Posted on

Diferensiasi Sosial: Pengertian, Ciri, Konsep, Contoh dan Dampak

pengertian diferensiasi sosial

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam penduduk dengan karakteristiknya yang berbeda-beda. Namun perbedaan itu tidak menjadi masalah yang signifikan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Dalam ilmu Sosiologi, perbedaan yang ada dalam masyarakat ini merupakan konsep dari diferensiasi sosial.

Diferensiasi sosial merupakan bentuk dari pengklasifikasian masyarakat secara horizontal. Maksud dari horizontal adalah semuanya sama, tidak ada hal yang membedakan dan tidak ada tingkatan rendah ataupun tinggi. Berikut adalah arti, ciri-ciri, konsep,contoh dan dampak diferensiasi sosial.

Pengertian Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial adalah perbedaan yang dibuat antara kelompok sosial atau orang yang didasarkan pada faktor fisiologis, sosiokultural, dan biologis, misalnya jenis kelamin, etnis, usia, yang nantinya mengakibatkan penetapan peran dan status masyarakat.

Ya, diferensiasi sosial adalah adanya perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat, namun perbedaan itu tidak menjadi problematika yang terlalu serius untuk ditanggapi. Semua lapisan masyarakat mengakui adanya perbedaan namun bisa melebur dan memahaminya.

Soerjono Soekanto selaku Sosiolog terkenal menyatakan bahwa diferensiasi sosial adalah adanya jenis-jenis pekerjaan seseorang dalam masyarakat dan jenis pekerjaan itu dianggap sebagai sebuah prestasi tersendiri, namun tidak berpengaruh pada perbedaan-perbedaan lainnya dalam masyarakat.

Artinya, setiap individu dalam masyarakat mungkin ada perbedaan, baik perbedaan fisik, perbedaan jenis pekerjaan, cara beribadah dan sebagainya. Namun hal-hal di atas tidak mempengaruhi pandangan masyarakat untuk membenci adanya perbedaan-perbedaan yang terjadi. Semua perbedaan tetap diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Baca juga: Lembaga Sosial

Ciri-Ciri Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial mempunyai karakteristik atau ciri yang khas, di antaranya adalah:

1.     Fisik

Fisik adalah ciri utama yang berhubungan dengan adanya diferensiasi sosial dalam masyarakat. Hal-hal yang berkaitan dengan fisik manusia mulai dari warna kulit dan rambutnya, bagaimana postur tubuhnya, seperti apa bentuk matanya dan apapun yang berkaitan dengan fisik, maka itu adalah karakteristik dari diferensiasi sosial.

Hakikatnya ciri-ciri fisik yang dimiliki manusia adalah ciptaan dari Tuhan yang tidak bisa dihindari dan diminta. Sehingga tidak boleh ada diskriminasi mengenai fisik yang berbeda. Semua manusia harus bisa menghargai perbedaan fisik dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

2.     Sosial

Maksud dari ciri sosial dalam diferensiasi berkaitan erat dengan fungsi dari setiap warga yang hidup dalam masyarakat. Setiap warga di sebuah daerah pastinya mempunyai peran dan tugas yang beragam. Ada yang bekerja menjadi pegawai negeri, pekerja swasta, petani, peternak, pengusaha dan sebagainya.

Apapun jenis mata pencaharian warga dalam masyarakat tersebut tidak memberikan perbedaan yang sifatnya vertikal. Jenis-jenis profesi yang dimiliki oleh setiap warga diraih berdasarkan minat dan kerja keras masing-masing sehingga tidak ada yang namanya perbedaan yang perlu ditonjolkan.

3.     Budaya

Indonesia adalah negara yang majemuk karena penduduknya mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Namun perbedaan adat istiadat dan kebudayaan masing-masing daerah bisa diterima dengan sepenuhnya karena adanya persamaan dan rasa persatuan yang kuat, yakni sama-sama bangsa Indonesia.

Konsep Diferensiasi Sosial

Pada dasarnya, konsep diferensiasi sosial ini mengacu pada 4 hal di antaranya adalah:

1. Perbedaan Ras

Adanya perbedaan ras sering membuat seseorang kurang merasa percaya diri dengan apa yang telah ia miliki. Isu rasialisme memang selalu menjadi bentuk kesenjangan pada orang-orang dengan ras minoritas.

2. Perbedaan Etnik

Kelompok etnik merupakan sekumpulan orang dengan karakteristik khusus yang membuat kelompok ini berbeda dengan yang lainnya. Setiap golongan etnik mempunyai kepercayaan dan kebudayaan yang mungkin berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan ini biasanya menimbulkan gesekan konflik antar etnik.

3. Perbedaan Agama

Agama adalah hal paling fundamental dalam diri setiap manusia, hak prerogatif yang tidak bisa digugat oleh siapapun. Apalagi di Indonesia, ada 6 agama yang diyakini. Perbedaan agama memang bisa memberi perbedaan dalam kehidupan seseorang, namun jika masyarakat mempunyai toleransi, perbedaan agama tidak akan menjadi soal.

4. Perbedaan Gender

Adanya perbedaan gender secara biologis antara pria dan wanita hakikatnya tidak mempengaruhi hak masing-masing individu. Baik wanita dan pria harus mempunyai hak yang sama, tidak boleh ada diskriminasi tertentu.

Sayangnya, wanita selalu dianggap lemah oleh sebagian masyarakat, meski akhirnya muncul banyak gerakan feminisme yang menentang stigma negatif ini, tetap saja di beberapa daerah tertentu, wanita akan selalu dianggap lemah.

Nah, 4 hal di atas kemudian memunculkan konsep diferensiasi sosial. Meski perbedaan-perbedaan itu terlihat nyata adanya, namun tidak menjadi pembatas untuk semua lapisan masyarakat bersatu.

Baca juga: Mobilitas Sosial

Contoh Diferensiasi Sosial

Bagi Anda yang masih bingung dengan pengertian dan konsep dari diferensiasi sosial, berikut adalah contoh dari diferensiasi sosial agar Anda bisa lebih memahaminya:

  1. Klasifikasi penduduk Indonesia berdasarkan dengan letak geografisnya.
  2. Klasifikasi pekerjaan yang berat-berat selalu diserahkan kepada pekerja laki-laki daripada pekerja wanita.
  3. Klasifikasi masyarakat berdasarkan suku untuk menghindari konflik sosial.
  4. Klasifikasi penduduk berdasarkan marga di Sumatera Utara, khususnya suku Batak yang masih mengakar erat dan dipercaya hingga saat ini.
  5. Klasifikasi masyarakat berdasarkan dengan ras.
  6. Pendistribusian barang yang masih banyak terpusat di daerah Jawa. Tidak heran jika ongkos kirim ke daerah lain seperti Sumatera, Kalimantan dan Indonesia Timur seperti Papua masih sangat mahal.
  7. Klasifikasi masyarakat berdasarkan kebudayaan masing-masing.
  8. Penggolongan orang-orang yang berbeda berdasarkan warna kulit.
  9. Klasifikasi masyarakat berdasarkan status sosial yang dimiliki.
  10. Penggolongan masyarakat berdasarkan dengan kekayaan yang dimilikinya.
  11. Penggolongan karyawan yang sudah senior dan masih junior. Dalam lingkup kerja, senioritas juga masih berlaku berdasarkan dengan pengalaman kerja yang dimiliki.

Dampak Diferensiasi Sosial

Dampak Positif

1. Asimilasi

Asimilasi adalah ketika dua budaya yang berbeda menjadi satu. Masing-masing kelompok masyarakat menerima perbedaan budaya itu dan menggabungkannya menjadi sebuah kebudayaan baru yang positif.

2. Akulturasi

Akulturasi adalah proses belajar dan menggabungkan nilai-nilai, kepercayaan, bahasa, adat istiadat dan tingkah laku dari budaya baru orang di sekitarnya tanpa kehilangan nilai asli budaya yang dimiliki. Percampuran budaya ini tidak membawa pertikaian dan justru menebarkan toleransi.

3. Pengelompokan Bersama

Diferensiasi sosial membuat pengelompokan bersama yang mana timbul umpan balik positif dari hasil pengelompokan itu.

Baca juga: Stratifikasi Sosial

Dampak Negatif

1. Primordialisme

Primordialisme adalah menganggap etnis sebagai sesuatu yang alami dan harus dipertahankan sehingga tidak menerima budaya baru yang bisa menghambat adanya toleransi.

2. Etnosentrisme

Etnosentrisme adalah kepercayaan bahwa kelompok etnis mempunyai superioritas. Adanya etnosentrisme bisa menyebabkan konflik sosial terjadi dalam masyarakat.

3. Ketimpangan Sosial

Diferensiasi sosial yang mengklasifikasikan golongan masyarakat berdasarkan ras, suku, budaya dan sebagainya bisa menyebabkan ketimpangan sosial yang memantik pertikaian.

Sebenarnya, masih banyak lagi dampak dari diferensiasi sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Di berbagai sektor kehidupan, pasti ada yang namanya diferensiasi sosial dan hal itu tidak bisa dihindarkan. Meski demikian, harapannya diferensiasi sosial ini tidak menghambat rasa persatuan bangsa Indonesia.

Posted on

Lembaga Sosial: Pengertian, Contoh, Bentuk dan Fungsi

pengertian lembaga sosial

Masyarakat mampu bertahan hidup dengan norma, adat dan tatanan yang tercipta. Norma, adat dan tatanan yang disepakati dalam kehidupan bermasyarakat ini tercipta karena adanya saling keterkaitan.

Masyarakat bisa saling berhubungan dan menjaga keterikatan yang dimiliki karena adanya kesadaran dan selama ada dukungan. Dukungan itu bisa didapatkan dari adanya sebuah lembaga sosial.

Ya, lembaga sosial sosial dapat didefinisikan sebagai sistem organisasi yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sosial dasar dengan menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk menghubungkan semua lapisan masyarakat.

Pengertian Lembaga Sosial

Lembaga sosial merupakan sekumpulan norma, adat atau tata cara yang mempunyai tujuan untuk mengatur tindak tanduk seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Sekumpulan norma yang tercipta ini dibentuk sendiri atas kesepakatan masyarakat dan saling dijaga dan dilaksanakan.

Tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa norma harus paten. Norma-norma ini bisa diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat itu sendiri. Sekumpulan norma disusun agar bisa mempengaruhi semua golongan masyarakat agar tetap menjaga harmonisasi kehidupan bermasyarakat.

Nah, hadirnya lembaga sosial di tengah masyarakat ini berupaya untuk mengatur seperti apa dan bagaimana cara yang harus dilakukan oleh seseorang dalam hidup bermasyarakat. Baik itu mengenai perilaku, sopan santun atau kegiatannya sehari-hari, semua diatur dalam lembaga sosial.

Namun lembaga sosial tidak harus diartikan sebagai sebuah organisasi atau institusi ya! Lembaga sosial adalah seperangkat atau sekumpulan norma yang diakui oleh masyarakat dan menjadi pedoman berperilaku.

Kata lembaga sendiri lebih merujuk kepada proses pembentukan norma yang didasarkan pada perilaku aktivitas masyarakat sebagaimana mestinya yang kemudian menjadi pedoman hidup masyarakat itu sendiri.

