan melalui noninstitusi merupakan cara pengendalian yang dilakukan di luar institusi. Misalnya, dilakukan oleh individu yang saling tidak mengenal.

Pengendalian Sosial dengan Cara Pemberian Imbalan dan Hukuman

Cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan pemberian imbalan hadir sebagai bentuk preventif. Seseorang akan memperoleh imbalan jika bisa berperilaku sesuai dengan norma di masyarakat. Cara pengendalian menggunakan hukuman biasanya bersifat represif. Cara ini dilakukan untuk membuat pelanggar menjadi jera.

Fungsi Pengendalian Sosial

Kehadiran pengendalian sosial memiliki fungsi yang sangat penting agar kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat dapat diwujudkan. Berikut merupakan fungsi-fungsi pengendalian sosial, yaitu:

Menumbuhkan Rasa Malu

Setiap orang pasti memiliki rasa malu yang ada di dalam diri, terutama jika berkaitan dengan harga diri. Hukuman sosial yang didapatkan individu dari hasil melanggar sebuah aturan akan membuat individu tersebut merasa malu dan menyesal.

Menjaga Ketertiban dalam Masyarakat

Setiap masyarakat memiliki nilai dan norma yang berlaku. Nilai dan norma tersebut digunakan sebagai suatu panduan untuk bertingkah laku dalam masyarakat. Umumnya, terdapat hukuman atau konsekuensi yang akan didapatkan jika melanggar nilai dan norma tersebut. Adanya hukuman akan membuat orang takut dan mengikuti aturan yang ada di lingkungan.

Meyakinkan Masyarakat untuk Mengikuti Norma yang Berlaku

Sebuah kontrol sosial yang dilaksanakan dengan baik akan meningkatkan dan membentuk keyakinan masyarakat. Masyarakat akan memiliki pikiran bahwa peraturan yang diciptakan adalah untuk kebaikan dirinya dan lingkungan.

Memberikan Imbalan

Berhubungan dengan harga diri yang dimiliki setiap orang, jika individu selalu taat dan mengikuti norma yang berlaku dengan baik maka akan memperoleh imbalan. Imbalan yang diperoleh bisa langsung atau tidak langsung. Misalnya, ketika ada seseorang yang taat maka proses pengurusan berkas-berkas dengan pejabat masyarakat akan berlangsung lebih lancar.

Membuat Sistem Hukum

Sistem hukum juga merupakan implementasi dari kontrol sosial. Kontrol sosial merupakan sistem hukum yang dibuat secara resmi yang di dalamnya memuat sanksi atau hukuman untuk masyarakat yang tidak bisa menaati peraturan.

Contoh Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial dilakukan oleh banyak pihak, bahkan keluarga sendiri. Hal tersebut dilakukan agar individu tidak terjerumus pada hal yang menyimpang. Beberapa contoh pengendalian sosial dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  1. Orang tua yang mendidik anaknya sambil menumbuhkan kesadaran pada anak. Anak dididik untuk bisa menyesuaikan diri dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat dan mencegah anak melakukan pelanggaran terhadap norma.
  2. Keberadaan rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalan yang dibuat untuk keselamatan masyarakat.
  3. Pemberian nasihat oleh guru bimbingan konseling sebagai upaya pengendalian sosial secara preventif. Guru mengedukasi setiap siswa untuk menjauhi penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang yang bisa menghancurkan masa depan.
  4. Guru yang mengajarkan agama, budi pekerti, serta tata krama di dalam kelas. Hal tersebut bisa diselipkan saat melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas.
  5. Aturan yang dibuat oleh pihak yang berwenang yang melarang seseorang melakukan kejahatan yang dapat membahayakan orang lain dan lingkungan. Apabila hal tersebut terjadi maka individu akan memperoleh hukuman.
  6. Ajaran agama yang dilakukan oleh tokoh agama mengenai pentingnya mematuhi setiap perintah Tuhan dan belajar mengendalikan diri dari perilaku menyimpang.
  7. Pembinaan atau terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk narapidana atau korban. Hal tersebut lebih dikenal sebagai rehabilitasi. Keberadaan rehabilitasi memiliki manfaat agar orang yang bersangkutan bisa hidup sehat.

Ciri-Ciri Pengendalian Sosial

Bentuk pengendalian sosial yang terjadi dalam masyarakat memiliki banyak bentuk. Misalnya melalui pendidikan, agama, teguran, gosip, sanksi, intimidasi, dan ostrasisme. Semua bentuk tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan terjadinya suatu penyimpangan sosial atau bahkan sebagai hukuman.