Lembaga sosial menentukan “aturan main” yang mengatur kehidupan sosial dan memfasilitasi berfungsinya sistem sosial.

Baca juga: Jenis Lembaga Sosial

Contoh Lembaga Sosial

Ada banyak sekali beberapa contoh lembaga sosial. Misal, adanya lembaga kesehatan Indonesia. Lembaga kesehatan ini tentunya mempunyai visi dan misi untuk mengatur anggotanya.

Lembaga kesehatan berusaha untuk memperkuat sistem perawatan kesehatan, menyebarluaskan informasi kesehatan dengan menyelenggarakan lokakarya, seminar dan konferensi tingkat nasional.

Untuk merealisasikan tujuan, umumnya semua lembaga kesehatan akan bergerak untuk mendukung visinya seperti mengembangkan kebijakan, peraturan, pedoman dan program untuk meningkatkan sistem kerja dan mengembangkan tenaga kesehatan yang kompeten.

Selain lembaga kesehatan, ada juga lembaga sosial di bidang pendidikan. Ada banyak sekali yayasan pendidikan di Indonesia yang membangun sekolah-sekolah di berbagai daerah sebagai upaya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Yayasan yang mendirikan sekolah pasti selalu mempunyai visi dan misi untuk dilaksanakan dan dipatuhi.

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial

Lembaga sosial sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk, di antaranya adalah:

1.     Lembaga Keluarga

Keluarga adalah lembaga sosial yang paling fundamental dan menjadi pijakan dasar orang untuk berperilaku dalam masyarakat. Proses pelembagaan ini dimulai dari pernikahan yang kemudian melahirkan keluarga kecil. Setidaknya ada 3 fungsi utama lembaga keluarga dalam sebuah masyarakat, di antaranya adalah:

  • Reproduksi

Reproduksi adalah proses biologis di mana suatu organisme menghasilkan keturunan yang secara biologis mirip dengan organisme. Reproduksi menjamin kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi dan itu adalah ciri utama kehidupan di bumi.

  • Afeksi

Afeksi biasanya diidentikkan dengan emosi, tetapi sebenarnya afeksi adalah sebuah proses saling mengasihi masing-masing anggota keluarga satu sama lain.

  • Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses seumur hidup seseorang mempelajari nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat tertentu.

Baca juga: Pengendalian Sosial

2.     Lembaga Politik

Lembaga politik mempunyai wewenang secara khusus untuk melaksanakan otoritasnya pada suatu daerah. Pemerintah adalah salah satu contoh dari alat lembaga politik yang mempunyai wewenang untuk mengatur masyarakat.

Tujuan dari adanya lembaga politik adalah berusaha untuk memberikan pelayanaan sosial yang memuaskan bagi masyarakat, membantu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menjaga keharmonisan semua lapisan masyarakat.

3.     Lembaga Pendidikan

Mendapatkan pendidikan yang layak sebenarnya adalah hak oleh semua warga negara. Adanya pendidikan bisa memberikan anak-anak ilmu dan pengetahuan yang sangat bermanfaat untuk ia melangsungkan kehidupannya.

Lembaga pendidikan adalah contoh dari upaya untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan kepada semua anak di berbagai penjuru Indonesia. Ada dua lembaga pendidikan yang terbagi dalam 2 jenis, yakni dengan fungsinya yang dirasakan secara langsung (manifes) dan lembaga pendidikan dengan fungsi yang tidak dirasakan secara langsung atau tersembunyi (laten).

4.     Lembaga Agama

Agama adalah sebuah bentuk kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat dan mempunyai beberapa praktik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga agama hadir untuk menjembatani masyarakat yang merasa kesulitan dalam menjalankan praktik agamanya.

Lembaga agama juga mengatur bagaimana seharusnya masyarakat menjalin hubungan kepada sesamanya, Tuhan dan juga lingkungan ia tinggal.

5.     Lembaga hukum

Lembaga hukum hadir sebagai media untuk menjaga interaksi semua lapisan masyarakat agar selalu rukun dan terjaga. Lembaga hukum juga berfungsi untuk mengatur pola hidup masyarakat untuk taat pada setiap peraturan atau undang-undang yang berlaku di daerah.

Salah satu contoh lembaga hukum adalah polisi. Sebagai lembaga hukum, sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga dan menertibkan masyarakat.

6.     Lembaga Ekonomi

Terakhir, ada lembaga ekonomi yang berupaya untuk mengelola kebutuhan setiap manusia mulai dari proses produksi, pendistribusian dan konsumsi. Hadirnya lembaga ekonomi sangatlah penting dalam kehidupan masyarakat karena tanpa adanya lembaga ini, maka kebutuhan pokok manusia akan sulit dipenuhi.

Fungsi Lembaga Sosial

Lalu apa sih sebenarnya fungsi dari adanya lembaga sosial itu sendiri? Setidaknya, kehadiran lembaga sosial mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut:

1.     Sebagai Pedoman Masyarakat untuk Bertindak

Lembaga sosial hadir untuk menjadi pedoman antar individu atau kelompok dalam sebuah masyarakat agar bertindak sebagaimana norma yang berlaku. Setiap orang dalam masyarakat harus mematuhi semua peraturan yang telah disepakati bersama dan lembaga sosial ini berupaya menjadi pedoman yang dipegang oleh semua anggota masyarakat.

2.     Menjaga Keharmonisan

Sebuah hubungan antar kelompok dalam masyarakat bisa tercipta selama lembaga sosial hadir untuk menjaga kepentingan dan tujuan bersama. Saat masyarakat mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama, maka rasa persatuan akan terjalin.

Lembaga sosial sangat berperan menjaga keharmonisan semua golongan masyarakat. Apapun yang membawa perpecahan dan pertikaian, adanya lembaga sosial hadir sebagai media untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,

3.     Menjadi Kendali atas Tindak Laku Masyarakat

Lembaga sosial juga mempunyai peran penting sebagai kendali dalam kehidupan masyarakat yang tidak memenuhi norma yang berlaku. Lembaga sosial memberikan sanksi atau hukuman kepada siapapun warga yang mungkin melanggar norma yang telah disepakati.

4.     Stabilisator

Sebuah kehidupan masyarakat tidak akan berjalan harmonis tanpa adanya penyeimbang atau stabilisator. Nah, fungsi dari lembaga sosial adalah menjadi stabilisator dalam masyarakat. Sehingga jika ada masalah apapun yang terjadi dalam masyarakat, maka lembaga sosial adalah penyeimbang untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Masih ada banyak lagi fungsi-fungsi dari adanya lembaga sosial di masyarakat. Namun yang jelas, tanpa adanya lembaga sosial, maka bisa jadi keutuhan bangsa Indonesia akan sulit sekali diwujudkan.

Posted on

5 Jenis Lembaga Sosial

jenis lembaga sosial

Manusia merupakan makhluk hidup sosial yang membutuhkan manusia lainnya untuk hidup. Oleh karena itu, keberadaan lembaga sosial masyarakat memiliki peran yang sangat penting untuk manusia. Tanpa disadari bahwa sejak lahir semua orang sudah masuk ke dalam suatu lembaga sosial yaitu keluarga.

Untuk menjadi bagian dari lembaga sosial setiap orang tidak perlu mendaftarkan diri secara resmi. Anggota resmi dari lembaga merupakan seseorang yang memiliki peranan langsung dalam melakukan kerja lembaga sosial. Salah satu contoh yang paling mudah adalah keluarga dan sekolah.

5 Jenis Lembaga Sosial Masyarakat

Di Indonesia terdapat beberapa jenis lembaga sosial yang memiliki peran masing-masing. Setiap lembaga sosial memiliki tugas dan aturan yang berbeda. Berikut merupakan 5 jenis lembaga sosial masyarakat, yaitu:

1. Lembaga Keluarga

Lembaga keluarga adalah lembaga paling dasar yang terdiri dari anggota inti keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak-anak. Ayah memiliki peran sebagai kepala rumah tangga dari lembaga keluarga tersebut. Sementara itu, ibu memiliki tugas sebagai wakil kepala, sekretaris, dan bendahara. Anak-anak merupakan anggota dari lembaga keluarga.

Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dimasuki setiap orang. Suksesnya seseorang juga bisa dilihat dari lembaga keluarganya. Keluarga dikatakan sebagai sebuah lembaga, karena di dalam keluarga terdapat aturan yang perlu dipatuhi oleh setiap anggota. Contohnya, aturan pulang malam untuk anak-anak atau aturan lainnya.

Lembaga keluarga memiliki fungsi yang cukup banyak dalam kehidupan. Berikut merupakan beberapa fungsi dari lembaga keluarga, yaitu:

Fungsi Reproduksi

Pembentukan keluarga didasari dengan keinginan untuk memperoleh keturunan yang bisa menjadi penerus keluarga. Di dalam lembaga keluarga, individu memiliki sebuah ikatan yang ada pada sebuah himpunan yang diakui oleh sosial dan menjadikan individu tersebut menjadi karakter dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada pelaksanaannya, bukan kebutuhan seksual yang mendasari pembentukan lembaga keluarga. Namun, suatu hubungan timbal balik yang menguntungkan individu tersebut, secara sosial maupun psikologis.

Baca juga: Nilai Sosial

Fungsi Ekonomi

Berada dalam keluarga akan memberikan jaminan mengenai aspek ekonomi. Seseorang bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarga. Adanya anggota keluarga yang lain akan memunculkan motivasi untuk bekerja membuat keluarga menjadi bahagia.

Fungsi Proteksi

Lembaga keluarga memiliki peran untuk menyediakan perlindungan untuk setiap anggota keluarga yang ada di dalamnya. Individu yang bersangkutan juga memiliki hak serta keleluasaan. Oleh karena itu, individu lainnya tidak bisa mengatur kehidupan anggota keluarga dengan seenaknya, kecuali terjalin sebuah komunikasi dan kompromi yang disepakati.

Fungsi Sosialisasi

Manusia mulai belajar untuk melakukan sosialisasi dalam lingkungan keluarga, sehingga manusia dapat tumbuh dan melakukan sosialisasi di lingkungan yang lebih luas.

Fungsi Afeksi

Sebuah kehangatan diharapkan dapat tercipta di dalam keluarga. Perasaan nyaman yang diperoleh dalam keluarga akan memberikan hal yang positif untuk setiap anggota.

Baca juga: Pengendalian Sosial

Fungsi Pengawasan Sosial

Lembaga sosial keluarga memiliki kontribusi dalam mengawasi setiap anggota keluarga.

Fungsi Aktualisasi Diri

Salah satu peran penting keluarga adalah mendukung perkembangan anggota agar terbentuk sebuah jati diri yang baik dalam individu.

2. Lembaga Ekonomi

Lembaga ekonomi merupakan sebuah lembaga yang terdapat dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kaitan dengan ekonomi. Tujuan dari adanya lembaga ekonomi adalah agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan ekonomi dengan baik. Lembaga ekonomi hadir sebagai pedoman dan jawaban agar kehidupan perekonomian masyarakat bisa berlangsung secara stabil.

Kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam lembaga ekonomi, seperti kegiatan transaksi jual beli, perdagangan, dan ketenagakerjaan. Contoh lembaga ekonomi yang ada di Indonesia yaitu bank, perusahaan, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Swasta, dan lembaga lainnya.

Lembaga ekonomi memiliki peran dalam mengatur hubungan masyarakat dengan bisnis. Prinsip yang dijalankan yaitu cara pengoptimalan hasil dengan modal yang tersedia, bukan memperoleh laba dengan modal yang kecil. Karena, pada dasarnya keuntungan yang besar bisa diperoleh dengan modal yang besar juga.

Beberapa fungsi lembaga ekonomi, yaitu:

  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai ketenagakerjaan.
  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai cara memperoleh bahan baku atau barang.
  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai harga jual di pasar.
  • Lembaga ekonomi memberikan pedoman mengenai pertukaran barang.

3. Lembaga Agama

Lembaga agama merupakan sebuah lembaga yang berhubungan dengan sebuah agama tertentu dan setiap anggota percaya dengan agama yang sama. Anggota yang tergabung dalam lembaga agama bisa melakukan banyak kegiatan bermanfaat atas nama agama. Tujuan dari keberadaan lembaga agama yaitu untuk mempererat hubungan dan persatuan umat beragama.

Lembaga agama adalah sistem keyakinan serta praktik keagamaan yang berada dalam kehidupan bermasyarakat. Agama diartikan sebagai suatu sistem atau ajaran yang mengatur mengenai keimanan serta ibadah kepada Tuhan dan hubungan dengan manusia.

Keberadaan lembaga agama memiliki berbagai fungsi. Berikut merupakan fungsi dari lembaga agama, yaitu:

  1. Memberikan identitas kepada masyarakat sebagai bagian dari suatu agama. Misalnya, umat Islam, Hindu, Kristen, Buddha, dan Khong Hu Chu.
  2. Pedoman hidup yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok.
  3. Pedoman perasaan keyakinan. Siapa saja yang berbuat baik maka akan memperoleh pahala dari Tuhan.
  4. Tuntunan sebuah prinsip benar atau salah untuk menjauhi berbagai perilaku buruk, seperti mencuri atau membunuh.
  5. Pedoman keberadaan yaitu keberadaan alam semesta beserta segala isinya merupakan hal yang harus diterima dengan baik dan penuh syukur.
  6. Pengungkapan keindahan yang dapat diwujudkan dengan pembuatan rumah ibadah yang indah dan megah.

Baca juga: Interaksi Sosial

4. Lembaga Politik

Lembaga politik merupakan lembaga sosial yang keberadaannya berhubungan dengan penanganan masalah mengenai aturan, tata tertib, atau administrasi. Lembaga politik membantu masyarakat dalam berbagai aspek serta menjadi wadah untuk berkumpul individu-individu yang memiliki tujuan serupa dalam hal politik.

Contoh lembaga politik di Indonesia misalnya DPR yang memiliki peran sebagai wakil rakyat yang berada di pemerintahan pusat. Fungsi dari keberadaan lembaga politik, yaitu:

  1. Sebagai pengontrol jika ada konflik yang terjadi.
  2. Menyelenggarakan sebuah pelayanan untuk masyarakat.
  3. Mengatur berbagai norma mengenai kekuasaan menggunakan undang-undang.

Pada dasarnya politik merupakan sebuah cara dan tempat untuk orang yang berhubungan dengan kekuasaan.

5. Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan merupakan sebuah lembaga yang memiliki fokus terhadap pendidikan. Lembaga ini menjadi sarana dan tempat belajar mengajar yang anggotanya dididik untuk menjadi seorang individu yang lebih baik. Interaksi antar anggota yang terjadi dalam lembaga pendidikan membuat lembaga tersebut berperan secara baik.

Hadirnya lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk bisa bertanggung jawab mengenai terselenggaranya suatu pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap anggota perlu memelihara lembaga pendidikan dengan baik, karena fungsinya yang penting untuk kemajuan masyarakat. Beberapa fungsi lembaga pendidikan, yaitu:

  1. Mengembangkan potensi yang ada pada anggota agar bisa tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik.
  2. Memberikan pendidikan berupa ilmu pengetahuan serta keterampilan.
  3. Sebagai sarana untuk melestarikan budaya yang dimiliki dengan cara mengajarkan kebudayaan tersebut kepada anggota.
  4. Menumbuhkan cara berpikir yang rasional.

Kehadiran lembaga sosial masyarakat dalam kehidupan memiliki tujuan untuk membentuk manusia sebagai suatu individu atau bagian dari kelompok yang utuh. Setiap anggota lembaga sosial perlu melakukan tugas dengan baik agar peran lembaga sosial bisa berlangsung secara baik untuk setiap masyarakat.

Posted on

Kelompok Sosial: Pengertian, Macam, Ciri, Proses Terbentuk dan Fungsi

pengertian kelompok sosial

Ketika manusia menjalin hubungan satu sama lain, sebuah ikatan akan tercipta. Ikatan yang tercipta karena kesadaran tujuan dan kepentingan yang sama itulah, yang akhirnya membangun sebuah kelompok sosial. Kelompok sosial merupakan bagian dasar dari hampir setiap kehidupan manusia.

Kelompok sosial adalah kumpulan orang-orang yang berinteraksi satu sama lain dan memiliki karakteristik yang sama dalam membentuk sebuah hubungan yang harmoni. Kelompok sosial sendiri dapat didefinisikan dengan beberapa cara berbeda, bergantung pada perspektif yang diambil.

Pengertian Kelompok Sosial

Kelompok sosial terdiri dari dua orang atau lebih yang berinteraksi secara teratur atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Sebuah kelompok sosial mempunyai pengakuan yang sama meski mempunyai latar belakang yang saling berbeda.

Definisi tersebut cukup sederhana, tetapi memiliki implikasi yang signifikan. Interaksi yang sering antara satu orang dengan yang lain pada akhirnya menuntun orang untuk berbagi nilai dan keyakinan. Kesamaan dan interaksi ini menyebabkan seseorang mengidentifikasi satu sama lain.

Identifikasi dan keterikatan, pada gilirannya, merangsang interaksi yang lebih sering dan intens sehingga terciptalah kelompok sosial. Setiap kelompok selalu menjaga solidaritas dengan semua kelompok lain untuk menciptakan hubungan yang harmonis.

Kehadiran kelompok sosial sangat penting baik, bagi anggotanya maupun bagi masyarakat luas. Melalui kelompok sosial, maka keberadaannya bisa mendorong masyarakat untuk menciptakan sebuah sistem dan tatanan sosial yang disepakati bersama.

Ya, kelompok sosial merupakan himpunan beberapa orang yang memiliki hubungan kuat dan saling memberikan feedback dan pengaruh. Kelompok sosial membuat sebuah sekumpulan manusia saling berhubungan. Adanya kehidupan berkelompok memberikan banyak pengalaman bagi seseorang untuk belajar hal-hal yang mungkin tidak dia dapatkan di bangku sekolah.

Baca juga: Contoh Interaksi Sosial

Macam-Macam Kelompok Sosial

Tidak semua Sosiolog memiliki pandangan yang sama mengenai klasifikasi kelompok sosial yang mungkin ditemukan dalam suatu masyarakat. Namun, setidaknya kelompok sosial dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya adalah:

1.     Kelompok Primer

Kelompok primer adalah sebuah himpunan antara satu individu dengan yang lainnya yang berinteraksi secara intim dan bekerja sama dalam jangka waktu yang lama. Contoh kelompok utama adalah keluarga, teman sejurusan kuliah, teman sebaya, tetangga, teman sekelas, perkumpulan mahasiswa, dan anggota komunitas.

Kelompok-kelompok ini ditandai oleh hubungan primer yang mana pola komunikasinya bersifat informal. Anggota kelompok primer memiliki ikatan emosional yang kuat sehingga saling berhubungan satu sama lain sebagai individu yang utuh.

2.     Kelompok Sekunder

Kelompok sekunder adalah sekumpulan individu yang tidak banyak berinteraksi. Anggota kelompok sekunder kurang emosional jika dibandingkan kelompok primer. Kelompok-kelompok ini ditandai oleh hubungan sekunder yang mana pola komunikasinya lebih bersifat formal.

Anggota dari kelompok sekunder bisa jadi tidak mengenal satu sama lain, hanya sebatas saling tahu nama meski saling berinteraksi tatap muka. Pola komunikasi yang dibangun oleh anggota dalam kelompok sekunder ini hanyalah sebatas memainkan perannya sebagai anggota saja.

Contoh kelompok sekunder adalah seorang investor saham dan berbagai kliennya. Seorang investor saham kemungkinan besar berhubungan dengan kliennya hanya dalam hal bisnis. Dia mungkin tidak akan bersosialisasi mengenai hal-hal di luar bisnis dengan kliennya sehingga tidak ada hubungan emosional antara dia dan klien-kliennya.

Baca juga: Mobilitas Sosial

3.     Kelompok Formal

Kelompok formal merupakan sekumpulan orang yang bersatu karena adanya aturan yang mendasari. Kelompok model satu ini memiliki hierarki, struktur pengurus dan ada tanggung jawab pada masing-masing anggotanya.

Contoh dari kelompok formal adalah badan eksekutif mahasiswa (BEM), Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Serikat Petani Indonesia (SPI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan masih banyak lagi.

4.     Kelompok Informal

Sebaliknya, kelompok informal adalah terbentuk karena adanya pola interaksi yang sangat dekat antara anggotanya. Semua anggota yang ada di kelompok informal tidak dibebani dengan tanggung jawab kerja, tidak ada struktur kepengurusan, dan tidak ada aturan yang mengikat. Semua peran dan tanggung jawab dilakukan dengan penuh sukarela dan keikhlasan.

Contoh dari kelompok informal sendiri ada banyak seperti paguyuban petani di desa, komunitas pecinta motor antik, komunitas pecinta kucing dan sebagainya.

Ciri-ciri Kelompok Sosial

Ada beberapa ciri yang khas dari kelompok sosial, di antaranya adalah:

1.     Mempunyai  Kesadaran Bersama

Anggota kelompok sosial mempunyai rasa kesadaran untuk saling terkait (pada setiap anggotanya). Jumlah anggota yang cukup banyak tidak akan membentuk kelompok sosial, kecuali terdapat kesadaran timbal-balik di semua anggotanya. Oleh karena itu, kesadaran bersama dianggap sebagai ciri yang penting yang akan membentuk karakteristik penting dari sebuah kelompok sosial.

2.     Mempunyai Kepentingan Bersama

Sebagian besar kelompok sosial dibuat untuk memenuhi kepentingan tertentu. Selanjutnya, individu yang memmbuat kelompok harus memiliki tujuan yang sama. Untuk menuju kepentingan bersama itulah mereka bertemu dan saling berinteraksi. Kelompok sosial tercipta dimulai minat yang sama.

3.     Rasa Persatuan yang Tinggi

Semua kelompok akan membutuhkan rasa kebersamaan dan rasa simpati agar rasa saling memiliki berkembang. Anggota kelompok sosial selalu mempunyai rasa persatuan yang tinggi agar hubungan yang dimiliki selalu harmonis.