Salah satu bentuk pengendalian sosial yang banyak dijumpai adalah gosip. Gosip dilakukan untuk membicarakan kesalahan yang dilakukan dengan tujuan orang yang dibicarakan merasa malu. Keberadaan pengendalian sosial dalam masyarakat dapat dilihat dengan mengetahui karakteristiknya. Berikut merupakan ciri-ciri pengendalian sosial, yaitu:

  1. Ada metode atau cara yang digunakan untuk membuat individu atau masyarakat tertib.
  2. Kontrol sosial dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah stabilitas terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.
  3. Pengendalian sosial dilakukan oleh banyak pihak, walaupun dalam beberapa kejadian pihak yang melakukan tidak menyadari telah melakukan pengendalian sosial.
  4. Kontrol sosial dari individu ke individu lainnya atau dari kelompok ke individu dan kelompok lain.

Individu pasti membutuhkan sebuah interaksi dalam kehidupannya sehari-hari. Namun, apabila individu tidak mampu berinteraksi secara baik dan memiliki hasrat buruk dalam dirinya bisa menimbulkan sebuah perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang ini perlu dihindari agar tidak melanggar norma dan nilai yang ada.

Posted on

Nilai Sosial: Pengertian, Ciri, Fungsi, Sumber dan Perbedaan dengan Nilai Moral

pengertian-nilai-sosial

Setiap daerah memiliki nilai sosialnya masing-masing. Nilai sosial dalam masyarakat akan berbeda untuk setiap daerah. Setiap anggota masyarakat yang tergabung dalam kelompok masyarakat perlu melakukan setiap nilai yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Awalnya nilai sosial timbul karena ada proses interaksi yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. Sehingga, terkadang banyak orang yang salah memandang nilai sosial di daerah lainnya. Hal tersebut dikarenakan nilai sosial yang dianggap kurang baik dalam lingkungan, bisa saja merupakan nilai sosial yang biasa dan umum di tempat lainnya.

Pengertian Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai yang dimiliki dan dianut oleh suatu kelompok masyarakat mengenai hal yang baik dan buruk. Penentu bahwa suatu hal bisa dikatakan sebagai hal yang baik atau buruk perlu melalui proses terlebih dahulu. Keberadaan nilai sosial sangat dipengaruhi oleh budaya yang ada di daerah tersebut.

Contoh Nilai Sosial dalam Masyarakat

Nilai sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa contoh nilai sosial yang hadir dalam masyarakat, yaitu:

Contoh Nilai Sosial dalam Mengukur suatu Perilaku Sosial

Seorang guru sekolah akan berpegang secara teguh mengenai cara berpenampilan yang sederhana adalah hal yang sangat penting. Hal tersebut membuat siswa-siswa setuju dan akan terus menghormati guru yang konsisten dengan prinsipnya.

Contoh Nilai Sosial dalam Berhubungan dengan Orang Lain

Ketika terdapat sebuah antrean, individu akan berusaha untuk mengantre dan tidak menyalip. Menghargai orang yang mengantre akan membuat lingkungan menjadi lebih tertib.

Contoh Nilai Sosial sebagai Sumber Ideologi

Apabila seseorang percaya bahwa penting untuk selalu melakukan hal secara adil maupun kepada orang yang tidak disukai. Maka nilai sosial berupa keadilan adalah sumber ideologi yang digunakan oleh orang tersebut.

Contoh Nilai Sosial dalam Menentukan Cara Pikir

Seseorang merasa yakin dan percaya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang sukses adalah dengan berusaha selalu bangkit dalam menghadapi setiap kegagalan. Artinya, kegagalan adalah proses yang dipercaya oleh orang tersebut akan mengantarkannya kepada kesuksesan.

Contoh Nilai Sosial dalam Kehidupan Keluarga

Orang tua yang mendidik dan mengajarkan anak-anaknya untuk terbiasa melakukan etika ketika melakukan berbagai hal. Misalnya, etika makan, etika berbicara, dan lainnya.

Contoh Nilai Sosial dalam Menentukan Motif

Semua orang tau bahwa praktik suap adalah hal yang buruk, baik itu memberi atau menerima suap. Praktik suap memiliki risiko hilangnya sebuah integritas yang ada di dalam diri. Oleh karena itu, akan timbul perasaan untuk menolak atau melaporkan praktik suap yang terjadi pada pihak berwenang.

Fungsi Nilai Sosial

Nilai sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat memiliki fungsi untuk setiap anggota masyarakat. Berikut merupakan beberapa fungsi dari nilai sosial dalam masyarakat, yaitu:

  1. Nilai sosial merupakan alat solidaritas untuk setiap anggota kelompok di dalam masyarakat.
  2. Nilai sosial berfungsi sebagai media pengawas yang memiliki daya tekan dan daya ikat. Nilai bisa menuntun atau menekan individu untuk berbuat hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Nilai sosial merupakan penentu bagi individu atau kelompok dalam melakukan peran sosial yang ada di kehidupan bermasyarakat.
  4. Nilai sosial menyumbangkan seperangkat alat yang dapat digunakan untuk menetapkan derajat sosial seseorang atau kelompok.
  5. Nilai sosial membentuk pola pikir dan tingkah laku individu dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat.