4.     Mempunyai Norma yang Berlaku

Masing-masing anggota dari setiap kelompok memiliki norma dan anggotanya harus mengikutinya. Setiap anggota yang menyimpang dari norma kelompok yang disepakati harus mendapatkan hukuman.

Norma ini bisa dibuat dalam bentuk hukum, tradisi, adat, dll. Bisa tertulis ataupun tidak tertulis. Kelompok menjalankan beberapa kendali atas anggotanya melalui aturan atau norma yang berlaku.

Proses Terbentuk Kelompok Sosial

Kehidupan manusia sebagian besar adalah kehidupan kelompok. Jika seseorang hidup dalam masyarakat, dia biasanya juga merupakan anggota dari sejumlah kelompok yang dengan sendirinya dapat dianggap ada dalam masyarakat. Kelompok adalah sejumlah orang yang terlibat dalam pola hubungan satu sama lain.

Proses terjadinya kelompok sosial sendiri adalah ketika ada interaksi yang intens antara satu orang dengan yang lain. Mereka mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama hingga kemudian membentuk sebuah kelompok.

Kemudian kelompok itu membangun interaksi dengan kelompok yang lainnya lagi sehingga terciptalah sebuah kelompok sosial.

Baca juga: 10 Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Fungsi Kelompok Sosial

Lalu apa sih fungsi dari adanya kelompok sosial itu sendiri? Setidaknya ada dua klasifikasi fungsi kelompok sosial yang dibagi berdasarkan fungsi individu dan masyarakat. Di bawah ini adalah fungsi kelompok sosial:

  1. Membangun keseragaman meski terdapat perbedaan adat, latar belakang, agama dan etnis.
  2. Memberikan ruang kepada anggota kelompok untuk berbagi pendapat, pengalaman dan minat kepada kelompoknya.
  3. Memenuhi kebutuhan masing-masing anggotanya.

Sementara fungsi adanya kelompok untuk masyarakat adalah:

  1. Berbagi peran yang ditentukan oleh jabatan dan posisi pekerjaan dalam kelompok.
  2. Melakukan tugas-tugas organisasi dan membuat anggota kelompok lainnya tetap fokus untuk menyelesaikan pekerjaan.
  3. Menguatkan identitas antara anggota kelompoknya.

Dari pembahasan mengenai kelompok sosial yang dijelaskan di atas, secara garis besarnya, kelompok sosial adalah sekumpulan orang yang saling berinteraksi secara tertib dan menerima keberagaman di antara individu. Sebagai hasil dari interaksi ini, para anggota kelompok mulai merasakan rasa memiliki yang kuat.

Posted on

7 Bentuk Interaksi Sosial

bentuk bentuk interaksi sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa dipungkiri akan selalu berhubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam proses menjalani kehidupan, manusia pastinya akan mengalami interaksi kepada orang lain dan dari sinilah interaksi sosial terbentuk. Secara umum, bentuk interaksi sosial ada banyak sekali.

Namun klasifikasi bentuk interaksi sosial dibagi menjadi dua, yakni asosiatif dan disosiatif. Namun, apakah yang membedakan keduanya? Untuk lebih mengetahui bentuk-bentuk dari interaksi sosial dan contohnya, berikut adalah ulasannya.

Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif

Sesuai dengan namanya, yakni asosiatif, maka bentuk interaksi sosial satu ini tentunya mempunyai pola hubungan yang bagus. Pola interaksi sosial yang terjadi bisa menciptakan sebuah kerja sama yang memberikan feedback bagus pada masing-masing orang yang terlibat.

Kerja sama bisa tercipta selama masing-masing orang dalam kelompok mempunyai gagasan dan mindset yang sama untuk mencapai kepentingan yang sama. Beberapa jenis tujuan positif yang dihasilkan dari interaksi sosial asosiatif itu sendiri adalah:

1. Kerja Sama

Definisi kerja sama adalah ketika orang-orang saling bantu membantu untuk mencapai hasil atau tujuan bersama. Kerja sama sendiri mempunyai beberapa jenis, di antaranya adalah:

–       Joint Venture

Joint Venture dapat digambarkan sebagai pengaturan bisnis, antara 2 atau lebih perusahaan independen yang kemudian perusahaan-perusahaan itu berkumpul dan membentuk sebuah usaha baru secara hukum dengan jangka waktu tertentu. Usaha baru ini tentunya dibuat untuk memenuhi tujuan tertentu seperti menyelesaikan tugas, aktivitas, atau proyek.

Baca juga: 5 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

–       Bargaining

Bargaining adalah perundingan atau bentuk sederhana dari proses negosiasi distributif. Bargaining diartikan sebagai bentuk kerja sama dua organisasi atau lebih yang merundingkan tentang perjanjian pertukaran barang dan sebagainya.

–       Gotong Royong

Kehidupan bermasyarakat di Indonesia memang tidak pernah terlepas dari adanya gotong royong. Gotong royong sendiri merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh setiap warga di sebuah daerah dan dilakukan dengan sukarela. Contoh gotong royong adalah membersihkan lingkungan RT bersama-sama.

–       Koalisi

Koalisi adalah bentuk kerja sama kelompok organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Koalisi biasanya sering terjadi pada organisasi politik.

–       Kooptasi

Kooptasi adalah sebuah tindakan atau perilaku mengooptasi sesuatu. Melakukan pengambilalihan atau kerja sama untuk menjalin tujuan baru atau berbeda dari yang sebelumnya agar terhindari dari adanya konflik.

2.  Akomodasi

Akomodasi merupakan sebuah proses antar individu untuk menyesuaikan diri pada perbedaan pandangan yang untuk mencegah pertikaian. Adanya akomodasi sangat membantu meredakan pertikaian dan mencegah konflik karena bisa meleburkan dua pandangan yang berbeda. Akomodasi sendiri terdiri dari beberapa bentuk, di antaranya adalah:

–       Koersi

Koersi adalah usaha membujuk individu atau suatu kelompok untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan. Koersi terjadi karena adanya paksaan dari satu kelompok ke kelompok lain yang dianggapnya lemah.

–       Kompromi

Kompromi adalah situasi di mana orang menerima sesuatu yang sedikit berbeda dari apa yang sebenarnya diinginkan karena keadaan atau karena mempertimbangkan keinginan orang lain. Adanya kompromi memudahkan pemecahan masalah bersama.

–       Arbitrase

Arbitrase adalah proses yang melibatkan pihak ketiga untuk membantu menyelesaikan pertikaian yang tidak bisa ditangani oleh kedua belah pihak. Arbitrase merupakan bentuk akomodasi yang melibatkan pihak ketiga untuk mengambil keputusan tentang sengketa setelah argumen masing-masing pihak masih tidak bisa menyelesaikan masalah.

–       Mediasi

Mediasi adalah salah satu metode penyelesaian sengketa alternatif. Mediasi menjadi solusi bagi kedua belah pihak yang bertikai dan tidak bisa mencapai kompromi. Mediasi pada dasarnya adalah negosiasi yang dibantu oleh pihak ketiga.

–       Konsiliasi

Konsiliasi adalah bentuk akomodasi yang sama seperti mediasi. Konsiliasi menggunakan pihak ketiga yang dianggap independen dan netral untuk menciptakan forum guna membahas masalah dan mencari solusi.

Perbedaan utamanya dengan mediator adalah, konsiliator memiliki peran yang lebih langsung dalam penyelesaian masalah dan membantu para pihak mempertimbangkan hasil solusi. Sementara seorang mediator hanya memandu diskusi permasalahan.

–       Toleransi

Toleransi merupakan bentuk akomodasi yang tidak mengharuskan persetujuan secara resmi dari berbagai pihak karena sifatnya yang datang secara naluriah. Toleransi tercipta dengan sendirinya untuk menjaga keutuhan dan kesatuan dan menghindari perpecahan.

–       Stalemate

Stalemate merupakan bentuk dari akomodasi yang terjadi apabila ada dua buah kelompok mempunyai pertentangan namun saling mempunyai kendali untuk tetap seimbang sehingga mencegah konflik berkelanjutan.

3. Akulturasi

Akulturasi adalah proses menerima berbagai unsur budaya baru dalam kehidupan bermasyarakat tanpa harus menghilangkan budaya yang lama. Akulturasi merupakan salah satu proses yang paling dibutuhkan dalam masyarakat agar mau menyadari perubahan yang terjadi dan menerimanya.

4. Asimilasi

Asimilasi adalah mengadopsi sikap, nilai, pola berpikir dan budaya kelompok lain dan membuat sebuah pola kehidupan yang baru. Asimilasi terjadi karena saling menerima dan atas dasar kesepakatan bersama.

Bentuk Interaksi Sosial Disosiatif

Setelah mengetahui bentuk-bentuk interaksi sosial asosiatif, maka bentuk interaksi sosial yang selanjutnya adalah kebalikan dari asosiatif, yakni disosiatif. Bentuk dari interaksi sosial disosiatif ini sendiri terbagi menjadi tiga jenis, di antaranya adalah:

1. Kompetisi atau Persaingan

Kompetisi adalah proses sosial yang hampir selalu ditemukan dalam setiap bidang kehidupan manusia. Di manapun ada interaksi antara individu dan kelompok yang berbeda, maka selalu ada elemen kompetisi. Kompetisi bisa disebut sebagai pergulatan antara dua individu atau lebih, yang berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap prestise.

Kompetisi biasanya mengacu pada tujuan yang sama oleh individu atau kelompok untuk berlomba-lomba yang mencapai atau mendapatkannya. Persaingan adalah proses yang selalu berkelanjutan sampai tujuan bisa tercapai atau hilang.

Persaingan atau kompetisi ini selalu hadir di setiap bidang kehidupan. Misal, anggota masyarakat mencoba bersaing meraih status sosial yang lebih tinggi.

2. Kontravensi

Kontravensi adalah tindakan yang melanggar hukum, perjanjian atau kesepakatan secara tersembunyi yang dibuat. Kontravensi merupakan bentuk penolakan yang dilakukan secara diam-diam demi menghindari adanya konflik terbuka. Ada 5 macam kontravensi, di antaranya adalah:

  1. Kontravensi rahasia, menyebarkan rahasia kepada pihak lawan atau melakukan pengkhianatan.
  2. Kontravensi umum, melakukan protes dan perlawanan dengan melakukan intimidasi kepada pihak lawan.
  3. Kontravensi intensif, menghasut dan menyebarkan kabar burung atau desas-desus yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
  4. Kontravensi taktis, merencanakan pelanggaran dengan langkah-langkah yang taktis seperti melakukan provokasi atau serangan pada pihak lawan.

3.  Konflik Sosial

Konflik sosial adalah persaingan atau perebutan kekuasaan dalam masyarakat. Konflik sosial biasa terjadi ketika dua kelompok atau lebih saling bertentangan dalam interaksi sosial dan mengerahkan kekuatan sosial yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang diperdebatkan.

Konflik sosial juga bisa terjadi hanya karena adanya selisih paham yang kemudian menjadi isu yang besar dan dipermasalahkan. Konflik sosial biasa ditandai dengan adanya ancaman, intimidasi dan perlawanan.

Dari berbagai bentuk interaksi sosial yang sudah dijelaskan di atas, sudahkah Anda memahami mana yang termasuk dalam bentuk interaksi sosial asosiatif dan disosiatif di sekitar Anda?

Posted on

Interaksi Sosial: Pengertian, Contoh dan Tujuan

pengertian interaksi sosial

Manusia hidup dipengaruhi oleh norma dan kepercayaan budaya dan masyarakat yang diyakininya. Norma dan kepercayaan ini hadir dari sebuah interaksi sosial. Dikarenakan manusia adalah makhluk sosial, maka manusia memerlukan adanya sosialisasi untuk memperkenalkan dirinya dan juga mengenal orang lain.

Sosialisasi inilah yang disebut interaksi sosial, bagaimana manusia satu dengan yang lainnya saling berkomunikasi dan berhubungan. Sebab bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan harus mengenal orang lain dalam prosesnya menjalani hidup. Berikut materi tentang interaksi sosial, bentuk-bentuk interaksi sosial dan syarat interaksi sosial.

Pengertian dari Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah tindakan, atau praktik dari dua orang atau lebih yang saling berorientasi pada diri masing-masing. Tindakan atau perilaku ini bisa berbentuk apapun yang mencoba mempengaruhi atau mempertimbangkan pengalaman atau niat subjektif satu sama lain.

Interaksi sosial merupakan tindakan yang dinamis dan bisa berubah antara satu orang ke orang lain. Interaksi itu kemudian bisa mengubah perilaku karena tindakan dari orang yang diajak berinteraksi dalam sebuah peristiwa.

Dengan kata lain, peristiwa itu adalah kejadian yang membuat orang-orang memaknai suatu situasi, menafsirkan apa yang dimaksud orang lain, dan meresponsnya atau memberikan feedback.

Dalam ilmu sosial, hubungan yang tercermin dalam interaksi sosial mengacu pada hubungan antara dua, tiga orang lebih pada sekelompok orang. Berikut adalah pengertian interaksi sosial menurut para ahli:

1.     Soerjono Soekanto

Interaksi sosial adalah basis dari sebuah proses sosial antar satu orang dengan kelompok, antar kelompok dengan yang lain dan sebagainya sehingga menimbulkan hubungan sosial yang senantiasa dinamis.

2.      Astrid . S. Susanto

Interaksi sosial merupakan hubungan antara individu yang menghasilkan koneksi dan jalinan yang terus menerus menyambung sehingga terbentuklah sebuah struktur sosial. Baik nilai dan arti dalam menginterpretasikan peristiwa pada satu orang dan orang lain, semua tergantung pada proses interaksinya.

3.     Gillin and Gillin

Interaksi sosial merupakan sebuah bentuk hubungan sosial yang berlaku sangat dinamis antara satu individu dengan yang lainnya, satu individu dengan sebuah kelompok, dan antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya.

4.      Maryati dan Suryawati

Interaksi sosial merupakan hubungan yang menghasilkan feedback atau adanya respons dari seseorang ke orang lain, seseorang ke kelompok atau kelompok ke kelompok lainnya.

5.     Bonner

Interaksi sosial merupakan sebuah hubungan antara dua orang atau bisa lebih yang mana hubungan itu kemudian saling memberi pengaruh dan mampu mengubah perilaku orang tersebut.

Contoh Interaksi Sosial

Disadari atau tidak, sebenarnya interaksi sosial sering terjadi di sekitar Anda, entah keadaan itu datang dengan sendirinya atau secara spontan. Berikut adalah beberapa contoh interaksi sosial yang dikategorisasikan dalam sektor kehidupan. Apa sajakah itu?

1.     Keluarga

Dalam sebuah keluarga pastinya terdiri dari ayah selaku kepala rumah tangga, ibu dan anak-anak yang menjadi anggotanya. Keluarga adalah tempat pertama munculnya interaksi sosial.

Anak yang menawarkan bantuan kepada ibunya untuk mencuci piring, ibu yang mengajak ayah dan anaknya makan bersama dan ayah yang membelikan hadiah untuk ibu dan anaknya merupakan beberapa contoh nyata dari adanya interaksi sosial dalam sebuah keluarga.

2.     Kegiatan Sosial

Ada banyak sekali kegiatan sosial yang hadir di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Contoh dari interaksi pada kegiatan sosial adalah membantu terselenggaranya program Pos Pelayanan Terpadu, mengikuti acara amal atau ikut program relawan.

Anda yang tergerak sekali dalam kegiatan-kegiatan sosial, bisa mengikuti berbagai program amal yang mencari relawan. Program-program semacam itu menimbulkan interaksi sosial kepada banyak individu dan juga antar kelompok.

3.      Ekonomi

Contoh interaksi sosial juga muncul dalam sektor ekonomi tentunya. Dari hal yang paling sederhana, misal Anda belanja di pasar dan melakukan tawar menawar harga dengan pedagang, maka itu juga bagian dari interaksi sosial.

Contoh lain adalah jika Anda seorang karyawan di sebuah perusahaan dan Anda mendapatkan teguran atas kinerja Anda selama di kantor, kemudian teguran itu menjadi acuan bagi Anda untuk memperbaiki kinerja. Nah, perilaku memperbaiki kinerja Anda di kantor adalah bagian dari feedback interaksi sosial.

4.     Masyarakat

Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari statusnya sebagai makhluk sosial yang tetap membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Manusia hidup berdampingan dengan masyarakat di sekitarnya dan tidak bisa dielakkan bahwa interaksi sosial akan timbul.

Contoh interaksi sosial dalam masyarakat ini banyak sekali. Mulai dari menyapa orang yang dikenal jika bertemu di jalan, berbagi makanan atau apa yang dipunya kepada tetangga, membantu hajatan tetangga, ikut kerja bakti, musyawarah warga rutinan dan  masih banyak lagi.

5.     Politik

Dalam ranah politik, interaksi sosial juga bisa hadir dalam sektor ini. Contoh sederhana interaksi sosial  dalam sektor politik adalah ketika ada pemilihan gubernur. Calon gubernur pasti akan membentuk sebuah tim kampanye. Pembentukan tim kampanye ini pasti akan melibatkan banyak sekali jenis interaksi antar satu individu pada individu begitu pula antar individu ke kelompok.

6.     Pendidikan

Ada banyak sekali contoh interaksi sosial dalam sektor pendidikan yang akan dihadapi oleh seorang individu maupun kelompok. Contoh, seorang guru yang mengajarkan pelajaran pada murid-muridnya di kelas dan meminta respon timbal balik pada siswanya dengan membuat kuis.

7.     Kebudayaan

Dua dari enam faktor yang mempengaruhi interaksi sosial adalah imitasi dan identifikasi. Contoh interaksi sosial dalam ranah kebudayaan biasanya dipengaruhi oleh imitasi dan identifikasi ini seperti anak-anak remaja di era milenial yang suka sekali meniru dance-dance ala budaya Korea.

Dengan proses imitasi dan identifikasi untuk bisa meniru gerakan dari budaya dari bangsa lain ini, anak-anak melakukan interaksi kepada sesama temannya yang juga menyukai budaya K-pop. Dari proses interaksi inilah, anak-anak kemudian menciptakan sebuah kelompok baru yang berasal dari hobi yang sama, yakni budaya K-pop.

Tujuan Interaksi Sosial

Munculnya interaksi sosial mempunyai beberapa tujuan yang positif untuk kehidupan masyarakat. Sebab tanpa ada interaksi sosial, maka manusia mungkin sulit untuk bertahan hidup di lingkungannya. Berikut adalah tujuan dari adanya interaksi sosial:

  1. Lebih mengenal orang yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali.
  2. Menjalin hubungan yang harmonis kepada sesamanya.
  3. Membangun sebuah kerjasama yang saling menguntungkan antara satu dengan yang lainnya di berbagai bidang.
  4. Memecahkan masalah yang timbul akibat perbedaan pendapat.
  5. Menirukan kebudayaan negara lain yang dirasa lebih maju untuk diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari tanpa menabrak norma yang berlaku.
  6. Membangun hubungan persahabatan yang erat.
  7. Membentuk sebuah kelompok dengan tujuan sosial.
  8. Masyarakat hidup dengan damai tanpa adanya perselisihan antara satu dengan yang lainnya.
  9. Ikatan emosi antar individu semakin terbangun dari menjalin hubungan sosial yang intens.
  10. Ide, gagasan, pendapat dan pemikiran yang berbeda bisa didiskusikan secara bersama-sama.

Tanpa adanya interaksi sosial dalam kehidupan seseorang, maka bisa jadi Anda akan merasakan kesulitan nantinya. Jika Anda mau melakukan interaksi sosial, maka Anda bisa menemukan teman, sahabat dan relasi yang tepat.

Posted on

Mobilitas Sosial: Pengertian, Dampak, Contoh dan Faktor Pendorong

contoh mobilitas sosial

Kesenjangan sosial adalah keadaan yang nyata pada kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya, pada realita kehidupan terdapat hierarki sosial yang digambarkan sebagai suatu tangga. Ada kelompok masyarakat yang berada di tangga bawah, tengah, dan atas. Ada mobilitas sosial yang dikenal sebagai mobilitas sosial antargenerasi atau intragenerasi.

Individu-individu yang sedang berusaha untuk mengubah posisi sosialnya bisa dikatakan sebagai mobilitas sosial. Tidak hanya berubah ke tingkat yang lebih tinggi, mobilitas sosial bisa berubah ke tingkat yang lebih rendah atau pindah posisi pada strata yang sama.

Pengertian Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial atau social mobility merupakan gerak perpindahan individu atau kelompok masyarakat dari satu lapisan ke lapisan lainnya atau gerak pindah dari satu kelas sosial ke kelas lainnya. Perpindahan yang terjadi bisa berupa peningkatan atau penurunan status sosial, meliputi pekerjaan atau penghasilan.

Baca juga: Stratifikasi Sosial

Dampak Mobilitas Sosial

Terjadinya mobilitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat memiliki beberapa dampak. Dampak mobilitas sosial yang terjadi bisa berupa dampak yang berpengaruh baik (positif) atau berpengaruh buruk (negatif). Berikut adalah dampak yang ditimbulkan akibat mobilitas sosial, yaitu:

Dampak Positif

  • Perubahan sosial masyarakat agar menjadi lebih maju dan berkembang berlangsung lebih cepat.
  • Mendorong terjadinya integrasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
  • Timbulnya keinginan pada individu untuk memperbaiki kehidupannya saat ini.

Dampak Negatif

  • Ikatan sosial dan solidaritas di antara kelompok masyarakat menjadi berkurang.
  • Adanya kompetisi yang tidak sesuai atau timpang.
  • Timbul konflik sosial antar individu dengan kelas yang berbeda atau antar kelompok dengan latar belakang yang berbeda. Seperti, perbedaan etnis, ras, suku, agama, bahkan generasi.
  • Adanya kecemasan dan ketakutan yang timbul sebagai bentuk gejala psikologis.