Perbedaan Nilai Sosial dan Moral

Banyak orang yang merasa bingung mengenai perbedaan nilai sosial dan moral. Berikut merupakan beberapa perbedaan antara nilai sosial dengan moral, yaitu:

  1. Nilai sosial adalah bentuk dari suatu nilai yang berhubungan dengan pergaulan individu di dalam masyarakat. Nilai moral adalah nilai yang berhubungan dengan etika dan akhlak seseorang.
  2. Nilai sosial bisa bersifat menerima atau menentang aspek tertentu yang terdapat dalam masyarakat yang mengakibatkan terjadinya suatu kesulitan. Nilai moral bersifat menerima atau menentang suatu hal dalam kehidupan sehari-hari untuk hubungan yang lebih privat.
  3. Nilai sosial didasarkan pada persepsi individu mengenai yang diyakini dapat meningkatkan diri sendiri maupun lingkungan. Nilai moral didasari pada persepsi individu mengenai apa yang diyakini sebagai suatu hal yang penting untuk menjadi seseorang yang benar.
  4. Nilai sosial merupakan bagian dari budaya yang memutuskan apa yang dipimpin oleh budaya tersebut. Nilai moral lebih bersifat pribadi dan bisa diidentifikasi sebagai warisan yang terdapat dalam diri.

Sumber Nilai Sosial

Terciptanya suatu nilai sosial yang diketahui saat ini berasal dari banyak sumber. Berikut merupakan sumber nilai sosial dalam masyarakat, yaitu:

Nilai yang Bersumber dari Tuhan

Seseorang akan mengetahui nilai-nilai dari ajaran agama yang terdapat dalam kitab suci. Nilai-nilai tersebut dijadikan sebuah petunjuk atau pedoman dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan ajaran agama. Misalnya, nilai sederhana, kasih sayang, jujur, dan nilai lainnya. Nilai yang bersumber dari Tuhan disebut juga dengan nama nilai theonom.

Nilai yang Bersumber dari individu

Setiap individu memiliki nilai-nilai baik yang terdapat dalam dirinya. Contoh nilai dari individu yaitu kerja keras dan giat yang akan membuat individu tersebut selalu berusaha bekerja untuk memperoleh kesuksesan.

Nilai yang Bersumber dari Masyarakat

Umumnya, masyarakat memiliki pandangan yang sama terhadap isu-isu yang ada. Cara pandang tersebut dijadikan sebuah pedoman untuk berperilaku sehari-hari. Misalnya, sopan kepada semua orang, baik orang tua maupun siapa saja. Nilai yang bersumber dari kesepakatan banyak orang dikenal sebagai nilai heteronom.

Ciri-Ciri Nilai Sosial

Nilai sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat sangat beragam. Di dalam kehidupan bermasyarakat, nilai sosial bersumber dari nilai-nilai kehidupan lainnya. Pada perkembangannya, nilai sosial juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam dan sosial daerah tersebut. Terdapat beberapa ciri dari nilai sosial yang hadir di tengah masyarakat. Berikut adalah ciri-ciri nilai sosial, yaitu:

  1. Nilai sosial diperoleh dari bentuk transformasi yang didapat dari proses belajar, seperti difusi, sosialisasi, dan enkulturasi. Misalnya, anak akan mengetahui arti persahabatan di dalam maupun di luar sekolah.
  2. Tidak dibawa dari lahir, namun diperoleh dari hasil interaksi yang dilakukan dengan manusia lainnya.
  3. Memengaruhi diri individu dalam kehidupan bermasyarakat.
  4. Nilai sosial memiliki perbedaan di setiap kelompok masyarakat.
  5. Dampak yang ditimbulkan pada perilaku setiap individu berbeda-beda.

Jenis Nilai Sosial dalam Masyarakat

Nilai sosial dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, nilai yang telah mendarah daging serta nilai dominan.

Nilai sosial yang telah mendarah daging adalah nilai yang berasal dari individu yang bersangkutan dan sudah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, ketika akan melakukan suatu hal tidak membutuhkan proses berpikir lagi. Misalnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua dan rasa sayang kepada orang yang lebih muda.

Nilai dominan adalah nilai yang dirasa lebih penting apabila dibandingkan dengan nilai lainnya. Nilai tersebut terbentuk dari budaya yang ada di lingkungan tersebut. Misalnya, penggunaan jempol untuk menunjukkan sesuatu atau membungkuk saat lewat di depan orang yang lebih tua.

Peran nilai sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Menerapkan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari memiliki arti bahwa saling menghargai dengan anggota masyarakat lainnya. Banyak hal positif yang bisa dirasakan dan diperoleh dari penerapan nilai-nilai sosial di masyarakat.