Jenis Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yang berbeda, mobilitas sosial vertikal dan mobilitas sosial horizontal. Berikut adalah penjelasan masing-masing jenis mobilitas sosial, yaitu:

Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial vertikal merupakan perpindahan yang terjadi pada individu atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang memiliki derajat berbeda. Perpindahan tersebut bisa ke strata yang lebih tinggi (social climbing) atau ke strata yang lebih rendah (social sinking).

Kedudukan sosial yang dimiliki seseorang tidak selamanya tetap dan bisa mengalami perubahan. Misalnya, karyawan yang tidak ingin menjadi bawahan seterusnya akan berusaha untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.

Terdapat ciri-ciri mobilitas sosial vertikal, yaitu:

  • Setiap warga masyarakat pada suatu negara memiliki kedudukan hukum yang sama.
  • Masyarakat yang bersangkutan merupakan masyarakat yang terbuka. Artinya, setiap kelas sosial yang ada pada kehidupan masyarakat tidak menutup kemungkinan terjadinya kenaikan atau penurunan kedudukan individu dalam masyarakat.
  • Perpindahan naik ke lapisan kedudukan yang lebih tinggi membutuhkan kemampuan individu dalam mengatasi proses pemilihan yang semakin susah.

Mobilitas sosial vertikal bisa terjadi pada orang yang sama atau keturunannya. Mobilitas vertikal intragenerasi adalah mobilitas sosial yang dilakukan oleh orang atau kelompok yang sama. Sementara itu, mobilitas sosial antargenerasi (intergenerasi) adalah mobilitas sosial yang dilakukan oleh keturunan, seperti anak atau cucu.

Baca juga: Kesenjangan Sosial

Mobilitas Sosial Horizontal

Mobilitas sosial horizontal terjadi ketika adanya perubahan kedudukan pada strata yang sama. Kedudukan individu bisa berubah naik atau turun pada strata yang sama. Perubahan terjadi tanpa adanya perubahan kedudukan individu tersebut, namun peran yang dipegang individu tersebut bisa berubah.

Apabila dihubungkan dengan gaji seseorang, maka mobilitas sosial horizontal tidak memengaruhi gaji. Walaupun pergeseran yang terjadi tidak menaikkan atau menurunkan posisi individu tersebut, namun bisa saja individu menghadapi beberapa kesulitan dalam melaksanakan tugas yang baru.

Misalnya, individu tersebut harus mempelajari beberapa hal dari awal atau melakukan penyesuaian dengan kelompok baru. Perubahan yang terjadi pada orang yang sama dikenal juga sebagai mobilitas sosial horizontal intragenerasi.

Selain intragenerasi, mobilitas sosial horizontal antargenerasi atau intergenerasi juga dapat terjadi. Jika orang tua dan anak memiliki pekerjaan yang berbeda dengan kedudukan sosial yang sama. Artinya, suatu generasi tidak menurunkan segalanya pada generasi selanjutnya.

Contoh Mobilitas Sosial Intragenerasi dan Mobilitas Sosial Antargenerasi

Banyak contoh kejadian mobilitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut merupakan beberapa contoh mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat, yaitu:

Mobilitas Sosial Vertikal Intragenerasi

  • Seorang guru fisika di SMA X telah bekerja cukup lama dan memiliki prestasi dan pangkat yang memenuhi, akhirnya memperoleh promosi jabatan menjadi kepala sekolah.
  • Seorang lurah yang memperoleh dukungan dari masyarakat, kemudian terpilih menjadi seorang bupati setelah mencalonkan diri.

Mobilitas Sosial Vertikal Antargenerasi

  • Seorang bapak memiliki usaha yang sukses di sebuah kota, namun anaknya memilih untuk menjadi seorang guru honorer.
  • Seorang ibu yang merupakan pedagang sayur keliling menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Anaknya bekerja di suatu perusahaan di kota besar.

Mobilitas Sosial Horizontal Intragenerasi

  • Seseorang yang bekerja sebagai manajer operasional dipindahkan menjadi manajer keuangan. Orang tersebut tetap memiliki gaji yang sama, walaupun melakukan tugas yang berbeda.
  • Seorang pegawai bank di kota X dipindahkan ke kota Y. Pegawai bank tersebut tidak mengalami perubahan jabatan, namun hanya berubah tempat kerja.

Mobilitas Sosial Horizontal Antargenerasi

  • Seorang ibu memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri di kantor pemerintah dan anaknya merupakan guru tetap di SMA negeri. Ibu dan anak tersebut memiliki kedudukan atau tingkat yang sama, namun peran yang dijalankannya berbeda.
  • Seorang ayah bekerja sebagai petani dengan lahan yang luas dan termasuk ke dalam golongan kelas menengah di masyarakatnya. Sementara itu, anaknya memilih menjadi seorang pedagang sukses di pasar. Ayah dan anak tersebut berada pada kelas sosial menengah di masyarakat.

Faktor Pendorong

Mobilitas sosial dapat terjadi dengan adanya beberapa faktor pendorong. Faktor pendorong tersebut akan memudahkan individu atau kelompok untuk melakukan mobilitas sosial.

Status Sosial

Individu yang berada pada status sosial rendah cenderung merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini. Hal tersebut menjadi faktor pendorong untuk melakukan mobilitas sosial untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi.

Keadaan Ekonomi

Situasi ekonomi yang positif akan mendorong seseorang untuk melakukan mobilitas sosial. Misalnya, menjalankan bisnis baru.

Kondisi Sosial Budaya

Situasi sosial budaya yang terdapat pada suatu wilayah bisa dilihat dari karakteristik penduduk wilayah tersebut. Jika karakteristik penduduk cenderung terbuka pada perubahan, artinya penduduk pada wilayah tersebut lebih mudah melakukan kegiatan mobilitas sosial.

Kondisi Politik

Situasi politik yang baik akan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial. Contohnya, pada negara demokrasi setiap individu diberikan kebebasan dalam menentukan kehidupannya.

Kondisi Geografis

Jika dilihat dari keadaan geografis, wilayah perkotaan cenderung menarik banyak individu untuk melakukan mobilitas sosial. Hal tersebut disebabkan adanya anggapan kota besar menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.

Latar Belakang Etnis

Beberapa etnis tertentu mengharuskan anak-anaknya merantau ke luar wilayah agar bisa melakukan mobilitas sosial.

Selain memiliki dampak yang positif, mobilitas sosial juga menimbulkan beberapa dampak negatif. Keinginan seseorang saja tidak cukup untuk melakukan mobilitas sosial, terdapat beberapa faktor penghambat yang mengakibatkan individu sulit melakukan perpindahan tingkatan.

Posted on

10 Faktor Pendorong Perubahan Sosial

faktor pendorong perubahan sosial

Perubahan sosial dapat terjadi secara disadari maupun tanpa disadari. Perubahan sosial yang terjadi secara cepat didukung oleh adanya faktor pendorong perubahan sosial dalam masyarakat. Kebudayaan dan lingkungan akan mempengaruhi individu dalam melakukan perubahan sosial. Tidak semua orang melakukan perubahan sosial, biasanya terjadi pada orang dengan pemikiran terbuka.

Terjadinya perubahan pada individu maupun kelompok diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih maju dan positif. Masyarakat akan berusaha untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk menutupi berbagai macam kekurangan dalam kehidupan yang dirasakan.

10 Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Ada banyak faktor yang bisa mendorong suatu masyarakat melakukan perubahan sosial. Faktor tersebut tidak hanya muncul dari keinginan dari dalam diri, ada beberapa hal yang timbul dari faktor luar. Berikut merupakan 10 faktor pendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat, yaitu:

Bisa Menerima Hal Baru (Inovasi) dengan Mudah

Sikap bisa menerima hal baru dengan mudah akan menciptakan adanya perubahan. Orang tua yang selalu berusaha untuk memperbaharui teknologi informasi, maka cenderung tidak tergolong sebagai orang yang konservatif. Saat ini perubahan teknologi terjadi sangat cepat dan tidak berhenti.

Kebanyakan orang tua merasa sulit untuk mengikuti adanya perubahan-perubahan yang terus berlangsung. Banyak orang tua merasa sulit untuk mempelajari hal baru dan mencoba beradaptasi dengan teknologi yang rumit.

Berbeda dengan anak-anak remaja atau baru dewasa yang cenderung selalu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang. Oleh karena itu, sikap dapat menerima inovasi dengan mudah merupakan faktor pendorong perubahan sosial.

Baca juga: 10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial 

Kontak dengan Budaya Lain

Ketika ada suatu kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan tertentu merasa terbuka dengan kebudayaan lainnya, maka pada kelompok masyarakat tersebut akan terjadi sebuah kontak kebudayaan. Di era serba digital ini, rasanya sangat mudah untuk mengetahui dan memahami budaya lain, bahkan budaya luar negeri.

Salah satu proses yang terjadi dikenal sebagai difusi. Difusi adalah proses penyebaran elemen yang berhubungan dengan kebudayaan. Difusi dapat menghasilkan sebuah penemuan baru yang telah diterima oleh suatu masyarakat, kemudian disebarluaskan ke masyarakat lainnya. Proses difusi seperti itu dapat mendorong pertumbuhan kebudayaan dan memperkaya kebudayaan.

Sehingga, kontak dengan kebudayaan lain sangat mungkin untuk dilakukan. Kontak budaya adalah hasil perpaduan dari dua kebudayaan atau lebih. Kontak budaya diharapkan memberikan dampak yang positif, misalnya mengurangi prasangka burung dengan kebudayaan lain yang berbeda dengan kebudayaan sendiri.

Hal tersebut akan mencegah terjadinya konflik-konflik sosial akibat kebudayaan yang berbeda.

Bisa Menghargai Hasil Karya

Penghargaan seperti Adipura yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat akan memberikan motivasi yang baik atau penghargaan Nobel. Penghargaan tersebut menjadi semangat yang besar untuk mendorong masyarakat berkembang dan maju agar bisa menjadi lebih baik lagi. Pemberian penghargaan adalah bentuk dari sikap menghargai terhadap hasil karya orang lain.

Keinginan untuk maju dan berkembang yang dimiliki individu juga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya. Keinginan dalam diri akan menjadi sebuah pendorong bagi individu tersebut untuk terus melakukan perubahan terhadap kondisi yang ada.

Sistem Pendidikan yang Maju

Sistem bisa dijelaskan sebagai bagian yang tidak dapat terpisah antara satu dengan yang lainnya, sehingga setiap bagian menjadi terhubung untuk menciptakan hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Sementara itu, sistem pendidikan yang baik harus bisa mengorganisir inovasi, sikap, kreasi, dan intelektual pengajar maupun peserta didik dengan fasilitas yang mendukung. Sistem pendidikan yang terorganisir dan baik diharapkan dapat mendukung perubahan sosial ke arah yang lebih maju dan baik.

Pendidikan dapat memberikan nilai-nilai penting bagi manusia, seperti cara berpikir secara ilmiah dan membuka pikiran secara lebih luas. Apabila pendidikan dikelola secara baik, maka pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, namun mendidikan siswa untuk bisa berpikir secara objektif dan kritis. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan agar siswa bisa menilai sesuatu lebih baik.

Baca juga: Nilai Sosial

Penduduk yang Heterogen

Heterogenitas adalah bentuk dari adanya perbedaan antara satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut memiliki arti dan lingkup yang sangat luas, misalnya budaya hingga pandangan terhadap politik. Semakin besar dan kompleks keberagaman, maka kehidupan masyarakat juga semakin dinamis.

Umumnya, terdapat keragaman opini maupun ide di dalam penduduk yang heterogen. Bermacam-macam opini dan ide akan terus mengalir untuk menciptakan sebuah inovasi yang baru. Penduduk yang beragam juga akan terpacu untuk mencoba berbagai hal yang baru. Keseragaman yang terjadi bisa dikatakan sebagai kondisi statis.

Masyarakat yang Terbuka

Sistem lapisan masyarakat yang terbuka dapat menciptakan sebuah peluang kepada orang-orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan perubahan sosial dalam hidupnya sendiri dan kehidupan bermasyarakat.

Open stratification yang ada pada kehidupan bermasyarakat memungkin terjadinya gerak sosial secara vertikal. Keadaan tersebut membuka kesempatan besar bagi individu untuk memperoleh jabatan atau tingkat yang lebih tinggi. Seseorang dapat melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dengan cara kerja keras serta melakukan perubahan-perubahan yang mendorong kemajuan.

Oleh karena itu, semakin terbuka sistem lapisan masyarakat maka peluang untuk melakukan perubahan yang lebih baik juga akan semakin besar.

Berorientasi pada Masa Depan

Masyarakat yang selalu memiliki orientasi terhadap masa depan biasanya akan menerima proses perubahan sosial secara lebih cepat. Individu tersebut memiliki pemikiran jangka panjang dengan pola pikir yang lebih terbuka. Masyarakat memiliki tujuan yang bisa diperoleh dengan cara melakukan perubahan sosial.

Masyarakat dengan orientasi masa depan akan lebih cepat maju dan berkembang dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki sikap tertutup. Berorientasi pada masa depan akan mendorong masyarakat untuk menerima serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai sosial sesuai dengan perkembangan budaya secara luas.

Rasa Tidak Puas Masyarakat terhadap Berbagai Hal dalam Kehidupan

Banyak masyarakat yang sadar bahwa ada kekurangan dalam kehidupannya. Perasaan tersebut menjadi pemicu masyarakat untuk melakukan perubahan. Masyarakat yang merasa dibatasi akan sadar dengan berbagai kebutuhan hidup. Rasa tidak puas selalu mendorong individu untuk bisa berubah menjadi lebih baik.

Kekurangan yang dirasakan oleh individu bisa dipenuhi dengan cara menjalin interaksi atau hubungan dengan masyarakat lainnya. Akhirnya, masyarakat akan mengubah cara pikir dan mulai mencoba berbagai hal baik dari kebudayaan luar.

Faktor Internalisasi Hakikat Manusia

Faktor dari dalam diri manusia yang menjadi faktor pendorong perubahan sosial dapat dilihat dengan adanya sifat manusia yang selalu berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Hal tersebut akan dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya pendidikan, bisnis, atau lainnya.

Apabila unsur-unsur tersebut disatukan, maka bisa menjadi sebuah pendorong terjadinya perubahan sosial positif dalam masyarakat.

Rasa Toleransi

Secara singkat, toleransi adalah sikap menghargai perbedaan tanpa memandang orang lain serta kebudayaan yang dimilikinya lebih rendah. Sikap toleransi dapat ditemui dengan mudah dalam diri orang-orang negara maju.

Misalnya, kota maju dengan penduduk mayoritas berkulit putih memiliki pemimpin dari golongan kulit hitam. Hal tersebut bisa terjadi karena pemikiran terbuka yang dimiliki oleh masyarakat.

Perubahan sosial muncul karena harapan masyarakat yang ingin membuat kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Individu atau masyarakat yang memiliki pemikiran terbuka dan mengetahui batasan-batasan akan menghasilkan perubahan sosial yang positif untuk dirinya maupun lingkungannya.

Posted on

10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

faktor penghambat perubahan sosial

Terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat diakibatkan adanya faktor pendukung untuk mewujudkannya. Namun, selain itu perubahan sosial juga bisa sulit terjadi karena adanya faktor penghambat perubahan sosial dalam masyarakat. Walaupun saat ini zaman sudah modern, namun masih banyak masyarakat yang menolak untuk mengikuti hal tersebut.

Pemikiran masyarakat yang sulit berubah akan menghambat terjadinya perubahan sosial. Hal tersebut terjadi karena sebagian masyarakat merasa bahwa perubahan sosial yang terjadi akan memiliki dampak yang buruk. Sehingga, masyarakat menolak sebuah perubahan sosial dalam masyarakat.

10 Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Saat ini terjadi banyak perubahan yang dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih maju. Namun, keinginan tersebut dapat terhambat dengan adanya faktor-faktor yang menghambat perubahan sosial. Berikut merupakan faktor penghambat perubahan sosial, yaitu:

Adat dan Kebiasaan

Setiap masyarakat dalam sebuah negara memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda, termasuk Indonesia. Adat serta kebiasaan adalah perilaku anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adat dan kebiasaan yang terdapat dalam sebuah masyarakat sulit atau tidak berubah ketika timbul krisis adat dan kebiasaan.

Saat ini, adat istiadat dan kebiasaan bisa dikatakan kurang efektif untuk dipakai dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat, adat dan kebiasaan yang sudah biasa digunakan akan sangat sulit untuk diubah. Hal tersebut menjadi faktor penghambat untuk melakukan perubahan sosial.

Baca juga: Faktor Penyebab Gejala Sosial

Timbul Rasa Khawatir terhadap Integrasi Masyarakat

Beberapa orang dalam kelompok masyarakat merasa khawatir bahkan takut dengan adanya perubahan di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena masyarakat memiliki anggapan bahwa perubahan bisa membuat integrasi masyarakat menjadi goyah.

Perubahan yang terjadi pada lapisan masyarakat juga dianggap bisa mengganggu tatanan sosial yang sudah berlangsung hingga saat ini. Contoh dari faktor ini adalah pemakaian traktor untuk mengolah lahan pertanian.

Awalnya, petani yang berada di desa menolak penggunaan traktor, karena dianggap bisa menghilangkan budaya gotong royong yang ada di antara petani. Tetapi, semakin berjalannya waktu, penggunaan traktor menjadi hal yang biasa dan banyak dilakukan sampai saat ini.

Hambatan Ideologis

Perubahan sosial di dalam masyarakat akan sulit terjadi jika berbeda dengan suatu paham atau ideologi yang terdapat pada suatu kelompok masyarakat. Hal tersebut timbul karena setiap perubahan yang berhubungan dengan keyakinan akan ditolak. Penolakan dari masyarakat hadir karena anggapan yang bertentangan dengan ideologi yang ada.

Contoh hambatan ideologis yang terjadi, seperti sebelum pembangunan jalan besar dilakukan di suatu daerah, masyarakat perlu melakukan ritual terlebih dahulu. Tetapi, ada juga pembangunan yang tidak perlu dilalui dengan ritual terlebih dahulu. Bagi penganut paham tertentu, pembangunan jalan tersebut bisa ditolak karena dianggap bertentangan dengan ideologi yang diyakini.

Sikap Tertutup

Salah satu faktor penghambat perubahan sosial yang masih banyak ditemukan adalah sikap tertutup yang dimiliki oleh masyarakat. Sikap tertutup atau yang dikenal sebagai sikap konservatif adalah rasa takut untuk melakukan perubahan untuk menuju sebuah kemajuan.

Masyarakat yang memiliki sikap tertutup berpikiran apabila setiap unsur atau elemen yang datang dari luar merupakan ancaman bagi diri dan lingkungannya. Sikap tertutup biasanya dirasakan oleh masyarakat yang pernah merasakan penjajahan oleh bangsa lain.

Masyarakat yang pernah dijajah akan menganggap bahwa hal-hal yang datang dari negara penjajah adalah suatu hal yang buruk dan negatif. Apabila masyarakat ingin melakukan dan mencapai sebuah perubahan sosial, artinya sikap konservatif harus dihindari.

Kepentingan yang Tertanam

Nilai-nilai yang telah ada di masyarakat dalam waktu yang lama akan memunculkan kepentingan-kepentingan kolektif. Hal tersebut tentu dapat menghambat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Hakikatnya setiap perubahan yang terjadi akan meninggalkan nilai-nilai tradisional yang telah ada.

Hadirnya perubahan memiliki tujuan untuk memunculkan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Masyarakat tidak ingin nilai-nilai yang sudah ada menjadi hilang digantikan dengan nilai baru. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa menghilangkan berbagai kepentingan untuk bisa mewujudkan perubahan sosial.

Prasangka terhadap suatu Hal yang Baru

Sebuah prasangka buruk yang muncul terhadap hal baru dalam masyarakat bisa menjadi faktor penghambat perubahan sosial. Saat ada hal baru yang datang, timbul rasa khawatir dari sebagian masyarakat. Apabila merasakan prasangka buruk, sebagian orang dalam masyarakat tersebut akan memengaruhi anggota lainnya untuk menolak terjadinya perubahan tersebut.

Umumnya, masyarakat merasa asing dan tidak terbiasa dengan hal-hal yang baru. Sehingga, timbul stigma negatif di pikiran masyarakat bahkan sebelum perubahan dilakukan. Anggota masyarakat akan berusaha untuk menolak dan melakukan tradisi yang sudah ada.

Hakikat Hidup

Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan orang-orang yang percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan diatur oleh Tuhan, tanpa ada usaha apa-apa yang dilakukan orang tersebut. Dorongan untuk melakukan perubahan atau penghambat perubahan sosial juga akan selalu hadir dalam masyarakat.

Pendorong maupun penghambat perubahan akan bergantung pada kekuatan masyarakat untuk menanggapi hal tersebut. Apabila dorongan lebih besar daripada hambatan, maka perubahan sosial bisa saja terjadi. Namun, apabila hambatan lebih besar, maka perubahan sosial akan sulit terwujud.

Sikap Tradisional Masyarakat

Banyak anggota masyarakat yang masih berpegang pada sikap tradisional, karena dianggap memberikan banyak kemudahan. Tradisi yang sudah hadir dalam waktu yang lama dijadikan sebuah warisan yang harus dilestarikan dan tidak bisa diubah.

Pola pikir masyarakat yang tradisional akan menghambat terjadinya perubahan sosial. Masyarakat yang tertutup dan ingin bertahan dengan kepemimpinan masyarakat cenderung lebih sulit untuk berubah.

Hubungan Antar Masyarakat Lain yang Minim

Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan kehadiran orang lain untuk melakukan interaksi. Oleh karena itu, masyarakat yang jarang berinteraksi atau berhubungan dengan masyarakat lainnya akan merasakan perubahan yang lebih lambat.

Masyarakat tidak memiliki pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat lain, yang nantinya tidak akan memperkaya kebudayaan yang dimiliki. Individu akan terisolasi dengan budaya yang dimiliki serta pemikiran tradisional tanpa bisa berkembang. Hal tersebut akan sangat menghambat adanya perubahan sosial.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Lambat

Perkembangan ilmu yang lambat dapat terjadi akibat terbatasnya pergaulan masyarakat. Individu yang tidak memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu lebih banyak akan memengaruhi perubahan sosial. Pola pikir individu menjadi terbelakang dan bisa menimbulkan pandangan yang negatif terhadap orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.

Ilmu pengetahuan juga termasuk teknologi-teknologi yang semakin berkembang. Orang-orang yang tidak terbiasa dan sulit menerima perkembangan teknologi akan memiliki pemikiran yang lebih sempit. Akhirnya, masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang tertinggal, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lambat.

Ilmu adalah salah satu hal yang penting untuk mendukung terjadinya sebuah perubahan. Tanpa adanya ilmu, masyarakat tidak akan menyadari bahwa banyak hal positif yang dapat diperoleh dengan adanya perubahan sosial. Masyarakat akan mencoba menolak, karena pola pikirnya yang tidak memandang jauh dan cenderung sempit.

Faktor-faktor yang bisa menghambat perubahan sosial biasanya ditemukan dalam kehidupan masyarakat desa atau masyarakat yang teguh dengan adat. Hal tersebut memang sulit untuk diubah dan membutuhkan pendekatan yang baik apabila perubahan ingin dilakukan di tempat tersebut.

Posted on

Stratifikasi Sosial: Pengertian, Contoh, Dampak Fungsi dan Jenis

stratifikasi sosial

Stratifikasi Sosial – Pada kenyataannya, ternyata tingkatan masyarakat adalah hal yang terjadi. Hal tersebut menjadikan banyak orang semena-mena dengan orang yang dianggap memiliki tingkat lebih rendah dibandingkan dengan dirinya. Hal tersebut dikenal dengan stratifikasi sosial, yang menurut sifatnya dibagi menjadi stratifikasi sosial terbuka dan stratifikasi sosial tertutup.

Sebenarnya, keberadaan tingkatan-tingkatan masyarakat sudah ada sejak lama. Keberadaan lapisan masyarakat tersebut bisa menimbulkan berbagai hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat diperlukan untuk tidak memanfaatkan keberadaan tingkatan masyarakat untuk hal yang buruk.

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial adalah sebuah pembeda yang mengategorikan masyarakat menjadi beberapa kelas secara vertikal yang diwujudkan dalam bentuk tingkatan masyarakat paling tinggi sampai paling rendah. Stratifikasi sosial terbentuk dari kebiasaan individu dalam berhubungan dengan individu lainnya yang teratur dan tersusun.

Dalam kehidupan masyarakat yang memiliki taraf kebudayaan sederhana, lapisan yang terbentuk masih sedikit. Sedangkan dalam kehidupan masyarakat modern lapisan masyarakat yang terbentuk menjadi lebih tajam dan kompleks. Secara mudah, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai suatu pembeda yang menggolongkan masyarakat ke dalam suatu lapisan hierarki.

Baca juga: Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Contoh Stratifikasi Sosial

Terdapat banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang memperlihatkan bahwa stratifikasi sosial adalah nyata. Beberapa contoh stratifikasi sosial yang terjadi, yaitu:

  • Seseorang yang memiliki tingkat ekonomi yang baik bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang tinggi dibandingkan dengan orang dengan perekonomian rendah.
  • Walaupun memiliki pekerjaan yang sama tetapi petani dapat digolongkan menjadi petani dengan lahan sendiri, petani penggarap dan penyewa, dan buruh tani.
  • Orang yang memiliki banyak uang bisa berobat ke rumah sakit dengan kualitas yang bagus, berbeda dengan orang miskin yang hanya bisa berobat ke rumah sakit yang menerima pengajuan bantuan untuk orang miskin.
  • Di Bali, seseorang bisa memperoleh sebuah posisi dan nama berdasarkan kastanya sejak dilahirkan. Oleh karena itu, seseorang akan sulit untuk berpindah ke kasta lainnya. Orang yang berada dalam kasta tinggi akan sulit berubah menjadi kasta yang lebih rendah, kecuali seseorang melakukan sebuah kesalahan yang berat. Hal ini termasuk ke dalam stratifikasi sosial tertutup.

Dampak Stratifikasi Sosial

Keberadaan stratifikasi sosial di masyarakat memiliki banyak dampak, baik itu dampak positif atau negatif. Beberapa dampak stratifikasi sosial yang terjadi, yaitu:

Dampak Positif Stratifikasi Sosial

  • Pemerataan pembangunan di setiap daerah yang semakin meningkat sebagai upaya untuk menghilangkankan adanya kesenjangan sosial.
  • Muncul sebuah kemauan dari individu dalam masyarakat untuk bersaing berpindah ke tingkatan yang lebih tinggi, sehingga individu lebih bekerja keras untuk menghasilkan sebuah prestasi.

Dampak Negatif Stratifikasi Sosial

  • Konflik di antara Kelas

Di masyarakat terdapat sebuah tingkatan sosial berdasarkan pendidikan, kekuasaan, dan kekayaan. Kelompok-kelompok tersebut dikenal sebagai kelas sosial. Jika terdapat sebuah perbedaan kepentingan di antara kelas sosial maka konflik antar kelas akan muncul. Misalnya, demonstrasi yang dilakukan buruh untuk menuntut kewajiban dari perusahaan.

  • Konflik di antara Kelompok Sosial

Masyarakat yang majemuk dan beragam bisa menjadi latar belakang munculnya kelompok sosial. Beberapa kelompok sosial terbentuk berdasarkan agama, ras, suku, ideologi, atau profesi. Hal tersebut bisa memunculkan keinginan untuk menguasai kelompok sosial lainnya yang dilakukan dengan cara pemaksaan yang mengakibatkan konflik kelompok sosial.

  • Konflik Antargenerasi

Konflik ini bisa terjadi apabila generasi tua yang berusaha untuk mempertahankan adat serta nilai yang sudah lama berlaku dengan generasi muda yang ingin melakukan perubahan yang dilakukan secara modern. Misalnya, hilangnya sopan santun atau tidak digunakannya musyawarah sebagai cara untuk mengambil keputusan.

Baca juga: Gejala Sosial: Bentuk dan Dampak

Fungsi Stratifikasi Sosial

Keberadaan stratifikasi sosial memiliki banyak fungsi. Berikut adalah beberapa fungsi stratifikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu:

  • Stratifikasi sosial berfungsi untuk mengatur, menyusun, serta mengawasi hubungan antar anggota masyarakat. Stratifikasi sosial akan mengatur partisipasi individu dalam kehidupan secara menyeluruh. Terlepas dari adanya tingkatan strata yang dimiliki oleh individu, peran stratifikasi sosial adalah untuk mengatur partisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat.
  • Stratifikasi sosial merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tugas utama. Setiap strata akan ditandai dengan simbol yang menunjukkan standar atau ranking dalam kehidupan. Semuanya diatur untuk melakukan perannya masing-masing. Penghargaan masyarakat untuk orang-orang yang melakukan tugasnya dilihat sebagai sebuah insentif agar bisa melakukan pekerjaan lebih baik.
  • Distribusi hak-hak istimewa secara obyektif untuk berbagai kepentingan. Misalnya, penentuan tingkat kekayaan, penghasilan, wewenang, serta keselamatan pada kedudukan seseorang.
  • Alat solidaritas yang ada antara orang-orang atau kelompok yang berada dalam kelas sosial yang sama.
  • Sebagai penentu simbol status, misalnya cara berpakaian, bentuk rumah, atau tingkah laku.

Jenis Stratifikasi Sosial

Terdapat beberapa jenis stratifikasi sosial yang ada di dalam masyarakat. Beberapa jenis stratifikasi sosial, yaitu:

Hierarki Kelas (Class Hierarchies)

Hierarki kelas merupakan jenis stratifikasi sosial yang didasarkan pada penguasaan barang atau jasa. Misalnya, di Indonesia masyarakat dikelompokkan menjadi masyarakat kaya, menengah, dan miskin. Pengelompokan tersebut terjadi dengan melihat kriteria yang sudah ditetapkan oleh BPS atau Biro Pusat Statistik.

Setiap tahun BPS akan mengeluarkan batasan perbedaan pendapatan per kapita per tahun yang dibedakan berdasarkan wilayahnya. Berdasarkan BPS, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi standar tertentu yang merupakan kebutuhan dasar.

Hierarki Status (Status Hierarchies)

Hierarki status merupakan stratifikasi sosial yang dibuat berdasarkan pembagian status sosial. Jenis stratifikasi ini menggolongkan masyarakat ke dalam dua golongan, golongan masyarakat biasa dan golongan masyarakat yang disegani. Golongan masyarakat yang disegani biasa memiliki gaya hidup yang mewah serta eksklusif.

Stratifikasi sosial ini diwujudkan sebagai bentuk pembatasan terhadap pergaulan dengan orang yang berada dalam golongan yang lebih rendah. Misalnya, di dalam lingkungan kerajaan menganggap bahwa anggota kerajaan yang menikah dengan masyarakat yang bukan berasal dari golongannya adalah hal yang menyimpang.

Hierarki Kekuasaan (Power Hierarchies)

Hierarki kekuasaan merupakan stratifikasi sosial yang dibuat berdasarkan kekuasaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Kekuasaan merupakan kemampuan yang dimiliki untuk memengaruhi masyarakat dan memengaruhi pembuatan sebuah keputusan. Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat dua kelas masyarakat, yaitu kelas yang berkuasa dan yang dikuasai.

Kelas yang berkuasa memiliki jumlah yang lebih kecil dan berperan dalam melakukan fungsi politik serta menikmati berbagai keuntungan dari kekuasaan tersebut. Sementara itu, kelas yang dikuasai berjumlah lebih besar dan dikendalikan oleh kelas yang berkuasa.

Perbedaan Stratifikasi Sosial Terbuka dan Tertutup

Jika dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi stratifikasi sosial terbuka dan stratifikasi sosial tertutup. Stratifikasi sosial yang bersifat terbuka bersifat dinamis dan anggota strata yang berada di dalamnya bisa melakukan mobilitas. Misalnya, orang yang miskin dengan keinginan dan kerja keras dapat menjadi orang yang kaya.

Stratifikasi sosial tertutup merupakan tingkatan masyarakat yang anggotanya sulit melakukan mobilitas vertikal. Misalnya, keberadaan sistem kasta, feodal, atau rasialis. Namun, selain sifat terbuka dan tertutup ada juga yang dikenal sebagai stratifikasi sosial campuran.

Misalnya, orang yang memiliki kedudukan terhormat di Bali, saat ia pindah dari Bali, ia bekerja sebagai pekerja kasar dan tidak dianggap memiliki kedudukan terhormat. Ia harus berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku.

Walaupun keberadaan stratifikasi sosial sulit dihilangkan, namun hal-hal yang menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat dapat dikurangi. Perasaan saling menghargai antar sesama akan membuat orang merasa dihargai dan tidak akan menimbulkan konflik karena perbedaan kepentingan.